Warning: include(/hermes/bosoraweb178/b1745/ipw.gpdiworl/public_html/v7/wp-content/plugins/wp-super-cache/wp-cache-base.php) [function.include]: failed to open stream: No such file or directory in /hermes/bosnaweb08a/b1745/ipw.gpdiworl/public_html/v7/wp-content/plugins/wp-super-cache/wp-cache.php on line 53

Warning: include() [function.include]: Failed opening '/hermes/bosoraweb178/b1745/ipw.gpdiworl/public_html/v7/wp-content/plugins/wp-super-cache/wp-cache-base.php' for inclusion (include_path='.:/usr/local/lib/php-5.2.17/lib/php') in /hermes/bosnaweb08a/b1745/ipw.gpdiworl/public_html/v7/wp-content/plugins/wp-super-cache/wp-cache.php on line 53

Warning: include_once(/hermes/bosoraweb178/b1745/ipw.gpdiworl/public_html/v7/wp-content/plugins/wp-super-cache/ossdl-cdn.php) [function.include-once]: failed to open stream: No such file or directory in /hermes/bosnaweb08a/b1745/ipw.gpdiworl/public_html/v7/wp-content/plugins/wp-super-cache/wp-cache.php on line 70

Warning: include_once() [function.include]: Failed opening '/hermes/bosoraweb178/b1745/ipw.gpdiworl/public_html/v7/wp-content/plugins/wp-super-cache/ossdl-cdn.php' for inclusion (include_path='.:/usr/local/lib/php-5.2.17/lib/php') in /hermes/bosnaweb08a/b1745/ipw.gpdiworl/public_html/v7/wp-content/plugins/wp-super-cache/wp-cache.php on line 70
Tanggung Jawab Etis Pelayanan Pastoral | GPdIWorld
Dua buah ayat diatas menekankan nilai dari suatu panggilan melayani. Motivasi melayani merupakan tema yang sangat dominan dalam ayat-ayat tersebut, selain kepercayaan yang diberikan dang tanggung jawab yang dituntut. Motivasi melayani tercermin dari kata \"hamba\" yang digunakan Paulus dalam ayat ini. Hal yang menarik dari pengungkapan kata hamba disini, tidak menggunakan kata (Gerika: Doulos) yang dapat diartikan dalam dua pengertian, yaitu: 1. Pelayan (servant), dan 2.Budak (slave), tetapi menggunakan kata (Gerika: Hyperetai) yang berarti \"Pendayung Bawah\". Hal ini bertolak dari kebiasaan pelaut di zaman Yunani kuno, dimana pada bagian paling bawah sebuah perahu besar terdapat sekelompok pendayung yang tugasnya hanya mendayung tanpa protes dan keluhan kepada nakhoda. Itu sebabnya disebut \"Yang dapat dipercaya\".
"" />
Thursday October 2nd 2014

Tanggung Jawab Etis Pelayanan Pastoral

Author : | This author have 9 posts

Motivasi hamba sangat melekat pada pribadi Yesus khususnya dalam perjanjian baru, misalnya : Injil Lukas 22:27, Yesus mengindetikkan pribadiNya sebagai pelayan dan bukan sebagai yang dilayani. Cerita ini muncul disaat murid-murid saling bertengkar memperebutkan kedudukan.

Lebih jauh Paulus menguraikan suatu gambaran yang berkaitan dengan pribadi Yesus, seperti yang tertulis dalam surat Filipi 2:5-8, perhatikan kata yang digunakan Paulus dalam ayat 7,.. Mengosongkan (Gerika \Knosis\”), yang artinya menghampakan dirinya dari segala atribut Illahi dalam kapasitas sebagai Pencipta Agung. Ia menjadi pelayan yang menderita (The Suffering Servant). Alkitab merupakan acuan utama dalam pembentukkan moral bagi setiap pelayan Allah tanpa mengesampingkan aturan-aturan yang berlaku dilapangan dalam konteks pengabdian dan kebersamaan.

Memang secara umum, pandangan, pemahaman, dan penerapan etika pelayanan pastoral sangat bergantung pada peraturan dan kebijakan yang ditetapkan oleh lembaga sinode yang pada dasarnya tetap merujuk kepada Firman Tuhan.. Peraturan dan kebijakan tersebut hanya merupakan garis besar dari sekian banyak rincian pertaturan yang harus dikerjakan oleh seorang Pendeta (Gembala) sebagai tanggung jawab moral kepada Tuhan.

Berkaitan dengan maksud tersebut diatas, beberapa hal yang dipandang perlu untuk dicermati dan dilaksanakan akan diuraikan dibawah ini, yaitu:
1. Kerangka Kerja Etika Pastoral. Pelayanan seorang Pendeta (Gembala) berada pada dua sisi yang saling terkait, yaitu:

a. Sebagai Hamba Kristus yang melayani anggota jemaat. Karakteristik pelayanan seorang hamba telah diuraikan pada bagian sebelumnya. Seorang hamba yang sama seperti Kristus.
b. Sebagai seorang hamba yang berbicara tentang kewibawaan Injil. Kepercayaan Allah kepada seorang Pendeta (Gembala) untuk menyampaikan kebenaran Injil merupakan suatu pelimpahan tugas dan otoritas. Apabila Pendeta disejajarkan dengan profesi lain, misalnya: Gokter, Guru, Pengacara, dan lain-lain, dimana kesemuanya memiliki aspek komitmen profesional namun tidak menyentuh masalah keselamatan jiwa. Berbeda dengan seorang Pendeta (Gembala) dimana aspek komitmen lebih berat bertanggung jawab moralnya karena tidak dapat dipisahkan dengan masalah keselamatan jiwa para anggota jemaat sebagai klien (orang-orang yang mendapat pelayanan).

2. Etika Kepemimpinan Pastoral. Berkaitan dengan sistim penataan atau penerapan kepemimpinan dalam sebuah gereja lokal, seorang Pendeta (Gembala) hendaknya menyadari bahwa posisinya berada dalam sistim tersebut, bukan diluar. Artinya ketika peraturan atau kewajiban yang disepakati bersama diberlakukan, tidak ada pengecualian, termasuk Pendeta (Gembala). Perhatikan sindiran Tuhan Yesus kepada Ahli Taurat, sebagaimana yang terdapat dalam Injil Lukas 11:46,… \”tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jaripun.\”

Lebih jauh lagi kepemimpinan dalam gereja termasuk dalam gereja lokal hendaknya menerapkan model kepemimpinan yang bersifat \”Buttom Up\”, dengan tidak menggeser nilai kewibawaan Illahi. Artinya dengan menempatkan faktor pelayanan pada tempat yang terutama dan bukan kekuasaan. Mengacu pada ayat yang terdapat didalam 1 Petrus 5:2-3, kepada Pendeta (Gembala) diingatkan untuk menggembalakan kawanan domba bukan dengan terpaksa, mencari keuntungan, atau seolah-olah mau memerintah. Selain hal yang perlu diperhatikan dalam menjalankan kepemimpinan terutama didalam gereja lokal adalah fungsi pengayoman dan pendisiplinan disamping adanya \”Konsultasi Gembala\” (Patoral Counseling) dan pendampingan gembala (Pastoral Care).

Pelayanan penggembalaan tidak hanya terfokus pada pemenuhan kebutuhan rohani dalam hal ini khotbah, akan tetapi penanganan konsultasi dan pendampingan juga sangat diperlukan, sehingga memunculkan suatu bentuk pelayanan yang bersifat \”Holistik\”.

3. Etika Khotbah dan Ajaran. Dalam menyampaikan khotbah, dengan bentuk dan jenis khotbah apapun juga, diperlukan penelitian yang akurat melalui pendekatan ilmu penafsiran (Hermeneutika) tanpa menghilangkan atau memalsukan data aslinya. Penafsiran yang keliru merupakan pemalsuan pokok berita yang pada akhirnya teks dan konteks bagian dari ayat-ayat Firman Allah tersebut tidak terungkap secara benar.

Sebagai contoh, untuk jenis khotbah yang bersifat alegoris harus ditunjang oleh data yang jelas, rujukan ayat-ayat Firman Allah yang tepat dan gambaran-gambaran atau kiasan-kiasan untuk maksud tersebut, bukan bertolak dari kemampuan daya khayal yang tinggi.

Menambah dan mengurangi Firman Allah jelas dilarang oleh Tuhan (Wahyu 22:18-19). Peningkatan sumber daya manusia merupakan bagian yang tak dapat terhindarkan untuk menjawab tuntutan zaman dewasa ini. Dengan merujuk kepada suatu nubuatan Alkitab yang tertulis didalam kitab nabi Yeremia 3:15,… \”Aku akan mengangkat bagimu, gembala-gembala yang sesuai dengan hatiKu, mereka akan menggembalakan kamu dengan pengetahuan dan pengertian\”. Didalam ayat ini terdapat kata \”Pengetahuan\” (knowledge) dan \”Pengertian\” (understanding) kedua faktor ini merupakan kelengkapan persyaratan yang ditentukan oleh Allah sendiri untuk seorang Pendeta (Gembala) ditambah dengan peneguhan urapan Roh Kudus, sehingga kebenaran Firman Allah tetap dilindungi.

4. Hubungan Internal dan External. Banyak terjadi konflik dikalangan para pelayan Tuhan yang notabenenya adalah Pendeta (Gembala). Hal ini lebih disebabkan oleh sikap mental pribadi para Pendeta itu sendiri. Banyak faktor penyebabnya, diantaranya adalah: Iri hati atas keberhasilan orang lain, isu kesukuan yang kemudian memunculkan kelompok-kelompok bernuansa kesukuan, arogansi intelektual, arogansi kekuasaan, arogansi spiritual, dan lain sebagainya.

Mencermati nasihat Paulus dalam suratnya kepada jemaat Galatia 3:27-28 yang mengisyaratkan kesetaraan didalam Yesus Kristus. Tembok-tembok pemisah yang telah dirobohkan Yesus melalui kematian dan kebangkitanNya, tidak boleh dibangun kembali. Lebih jauh lagi, dalam surat Filipi 2:1-4, nasehat Paulus secara implisit membentuk karakter dan mentalitas umat Tuhan, khususnya para Pendeta (Gembala) kepada sifat pribadi Tuhan Yesus Kristus.

Pentransferan karakter Yesus kepada seseorang melalui pemahaman Firman Allah dan Roh Kudus, akan berdampak terhadap hubungan external. Hal ini akan memunculkan suatu sikap empati atau membuka diri. Kesaksian tentang Yesus akan dilihat orang diluar melalui kehidupan inter aktif diantara sesama umat Tuhan dan para pelayan yang akan berdampak positif keluar.

5. Kualitas Spiritual (kerohanian). Sering terjadi kekeliruan dalam penilaian kualitas spiritual seseorang. Pandangan yang bersifat pragmatis (pandangan sekilas) menilai spiritualitas seseorang dari penampilan perbuatan yang bersifat spektakuler. Tak dapat membedakan antara pernyataan karunia Roh Kudus dan buah Roh Kudus.

Roh kudus bisa meminjamkan salah satu karuniaNya kepada seseorang. Sebut saja satu diantara sembilan karunia Roh, misalnya; Karunia Mujizat. Tuhan Yesus dalam Injil Matius 24 menyebut tentang akan datang mesias palsu, nabi palsu, dan akan melakukan perbuatan-perbuatan mujizat.

Banyak diantara Pendeta (Gembala/Penginjil) memunculkan pelayanan luar biasa, akan tetapi hatinya masih dipenuhi dengan keburukan (iri hati, kemunafikan, egoistis, pendendam, dan lain sebagainya). Keadaan seperti ini tidak dapat dikatakan sebagai nilai spritualitas yang baik. Jika demikian, dimana nilai spiritualitas yang baik dapat diukur? Jawaban adalah apabila penampakkan buah Roh Kudus dalam pribadi seseorang begitu jelas.

Karunia Roh Kudus pelengkap dalam kebutuhan pelayanan, akan tetapi buah Roh merupakan pentransferan karakter Illahi, yang diyakini bahwa klimaksnya ketika gereja mencapai kesempurnaan. Hal ini merujuk pada ayat Firman Allah yang tertulis dalam surat Kolose 3:9-15,…\”Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya; dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau tak bersunat, orang bar-bar atau orang skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan didalam segala sesuatu. Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihiNya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah lembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seseorang akan yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuatlah juga demikian. Dan diatas semuanya itu : kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan yang menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah didalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh dan bersyukurlah\”.

Jadi jelasnya adalah , dalam pribadi seorang Pendeta (Gembala) diperlukan keseimbangan, baik dalam pembangunan sumber daya manusia yang kemudian diteguhkan oleh Roh Kudus melalui karunia-karunia Roh, maupun pembangunan spiritual yang memunculkan karakter Yesus. Hubungan intim dengan Tuhan adalah kunci dari semuanya.Amin.(dari Pusaka Rohani 519/2001-Juli-September).”

Be Sociable, Share!

More from category

Akhir Zaman – Eskatologi* (1)
Akhir Zaman – Eskatologi* (1)

I.Pentingnya Pelajaran Kedatangan Yesus Kedua Kali. Para malaikat berkata kepada murid-murid Tuhan ketika menyaksikan [Read More]

Kolose (21-30)
Kolose (21-30)

COLOSSIANS  21 There can be no statement of more importance to the church than that which the Apostle made concerning [Read More]

Doktrin Tentang Malaikat – Angelogy (1)
Doktrin Tentang Malaikat – Angelogy (1)

BAB I: KEBERADAAN MALAIKAT. Memang harus diakui bahwa ayat-ayat referensi tentang malaikat dalam Alkitab hanya sedikit. [Read More]

Kolose (1-10)
Kolose (1-10)

Greetings in the lovely name of our Lord Jesus Christ. It is a joy to once again be able to send you a daily study. My [Read More]

Love (111-125 – Selesai)
Love (111-125 – Selesai)

ALLAH ADALAH KASIH. #111 Besarnya ukuran satu kata sederhana BEGITU tidak dapat, ataupun tidak pernah akan terukur, [Read More]

Insider

Archives