Saya yang dikenal begitu gigih dalam memperjuangkan sesuatu tiba-tiba melempem. Gairah berdoa saya lenyap, kalaupun sampai ada jam-jam doa itu semua terjadi karena saya tidak ingin hal yang lebih buruk terjadi dalam hidup saya bukan gairah untuk menghampiri TUHAN dan menikmati hal-hal yang adikodrati dalam hadiratNYA. Semangat pelayanan saya pun hancur berkeping-keping, kalaupun melayani tapi tetap dalam kebekuan hati saya bukan dengan api yang menyala-nyala.
Inikah padang gurun itu? Ketika hidup hanya menyuguhkan pemandangan yang monoton, dan langkah kaki di arahkan untuk terus berjalan lurus? Ketika desau angin yang kencang membuat saya begitu takut? Tidak ada pepohonan, tidak ada danau yang indah, tidak ada tepian pantai, saya ada di hamparan luas padang gurun. Saya hanya mengimani tak jauh dari saya melangkah ada satu Pribadi yang mengawasi, memperhatikan, dan terus menjagai saya. Saya hanya terus berharap keyakinan akan hal ini ada dalam hati saya, sebab kalau tidak … bisa-bisa saya berpendapat. .. kematian jauh lebih baik dari pada hidup dalam keadaan yang saya rasakan waktu itu.
Hingga di suatu pagi ketika saya sibuk dengan notebook saya di suatu tempat untuk suatu acara. Dari balik arah belakang saya duduk ada yang menyapa,\Selamat pagi Riris, Apa kabarmu hari ini?\” Tiba-tiba hati saya menghangat, bergetar (saya tidak bisa menggambarkan seperti apa getaran itu, yg pasti bukan karena asmara), dan tiba-tiba saya merasa hadiratNYA turun sontak dan lembut. Saya ingin menangis saat itu juga.
Saya tercenung sesaat, menoleh ke sumber suara memastikan kalau memang ada seseorang yang berbicara dengan saya. Yah, ternyata memang ada seseorang berwajah oriental yang bicara dengan saya wajahnya bersinar - sinar (hati saya pun kian bergetar). Dalam hati saya berseru,\”Yesus!\” sambil terus memastikan akal sehat saya bahwa yang bicara dengan saya adalah rekan saya yang berwajah oriental itu, dan bukan Yesus.
Mengapa saya bingung? Karena sebenarnya banyak orang yang menyapa saya \”Riris apa kabarmu hari ini\” bukan dia saja, tapi mengapa hari itu seolah Yesus sendiri yang menyapa saya?
Yang jelas, setelah kejadian itu. Hidup saya kembali hidup. Saya menjalani hidup dengan sadar penuh. Ada nyanyian pujian, bibir saya tak lagi beku dan berat untuk mengucapkan syukur. Ibadah saya pun diperbarui. Semangat untuk menerobos semua kesulitan yang saat ini kami hadapi mulai menyala. Sesederhana itukah cara Tuhan mengobati saya yang sedang \”sakit\” parah?
Yes, Yesus hadir dalam wajah oriental teman saya. Menyapa saya melalui suaranya. DIA hadir dalam keberadaan anak-anakNYA. Dan saya bersyukur kalau keterlibatan saya yang begitu kecil dalam pelayanan besar waktu itu, memberikan dampak yang besar dalam hidup saya. Membangkitkan rohani saya yang sekarat, menyadarkan hasrat hidup saya yang sedang pingsan.
Ini adalah sebuah pelajaran bahwa keajaiban bisa saja terjadi dari dalam diri setiap kita. Bahwa ketika kita menyapa seseorang dengan tulus, bisa memberikan dampak yang luar biasa. Yesus mau menyapa orang-orang dalam wajah oriental , dalam wajah orang Irian, dalam wajahku yang Jawa tulen. Mengapa? Karena DIA tinggal dalam hati kita yang percaya kepadaNYA. Yesus mau memakai kita untuk menjadi saluran keajaibanNYA, maukah kita? Seringkali bukan karena tidak bisa, tapi karena kita tidak mau merespons dengan tepat.
Jakarta, 20 November 2008
Gedung AMS, Jl. Sangaji No. 18
keajaiban kecil dalam E-Sword Training
“
