1
Ayat Pokok: Markus 4: 35-41
Peristiwa Yesus meneduhkan badai dicatat dalam ke-3 kitab Injil – Matius, Markus, dan Lukas. Setiap penulis memiliki “versi”- nya masing-masing mengenai peristiwa tersebut. Hal tersebut bukan untuk menununjukkan perbedaan tapi justru merangkai kesatuan dan keutuhan peristiwa ini.
Dimulai dari pagi hari.
Markus menuliskan bahwa hari sudah sore ketika Yesus mengajak murid-muridNya untuk bertolok ke seberang danau. Biasanya ketika sore tiba dan semua orang sudah pulang ke rumahnya masing-masing, Yesus naik ke gunung (Yoh. 7:53). Pada pagi hari Ia turun dan mulai melayani orang banyak yang telah datang kepada-Nya (Yoh. 8:1; Mat. 8:1).
Pagi hari itu ketika turun dari gunung Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kusta, menyembuhkan hamba dari seorang perwira Romawi, bertemu dengan seorang yang mengikut Dia. Di sepanjang hari Ia melakukan banyak muzizat dan murid-muridNya menyaksikannya dengan takjub. Karena itu Yesus menyebut mereka lemah iman, iman kecil, tidak ada iman ketika mereka ketakutan menghadapi badai padahal sudah sepanjang hari itu mereka menyaksikan banyak sekali muzizat.
Penyebutan waktu petang hari mengingatkan kita pada perkataan Yesus sendiri: bahwa selagi hari siang maka itulah saatnya Dia melakukan pekerjaan Bapa yang mengutus Dia. Jika malam telah tiba maka orang tidak dapat lagi bekerja. Dalam bahasa Alkitab kata petang, sore atau malam hari menunjuk pada keadaan akhir zaman. Inilah saat dimana kita hidup sekarang ini.
Yesus tahu apa yang akan terjadi.
Yesus tahu akan ada badai besar datang menimpa mereka, namun Ia malah tidur (Luk. 8:23). Badai itu menciptakan gelombang yang besar sehingga air mulai masuk ke dalam perahu. Apakah artinya ini: Baru saja para murid menyaksikan hal-hal yang luarbiasa sekarang, tanpa peringatan sebelumnya, mereka ditimpa badai?
Berapa murid Yesus adalah orang yang sangat handal dalam masalah kelautan. Karena itu sangatlah sadar betapa bahayanya keadaan mereka saat itu. Karena itu pula mereka berkata kepada Yesus: Guru, Engkau tidak peduli kita binasa? Penggunaan kata kita berarti melibatkan baik yang berbicara maupun yang diajak berbicara. Mereka berpikir keadaan itu akan membinasakan mereka semua termasuk Yesus.
Kata binasa disini sama artinya dengan yang terdapat dalam Yohanes 3:16. Dalam ayat itu dikatakan: jika kita percaya kita akan memperoleh hidup kekal tapi jika kita tidak percaya maka kita akan binasa; dalam hal ini binasa dapat diartikan mati kekal?
Dapatkah Yesus mati kekal?
Yesus telah dipilih sejak sebelum dunia dijadikan tapi baru dinyatakan pada zaman akhir. Yesus memang mati untuk menebus dosa kita. Tapi Ia tidak mati kekal. Ia bangkit kembali (1 Pet 1:18-21). Banyak cara dilakukan oleh pemimpin orang Yahudi untuk membunuh Yesus tapi tidak dapat. Mereka baru dapat menangkap Dia keitka Dia menyerahkan diriNya sendiri.
Yesus tidak akan mati konyol oleh karena badai besar. Dengan satu perintah: Diam, tenanglah!, maka segera angin itu berhenti. Hanya kekuatan Tuhan yang dapat melakukan hal ini.
Tetaplah bertahan dalam badai.
Sehebat apapun angina ujian pencobaan dan pergumulan yang kita hadapi, tapi kalau Tuhan yang menghentikannya, maka semua akan reda. Ujian itu sangat perlu dalam hidup kita karena melalui ujian itu kita akan belajar untuk tekun dan kemudian menghasilkan buah yang matang yang menyempurnakan iman kita (Yak. 1:24). Yesus menunggu sampai kita berkata: saya tidak bisa lagi, maka barulah Dia akan mengatakan: Aku bisa.
Di akhir zaman akan datang banyak angin ribut dalam hidup kita. Datang pada Yesus maka Ia akan memberi kekuatan kepada kita sehingga kita menjadi orang Kristen yang kuat dalam menghadapi cobaan dan tantangan apapun. (WJ GPdI Kramat No. 1369 Thn. XXVI, 280908).
