Ayat Pokok : Roma 4:18-21.
Alkitab menempatkan Abraham sebagai salah satu tokoh iman, dan model iman Kristiani yang sesungguhnya. Rasul Paulus menuliskan ayat-ayat ini bukan atas dasar perkiraan atau rekaan semata, melainkan kenyataan. Ketika dihadapkan pada janji Allah, Abraham, meski tidak ada dasar untuk berharap, ia tetap berharap dan percaya.
Percaya & Taat Pada Firman Allah. Abraham tidak berasal dari keluarga orang percaya. Ini ditunjukkan ketika Tuhan memanggil dia keluar dari negerinya, Ur kasdim, dari sanak keluarganya, ketempat yang akan ditunjukkaan Tuhan kepadaNya – Kej.12:1. Meski tidak tahu pasti harus pergi kemana, Abraham menanggapi dan taat pada Firman Allah. Ketaatan Abraham inilah yang diperhitungkan Allah sebagai kebenaran, sehingga ia disebut sebagai “Bapa orang percaya”. Abraham percaya dan mengambil langkah iman: “Melakukan Firman Tuhan.”
Janji Allah. Allah berjanji akan menjadikan Abraham bapa banyak bangsa. Untuk memeteraikan = meneguhkan janjiNya kepada Abraham Allah mengganti namanya dari Abram menjadi Abraham. Allah memasukkan namaNya sendiri ke dalam nama Abram. Janji Allah itu “Ya” dan “Amin”. Allah tidak pernah lupa pada janjiNya, sebab Ia meneguhkan janji itu dengan namaNya sendiri.
Dari pihak Allah, Ia meneguhkan janjiNya dengan namaNya. Sementara, dari pihak Abraham, ia harus pegang perjanjian itu dengan: “Sunat”. Kej. 17:9-12. Alpa atau tidak memenuhi kewajiban, akan berakibat batalnya perjanjian Allah, meski janji itu telah dimeteraikan dengan namaNya. Bagi kita, sunat jasmani tidak lagi berlaku. Yang terpenting sekarang adalah “Sunat Hati”, yaitu pertobatan yang diwujudkan dalam tindakan. Di dalam Yesus kita telah di sunat, bukan sunat yang dilakukan oleh manusia, melainkan dengan sunat Kristus. – Kol. 2 : 9 – 12. Saudara dan saya mempunyai perjanjian keselamatan dengan Tuhan. Ketika percaya, dosa kita diampuni dan anugerah keselamatan diberikan kepada kita. Tetapi selanjutnya, kita harus melakukan pekerjaan pekerjaan yang berkaitan dengan keselamatan. Kita harus mengerjakan keselamatan yang telah diberikan Allah melalui anugerah Yesus Kristus dengan takut dan gemetar.
Percaya Pada Janji Allah. Ketika itu, usia Abraham 99 tahun dan Sarah 89 tahun. Kandungan Sarah bahkan sudah tertutup = mati. Secara manusia, Abraham tidak mempunyai dasar untuk percaya pada janji Tuhan akan keturunan yang akan diperolehnya dari Sarah. Tetapi Firman Tuhan mencatat, Abraham tetap berharap juga. Mengapa ?
1. Imannya tidak menjadi lemah. Iman Abraham tidak menjadi lemah meski secara fisik ia menghadapi perkara yang mustahil. Adanya iman dalam hidup kita merupakan hal yang amat penting dan berharga di mata Tuhan. Tanpa iman, tidak mungkin orang berkenan kepada Allah – Ibr.11:6. Dalam keadaan apapun, Tuhan melihat dan menilai iman yang ada dalam kita.
2. Terhadap janji Allah ia tidak bimbang. Karena Allah tidak pernah ingkar janji, dan karena Ia telah memeteraikan janjiNya dalam namaNya, Abraham, meski sudah sangat tua, bahkan rahim isterinya telah mati, terhadap janji Allah Abraham tidak bimbang. Abraham tidak bimbang sedikitpun. Orang yang bimbang digambarkan seperti gelombang laut yang diombang ambing kan kian kemari – Yakub 1:6-10. Allah membenci orang yang bimbang = tidak pendirian = mendua hati. Ruben kehilangan berkat kesulungannya, oleh sebab ia bergelembung seperti air – Kej. 49:3-4. Allah tidak akan menurunkan berkat perjanjianNya kepada orang yang bimbang. Dalam bahasa aslinya, kata “bimbang” adalah “DIAKROMINOS” yang berarti “tak dapat dipisahkan” Karena Abraham melakukan apa yang diperintahkan Tuhan, maka ia tidak dapat dipisahkan dari janji Allah. Jadi, bagaimanapun kondisi Abraham secara jasmani, ia tetap ada dalam janji Allah. Puji Tuhan.
Tidak ada yang mustahil. Percayalah, Allah turut bekerja bersama-sama dengan saudara dan saya semata mata untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia – Roma 8:28. Kebaikan dan berkat telah disiapkan Allah sepenuh penuhnya bagi mereka yang mengasihi Dia. Mengahadapi perkara yang mustahil, Abraham tetap percaya, sebab bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Bagi Dia tidak ada kata “terlambat”. Rahim Sarah telah mati, tetapi Allah dapat menghidupkannya dan menghasilkan apa yang Tuhan telah janjikan. Tidak ada perkara yang mustahil bagi Tuhan. Tidak ada perkara yang mustahil bagi saudara dan saya yang percaya kepadaNya. Puji Tuhan Tuhan.Tuhan memberkati saudara. Amin.(Pdt.DR.Johny Weol M.A.W.J.Ketapang No.1059/XVIII/Swd)15 September 2002.
