Ayat Pokok: Yohanes 11:1-16
Akibat satu perbuatan tidak baik, seumur hidup orang akan mengingat perbuatan buruk/kesalahan, dibanding banyak perbuatan baik dan besar yang dilakukan semasa hidup seseorang. Mendengar nama raja Daud, orang akan ingat perzinahannya. Petrus – murid yang tiga kali menyangkal mengenal Yesus. Tomas – murid yang tidak mudah percaya, sebelum melihat.
Ini sangat berbeda dengan Tuhan. Kalau Ia mengampuni dosa, Alkitab mencatat, sejauh timur dari barat, demikianlah Tuhan membuang segala dosa kita. Ia bahkan tidak mengingat lagi segala dosa dan kesalahan kita! Puji Tuhan!
Sengaja Menunda
Ketika mendengar kabar Lazarus sakit, Yesus berkata, bahwa penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah. Ia bahkan sengaja tinggal dua hari lagi di tempat dimana Ia dan murid-murid berada.
Kalau kita pelajari lebih dalam, dua hari memiliki arti 2000 tahun zaman gereja, yaitu sejak kelahiran Yesus sampai Ia datang kembali kelak – ada banyak orang yang sakit dan mati, tetapi Ia akan membangkitkan mereka saat Ia datang kembali.
Setelah menunda dua hari, Yesus lalu mengajak murid-murid untuk pergi ke Yudea. Murid-murid pun bereaksi, “Rabi, baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke sana?” Namun, Yesus yang adalah Terang, mengetahui segala sesuatu. Ia tidak takut dan kuatir untuk kembali ke Yudea meski di sana ada orang-orang yang hendak membunuhNya.
Kemudian Yesus berkata bahwa Lazarus sudah mati – ayat 14. Di ayat 15, Ia berkata, “tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya.”
Belajar Percaya
Yesus mau mengajar murid-murid untuk percaya. Padahal murid-murid sudah mengikut dan mendapat banyak pengajaran dari Yesus. Dan peristiwa ini terjadi hampir di penghujung perjalanan Yesus selama 3½ tahun di bumi ini. Seorang murid Tuhan masih harus belajar percaya! Percaya seperti apa yang Yesus ingin agar dimiliki murid-murid?
Dalam Filipi 2:1-5 rasul Paulus menulis, bahwa Yesus datang ke dunia dengan satu tujuan, pikiran dan perasaan: untuk mati di kayu salib, menebus dosa manusia supaya mereka selamat! Dan kini kita sebagai jemaat, sebagai satu keluarga besar, diminta untuk juga memiliki pikiran dan perasaan yang sama seperti Yesus, yaitu rela berkorban, bersaksi, membawa orang lain kepada Yesus agar mereka selamat.
Tomas
Reaksi Tomas ketika Yesus mengajak murid-murid pergi ke Yudea meski disana Yesus menghadapi ancaman pembunuhan, menunjukkan percayanya; loyalitasnya yang tinggi sebagai murid; Kalau Yesus harus mati, biarlah kita juga mati bersama dengan Dia. Katanya, “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia” – ayat 16.
Namun ketika Yesus berkata, Ia harus pergi kepada Bapa untuk menyediakan tempat di surga bagi anak-anakNya, Tomas jadi bimbang. Ia tidak tahu jalan menuju surga, bagaimana ia bisa pergi kesana? “Kata Tomas kepada-Nya: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” – Yohanes 14:6. Terjadi pergolakan dalam hati dan pikirannya. Apalagi murid-murid waktu itu bahkan sampai menjelang Yesus naik ke surga, masih sangat berharap Yesus akan memulihkan kerajaan Israel di bumi ini – Kisah Para Rasul 1:6.
Demikianlah, ketika Yesus mati, murid-murid tercerai-berai. Hanya ada satu yang berdiri dekat kayu salib. Yang lain kemungkinan besar, hanya berdiri dari kejauhan, termasuk Tomas. Bahkan ketika murid-murid berkumpul dalam ruang tertutup, dan Yesus menampakkan diri kepada mereka, lalu menghembusi [= memberi nafas, yaitu nafas kelahiran baru] kepada murid-murid, Tomas juga tidak ada di sana – Yohanes 20:19-23.
Tomas kehilangan berkat hadirat Tuhan karena sejak Yesus mati, ia telah mengundurkan diri dari Tuhan dan teman-temannya. Sebab itu, “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah…” – Ibrani 10:25. Itu pula sebabnya ia tidak percaya bahwa Yesus sudah bangkit!
Tingkatan Percaya
Tomas “ingin” percaya pada ucapan teman-temannya, tetapi ia merasa perlu melihat/mengalami sendiri pertemuan dengan Yesus yang telah bangkit. Katanya, “Sebelum aku melihat bekas paku …, sekali-kali aku tidak akan percaya.” – Yohanes 20:25b.
Kata “melihat” disini berarti:
1. melihat dengan mata;
2. melihat dengan pengertian; dan
3. melihat melalui pengalaman.
Perhatikan, bagaimana “percaya” mempunyai tahap yang semakin bertambah – sama dengan iman yang harus selalu bertumbuh! Inilah tingkatan percaya yang Tuhan kehendaki dimiliki oleh saudara dan saya! Setelah menerima “Keselamatan” yang diberikan Tuhan dengan cuma-cuma, tanpa ada usaha apapun dari pihak kita, selanjutnya kita harus berusaha untuk belajar percaya! Bukan sembarang percaya! Tomas adalah orang percaya. Ia dipilih oleh Tuhan menjadi muridNya. Tetapi dalam perjalanan imannya, ia juga mengalami pergolakan dan gejolak dalam hati dan pikirannya. Namun, Tomas ingin mencapai tahapan iman/percaya sampai ia mengerti benar apa yang ia percayai, bahkan mengalaminya.
Allah Lebih Besar Dari Hati Kita
Ketika Yesus menampakkan diri untuk kedua kali kepada murid-murid, termasuk Tomas, Yesus tidak menegur/marah kepadanya. Haleluya! Yesus tahu pergolakan yang terjadi dalam hati Tomas! KataNya, “Damai sejahtera bagi kamu…” Mendengar ucapan Yesus, Tomaspun menjawab, “Ya Tuhanku dan Allahku!” – Yohanes 20:26-28.
1 Yohanes 3:19-20 – “Demikianlah kita ketahui, bahwa kita berasal dari kebenaran [Yesus = Kebenaran]. Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah, sebab jika kita dituduh olehnya [= oleh hati kita], Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu.” Hati bisa menuduh kita. Gejolak dan pergolakan dalam hati bisa terjadi: bingung, bimbang, ragu, hilang iman, hilang pengharapan, habis akal, dll. Tetapi, Allah lebih besar dari hati kita! Puji Tuhan! Dia mengetahui segala sesuatu, termasuk berbagai gejolak dalam hatimu.
Seperti Tomas, mari berusaha mencapai tahapan percaya yang paling tinggi! Tuhan Yesus memberkati saudara!
(GPdI Ketapang, 05 Juli 2009 – stand’s)
