Lukas 12:32-34 ….. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Yesus semasa pelayanannya di dunia banyak mengajarkan masalah keuangan dan keluarga, dan Lukas 12:34 adalah salah satu alasan mengenai pengelolaan keuangan itu menjadi hal yang bersifat penting, kalau bukan kritikal bagi gereja Tuhan. Martin Luther berkata bahwa ada 3 (tiga) macam pertobatan, pertama adalah pertobatan pikiran, kedua pertobatan hati, dan yang ketiga adalah pertobatan… DOMPET! Alias keuangan. Randall K. Barton ***, CEO dari AG Financial Service, dalam tulisannya di Enrichment Journal, A Journal For Pentecostal Ministry, mengemukakan hasil riset bahwa dalam dua dekade terakhir di USA, makin banyak kebangunan rohani seseorang, suatu kelompok, dan juga suatu pelayanan runtuh bukan akibat kurangnya doa, hasil yang kurang memadai atau kurangnya komitmen, Namun karena PENGELOLAAN KEUANGAN YANG BURUK. Pengelolaan keuangan gereja yang sehat harus berdasar prinsip: “Sumber dari Tuhan harus di kelola oleh umat Tuhan untuk mengerjakan dan mencapai maksud dan kemuliaan Tuhan.” Dari prinsip ini dapat dijabarkan bahwa :
Tuhan adalah sumber dan pemilik. Artinya keuangan yang ada pada kita dan juga di gereja Tuhan adalah dari Tuhan dan juga MILIK TUHAN, dan BUKAN MILIK KITA!
Para HT dan jema’at adalah pengelola. Artinya adalah bahwa kita adalah yang bertanggung jawab dalam perencanaan (budget), pengambilan keputusan, dalam penggunaan dan penyaluran sumber tersebut untuk mencapai tujuan-tujuan yang sudah digariskan oleh Allah. Pertanggung-jawaban ini adalah kunci utama dalam hal ini.
Maksud Tuhan dan KemuliaanNya adalah tujuan/tolok ukur nya. Sukses tidaknya pengelolaan keuangan diukur dengan tercapai tidaknya tujuan Allah dan apakah cara-cara pengelolaan itu memuliakan NamaNya atau tidak.
Sumber Keuangan GerejaPada umumnya sumber keuangan gereja dapat dikelompokkan kedalam 5 kategori atau jenis sumber., yaitu: persepuluhan, persembahan umum, persembahan khusus, penghasilan usaha, dan sumbangan lain-lain.
Persembahan persepuluhan sebagaimana kita semua sudah tahu, adalah sepersepuluh dari penghasilan kotor (gross income) kita, sebagaimana diamanatkan olah Firman Tuhan di kitab Maleakhi 3:10. Sedangkan
Persembahan Umum adalah persembahan diatas perpuluhan atau kita kenal sebagai kolekte, yang tidak di dedikasikan untuk tujuan tertentu.
Adapun persembahan yang tertuju pada suatu tujuan tertentu seperti kolekte sekolah minggu, dana pembangunan gereja, persembahan penginjilan, diakonia, dsb. Di masukkan dalam kategori sebagai Persembahan Khusus.
Di beberapa gereja-gereja yang cukup besar, kita dapat temui adanya bidang usaha atau bisnis yang tentu saja termasuk dalam kategori “Non-Profit” atau besifat social, seperti sekolah, rumah sakit, toko buku, dsb. Nah keuangan yang bersumber dari bidang-bidang usaha ini disebut Penghasilan Usaha. Juga termasuk didalam penghasilan usaha ini adalah penghasilan dari upaya-upaya cari dana, seperti jual makanan, kaos, dsb.
Kategori terakhir adalah Sumbangan lain-lain yang mencakup juga sponsorship dsb. Umumnya penghasilan ini datang dari luar gereja, dan bersifat satu-satu kali saja.
Terlepas dari asal keuangan, semua dana ini harus dikelola sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk melancarkan dan menjalankan Pekerjaan Tuhan dengan cara yang dapat dipertanggung-jawabkan. Dinegara seperti USA, bahkan gereja juga secara periodik atau berkala harus di audit sistem keuangannya oleh akuntan publik. Hal ini terutama berkenaan dengan fasilitas bebas bayar pajak yang di berikan pemerintah kepada gereja. Bagaimana sistem pengelolaan yang terbaik untuk mengelola dana ini?Sebelum menjawab pertanyaan ini hendaknya perlu diingat bahwa dalam perkara manajerial, tidak pernah ada suatu jawaban yang bisa bersifat universal atau one for all, sehingga jawaban yang benar-benar tepat adalah berupa kasus per kasus untuk tiap gereja. Apa yang menjadi pertanyaan pokok dan bahkan sering menjadi sumber/dan kontroversi sebelum merumuskan sistem pengelolaan ini adalah pengelolaan persepuluhan dan penghidupan HT. Mengapa perpuluhan? Karena persepuluhan adalah penghasilan utama dari gereja. Persepuluhan adalah tulang punggung keuangan gereja, dan khususnya bagi gereja-gereja seperti GPdI perpuluhan juga adalah tulang punggung sumber dana untuk membiayai kehidupan dari para HT dan keluarganya. Masalah ini pulalah yang banyak menyebabkan masih terhambatnya penerapan sistem keuangan yang lebih tertata. Berikut ini adalah contoh sistem keuangan gereja yang umum berlaku di gereja-gereja aliran Pantekosta di USA. Penulisan ini dimaksudkan menjadi bandingan dan input bagi para HT dalam menerapkan sistem apa yang sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing.
PEMBUKUAN:Pada prinsipnya keuangan yang masuk kedalam gereja harus dikelompokkan berdasar tujuan dana tersebut. Pada umumnya pengelolaan terhadap dana yang masuk ke gereja dapat dilakukan dengan membentuk 2 macam rekening KAS, yaitu:
Rekening KAS UMUM. Dana dari Kas umum ini terutama berasal dari PERSEPULUHAN dan PERSEMBAHAN UMUM, dan ditambah dengan HASIL USAHA Pencarian Dana (Fund Raising), yang bersifat TIDAK RUTIN seperti: bazzar, Tag Sale, jual makanan, dsb., dan juga mencakup sumbangan-sumbangan dari luar gereja/sponsor (saya kurang sreg dengan kata sponsor ini….. tapi ngga menemukan kata lebih tepat). Asalkan tidak ada tujuan tertentu. Adapun Kegunaan dari KAS UMUM adalah antara lain untuk Membiayai kehidupan HT/Gembala, membiayai operasional gereja sehari-hari atau keperluan apapun yang tidak bisa dibiayai oleh persembahan khusus, seperti misalnya Biaya-biaya Perayaan Dsb.
KAS KHUSUS. Rekening ini bisa berupa apa saja seperti Rekening Kas Sekolah Minggu, Penginjilan, Diakonia, Pelayanan Musik, dsb. Rekening ini didanai dari PERSEMBAHAN KHUSUS. Dana dari kas khusus ini hanya bisa di gunakan untuk tujuan tsb. Termasuk dalam kas khusus ini bisa juga KAS HASIL USAHA, yang sumbernya adalah dari usaha resmi dan rutin dari gereja, seperti dari Toko Buku, dari Sekolah, dsb. Untuk Kas Hasil Usaha ini tergantung pada volume usaha, dan tingkat otonominya, mungkin bahkan diperlukan pembukuan secara terpisah.
Setiap Rekening ini harus dapat dipertanggung jawabkan, dan secara periodik perlu dilaporkan lepada jemaat, walaupun tidak perlu secara mendetail. Pengevaluasian kinerja dan auditing juga dilakukan secara terpisah untuk tiap rekening. Semakin besar sebuah gereja, maka pembukuan ini dapat dibuat semakin mendetail dan kompleks walau tetap berpijak pada prinsip yang sama. Untuk gereja yang kecil, sebaiknya pembuatan rekening khusus dibatasi…. Untuk gereja yang baru berdiri misalnya apa yang diperlukan adalah rekening KAS UMUM. Sementara untuk gereja yang sudah Sangat besar, akan ada banyak Rekening Kas Khusus yang beberapa diantaranya memiliki pembukuan terpisah sama-sekali. PERENCANAAN:Dwight D. Eisenhower mengatakan bahwa “Rencana itu tidak lebih daripada sebuah angan-angan belaka, namun PERENCANAAN adalah SEGALANYA”. Arti dari kalimat bijak ini tidak lain adalah bahwa Perencanaan adalah hal yang Sangat penting dan tidak bisa diabaikan. Dalam Pengelolaan Keuangan Gereja, perencanaan ini juga merupakan faktor yang sangat penting yang tidak boleh diabaikan. Perencanaan keuangan yang kita kenal dengan istilah Budgeting memiliki peran yang sangat krusial.Sekali setahun Gembala bersama Board atau majelis bertemu untuk memutuskan budget. Disini posisi Gembala adalah President of the Enterprise atau singkat sederhananya ketua board. Sehingga sedikit banyak kuasa pengambilan keputusan tetap ada sbagian besar pada gembala. Masalah yang didiskusikan adalah mencakup keseluruhan aspek keuangan gereja, termasuk didalamnya adalah kebutuhan hidup Gembala beserta keluarga, selaku pengelola Rumah Tuhan. Dalam pembahasan mengenai persepuluhan di Maleakhi 3:10 salah satu fungsi utama dari perpuluhan adalah ….”supaya ada persediaan makanan di rumahKu…..” Makanan ini adalah sumber kehidupan bagi pelayan-pelayan Tuhan di rumah Tuhan! Jadi itulah sebabnya untuk gereja yang kecil, seluruh hasil persepuluhan ini mungkin akan habis untuk biaya hidup Gembala. Oleh karenanya untuk skala gereja kecil, Persepuluhan bisa langsung disetor dan dikelola oleh Gembala. Namun untuk gereja besar, hasil perpuluhan itu sudah menjadi lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhn Gembala. Dalam kasus inilah, maka dibentuk KAS UMUM tersebut, dimana Uang hasil persepuluhan dan persembahan akan masuk kesitu, dan dari situ pulalah kehidupan Gembala dan para pelayan rohani lain, berikut staff administrasi gereja, sampai biaya untuk bayar tukang kebun, dsb. dicukupi. Kembali ke budgeting, Gembala harus juga membuat budget untuk kebutuhannya. (Budget ini nantinya akan menjadi “gaji” nya.) Lalu kebutuhan-kebutuahan aktivitas gereja masing-masing dianggarkan, termasuk didalam hal ini kebutuhan untuk Perayaan Natal, dsb. Selain menganggarkan kebutuhan, Board dan Gembala juga memperkirakan pemasukan yang bisa diharapkan. Bukan saja untuk persepuluhan dan kolekte, namun termasuk pada kemungkinan melakukan usaha pencarian dana khusus, dsb. Ini dilakukan juga untuk setiap rekening Kas Khusus. Hasil rumusan budget ini kemudian di presentasikan di depan rapat umum tahunan anggota jemaat. Yaitu sesudah laporan pertanggung jawaban keuangan tahun sebelumnya. PELAKSANAANUntuk melaksanakan system ini perlu ditunjuk seorang bendahara harian merangkap bookkeeper. Pengangkatan bendahara juga diiringi dengan penunjukan salah satu anggota majelis menjadi pengawas keuangan. Uang keluar diatas jumlah tertentu harus diketahui dan disahkan oleh dua orang, bisa gembala dan bendahara atau si pengawas keuangan. Persembahan diambil dengan menggunakan system amplop, yang diluarnya tertulis, apakah itu perpuluhan atau persembahan umum, atau persembahan khusus. Khususnya di USA pada amplop tsb harus dutulis nama pemberi, hal ini untuk perhitungan pengembalian pajak nanti di akhir tahun. Kalau seandainya nama tidak diperlukan maka bisa juga dilaksanakan system kotak, yaitu di sediakan kotak perpuluhan, lalu ada kotak persembahan khusus, dsb. Selanjutnya secara berkala posisi keuangan ini dilaporkan kepada jemaat, apalagi tentang persembahan khusus yang sedang digalakkan, seperti uang pembangunan gereja, dsb. Pelaporan ini bisa lewat bulletin, maupun di papan pengumuman, dsb. Setiap pengeluaran dana harus ada pertanggung jawabannya. Harus ada bukti pembelian, dsb, dan harus tercatat dan dilaporkan pada bendahara. Gembala dan Majelis juga memonitor perkembangan keuangan ini secara berkala. Melalui laboran ringkasan triwulanan dsb dari bendahara. Hal ini adalah untuk memeriksa apakah budget masih rasional, atau perlu ada perubahan atau perlu ada pencarian dana tambahan, atau pengurangan aktifitas, dsb. EVALUASIPengevaluasian keuangan gereja tidak bisa dilakukan atas dasar total saldo….. Evaluasi harus dilakukan berdasarkan rekening… dan SALDO yang banyak BUKAN UKURAN KESUKSESAN pengelolaan keuangan. Baik tidaknya pengelolaan keuangan harus lebih dilihat dari seberapa besar tingkat “perputaran” pemakaian keuangan tsb. Atau berapa VOLUME KEGIATAN yang berhasil dibiayai oleh uang yang ada. Makin besar aktivitas ini, berarti gereja makin aktif dalam pelayanan dan ini menandakan makin sehatnya gereja. Gereja bukan lembaga untuk cari keuntungan, oleh karena itu SISA HASIL USAHA bukan lah tolok ukur keberhasilan manajemen keuangan. Demikian secara sekilas gambaran suatu sistem manajemen keuangan gereja yang umum dipakai di kalangan gereja aliran Pantekosta di USA. Apakah ini sistem yang terbaik? Kembali pada apa yang tertulis di paragraf terdahulu yaitu bahwa dalam perkara manajerial, tidak pernah ada suatu jawaban yang bisa bersifat universal atau one for all, sehingga jawaban yang benar-benar tepat adalah berupa kasus per kasus untuk tiap gereja. Namun apakah sistem ini sistem yang baik? Saya rasa ini adalah salah satu contoh sistem yang baik, yang setidaknya dapat dijadikan bahan acuan atau bahkan sebuah model bagi pembuatan sistem keuangan yang sesuai dengan kondisi gereja masing-masing. Karena sekali lagi pengelolaan keuangan gereja adalah pengelolaan HARTA MILIK ALLAH yang harus dipertanggung-jawabkan dihadapanNya. Alangkah indahnya jika pada kedatanganNya Ia dapat berkata pada kita: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; ….. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” AMEN
*** Barton, Randall K., “Stewardship as a Ministry in the Local Church:Understanding Motivational Reasons for Giving”, Enrichment Journal: A Journal for Pentecostal Ministry. Missouri: The General Council of the Assemblies of God 2008″
