Ayat Pokok: Ester 9; Lukas 23:34-43
Bangsa Yahudi memperoleh kesempatan yang memperbolehkan mereka untuk membalas orang-orang yang hendak menyerang mereka. Dalam rangkaian tindakan pembalasan itu mereka diperbolehkan: membunuh para penyerang mereka berikut keluarga si penyerang dan kemudian seluruh harta dari para penyerang. Tetapi mereka tidak mau melakukan yang demikian. Sebaliknya mereka hanya membunuh orang-orang yang menyerang mereka dan sama sekali tidak menaruh tangan atas keluarga para penyerang apalagi atas harta mereka. Kendati sebelumnya mereka sangat terancam akibat perbutan Haman, namun mereka tidak mau membalas kejahatan dengan kejahatan. Bila mereka harus membunuh itu hanya sebagai tindakan untuk membela diri.
Dalam peristiwa penyaliban Yesus kita menemukan prinsip tidak membalas kejahatan dengan kejahatan juga. Dari atas kayu salib Yesus meminta Bapa agar mengampuni orang-orang yang telah menyalibkan Dia karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Permohonannya kepada Bapa menjadi perkataan pertama yang Ia ucapkan ketika berada di atas kayu salib.
Berada di tengah
Bukan suatu kebetulan bahwa Yesus ditempatkan di tengah di antara dua orang penjahat. Saat akan mengabadikan suatu peristiwa pertemuan misalnya, posisi di tengah biasanya diisi oleh orang-orang yang diutamakan. Posisi itu juga menjadi posisi fokus atau pusat perhatian. Dalam masa pelayananNya pun Yesus pernah beberapa kali berada di tengah di apit oleh dua orang lain di kiri dan di kananNya. Demikian juga Dialah yang berada ditengah-tengah tujuh kaki dian yang berbicara tentang jemaat *Why. 1;12-20).
Posisi ini bisa dimaknai demikian: bahwa Yesuslah yang paling berdosa dibandingkan kedua orang yang berada di sisi kiri dan kanannya. Ditambah lagi kemudian jubahNya dibagi-bagikan oleh para pengawal, jadi Yesus disalib dalam keadaan tidak berpakaian, maka memanglah penempatana Yesus di tengah di antara dua orang penjahat bertujuan semakin mempermalukan Dia.
Ketika hati nurani dan lingkugan berbicara
Perkataan-perkataan para penjahat yang ada di kiri kanan Yesus memperlihatkan bahwa pada suatu ketika hati nurani mereka akan berbicara dan tahulah bahwa mereka memang berdosa. Bedanya adalah ada yang mau bertobat dan ada yang tidak mau bertobat. Penjahat yang satu menantang Yesus untuk agar menyelamatkan Dirinya sendiri dan kemudian menyelamatkan dia bila Yesus memang adalah Kristus. Namun penjahat yang satunya lagi menyadari bahwa mereka adalah orang berdosa yang patut menerima hukuman sedangkan Yesus bukan orang yang bersalah.
Dari atas kayu salib baik Yesus maupun kedua penjahat mendengar setiap perkataan yang diucapkan oleh orang-orang yang lalu lalang di bawah mereka. Kedua penjahat itu juga mendengar perkataan-perkataan Yesus. Penjahat yang menghujat Yesus bersikap sinis kepada Yesus karena mendengar ucapan-ucapan sinis yang dilontarkan oleh para pemimpin dan juga para prajurit. Tetapi penjahat yang lain sangat takjub mendengar perkataan Yesus yang minta agar Bapa mengampuni mereka yang telah menyalibkan Dia. Seketika itu terjadi perubahan yang sangat drastis di penghujung hidupnya Yesus tidak membalas olok-olok yang ditujukan kepadaNya tapi malah memohonkan pengampunan. Hal ini membuktikan bahwa Dia tidak berbuat salah dan sebenarnya tidak layak menerima hukuman seperti itu. Oleh sebab itu penjahat ini meminta kepada Yesus agar Yesus mengingat akan dia jika Dia sudah berada di kerajaanNya.
Sukacita di atas kayu salib
Tergantung di atas kayu salib dalam penderitaan yang luarbiasa tidak sama sekali mengaburkan tujuan Yesus untuk menyelamatkan orang berdosa. Sejak disiksa hingga di salibYesus sama sekali tidak bersuara. Tapi ketika ada seorang berdosa berbisik minta agar Yesus mengingat akan dirinya, minta Yesus menerima dirinya, maka Yesus mau berbicara. UcapanNya itu menjadi ucapan kedua saat Dia disalib. Kata Yesus: “…hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.’
Dalam pertemuan yang sangat singkat seseorang telah bangkit imannya karena mendengar permohonan Yesus agar orang-orang yang telah menyiksa dan menyalibkan Dia diampuni kesalahannya. Imannya menyadarkan dia bahwa suatu waktu kelak Yesus akan datang sebagai Raja. Imannya itu juga yang membuat dia meminta Yesus untuk menerima dirinya. Akan halnya Yesus, Dia sangat bersukacita ketika si penjahat yang berdosa tadi mau menerima Dia sebagai Juruselamat. Tidak ada hal yang menyukakan hati Yesus selain bersekutu dan menjalin hubungan dengan orang yang mau menerima Dia sebagai juruselamat. Dan tidak ada hal lain yang dapat membangkitkan iman kita selain mengetahui bahwa Yesus mau mengampuni kesalahan dari mereka yang telah menyalibkan Dia dan juga kesalahan kita. Yesus bersukacita di atas kayu salib karena ada orang berdosa yang menerima pengampunanNya. (WJ GPdI Kramat, No. 1353 Thn. XXVI 08062008).
