Pada saat penciptaan, langit dan bumi berada pada suatu situasi yang ditudungi oleh kemuliaan Allah dan tidak ada hal-hal yang dapat menciptakan bahaya ataupun menjadi suatu ancaman (Kejadian 2:4-6).
“
\”Ketika itulah\”, jadi berarti ketika kemuliaan Allah menudungi langit dan bumi ini berbicara tentang saat yang paling tepat. Dalam suasana yang amat harmonis itulah Allah menciptakan manusia. Pelajaran yang dapat kita ambil dari rangkaian pekerjaan Allah itu ialah bahwa jalan hidup kita selalu dalam saat yang tepat walau apapun yang sedang kita alami saat ini.
Yeremia 18:16. Tuhan menghampiri Yeremia yang sedang dalam kekecewaan. Yeremia yakin ia sudah dipilih oleh Tuhan, namun ia kecewa karena:
- Makin ia tenggelam dalam pemberitaan tentang berita dari Allah, raja-raja dan bangsa Israel makin mengeraskan hati mereka.
- Yeremia melihat, dari tahun ke tahun sepertinya Tuhan tidak pernah membelanya. Ia jatuh bangun dengan penderitaan.
Melalui pekerjaan yang sedang dilakukan oleh tukang periuk, Allah berbicara kepada Yeremia.
Mungkin saat ini kita juga sedang kecewa karena konsep-konsep yang kita buat tidak berhasil. Tetapi ingat, Firman Allah berkata : Inilah saat yang tepat. Kita akan memeriksa hidup seseorang dalam Ester 2:5-7. Ketika itu bangsa Israel ditawan ke Babilonia. Mereka dicerai-beraikan dan ditindas. Pada situasi seperti ini, seorang bayi perempuan lahir dan diberi nama Hadasa, sebuah nama Ibrani. \”Hadasa\” adalah nama sejenis tanaman yang ada di Palestina. Tanaman ini sangat tegar dan selalu tampak hijau. Di musim panas, kalau daunnya dipetik dan dirobek, maka akan keluar bau yang sangat harum.
Ketika Hadasa menjadi remaja dan kedua orang tuanya meninggal, namanya kemudian diganti menjadi Aster, suatu nama yang berbau Yunani. Aster artinya bintang cemerlang. Sebagai remaja ia banyak kecewa karena kehilangan orang tua, sanak keluarga dan juga nama yang indah. Tetapi itulah saat yang tepat. Kemudian kita tahu bahwa Aster/Ester inilah yang akhirnya menyelamatkan bangsanya dari pembunuhan yang direncanakan oleh Haman.
Ester 8:16,17. Dimanapun orang Israel berada, ada sukacita dan penghormatan. Dan semua ini terjadi karena Ester yang mau tetap berada dalam tangan Tuhan walaupun hidupnya penuh kekecewaan, ucapkanlah syukur kepada Tuhan karena Firman Allah berkata, inilah saat yang tepat.
Kita kembali ke Kejadian 2:7, material apakah yang Allah pakai pada penciptaan manusia? Tubuh manusia dibentuk dari debu tetapi jiwa dan rohnya diciptakan dari tidak ada menjadi ada.
Debu dalam bahasa Ibrani menggunakan kata APHAR yang artinya bubuk, debu. Debu tidak dapat dibentuk. Jika angin datang, maka debu ini akan bertebaran sehingga menyusahkan dan membuat kotor. Jadi, mengapa dalam penciptaan ini Allah memakai debu? Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari hal ini ? Ayub 12:7-10, manusia hanya dapat menjadi suatu bentuk kalau ia berada dalam tangan Tuhan. Di luar tangan Tuhan, hidup manusia hanya menyusahkan dan merugikan.
Ayub 30:16-19. Ayub sadar bahwa ia adalah bagaikan debu dan abu. Pelajaran yang dapat kita ambil ialah, jangan mencoba hidup di luar tangan Tuhan karena kita akan menjadi bagaikan debu yang selalu menyusahkan dan merugikan orang lain, tetapi letakkanlah hidup kita dalam tangan Tuhan agar kita menjadi suatu bentuk yang berguna.
Jika kita merasa bahwa hidup kita sudah hancur tanpa bentuk, jika ada persoalan yang serasa tak terselesaikan, maukah kita menyerah dalam tangan Tuhan? Tidak ada yang sukar bagiNya, Ia siap menolong kita. AMIN. (Pdt. Frans Z.Assa, Temanggung-Aneka Permata Surgawi-7).
“
