Dalam Lukas 12:15-21, Tuhan Yesus memberikan satu perumpamaan tentang seorang yang sangat diberkati. Banyak orang mendambakan hidup berkelimpahan seperti orang amat sukses dalam perumpamaan ini. Namun Tuhan menyebutnya “orang bodoh!” Mengapa? Bukankah ia seorang yang sangat berhasil dalam hidup. Lumbungnya penuh sehingga ia harus membangun lumbung yang lebih besar – hal yang wajar bukan? Lalu mengapa ia disebut “bodoh”?
Sebab ia hanya memikirkan masa selama ia hidup di dunia. Ia tidak berpikir jauh ke depan: jika ia mati, untuk siapakah semua kekayaan yang telah dikumpulkannya? Ia disebut bodoh, sebab ia tidak bisa menjawab pertanyaan Tuhan: “Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?”
Pertanyaan yang sama juga ditujukan kepada saudara dan saya, dan kita harus bisa menjawabnya. Tuhan mau agar kita tidak hanya memikirkan perkara-perkara semasa kita hidup, tetapi jauh ke depan, setelah kita meninggalkan dunia ini.
Orang bodoh.
Beberapa contoh orang bodoh, yang hanya memikirkan masa ketika ia hidup; tidak mempunyai pandangan jauh ke depan:
1. Raja Hizkia.
Hizkia adalah seorang raja yang melakukan hal-hal baik semasa hidupnya. Saat ia sakit keras dan mendengar kabar dari nabi Yesaya bahwa ia akan segera meninggal, menangislah ia dengan sangat. Tuhan lalu mendengar doanya dan memperpanjang hidupnya 15 tahun lagi.
Tetapi dalam kurun waktu 15 tahun tambahan itu, Hizkia menerima tamu-tamu dari Babel dan memperlihatkan kepada mereka segala kekayaan istananya. Yesaya menegurnya dan memberitahukan bahwa semua kekayaan itu akan dirampas oleh orang Babel, bahkan keturunannya akan dijadikan sida-sida (= tidak akan mendapatkan keturunan) di negeri Babel. Tetapi jawab Hizkia, “Sungguh baik firman TUHAN yang engkau ucapkan itu!” Tetapi pikirnya: “Asal ada damai dan keamanan seumur hidupku.”
Hizkia menjadi “orang bodoh” sebab ia hanya memikirkan masa selama ia hidup. Ia seolah tidak perduli pada generasi penerusnya.
2. Esau.
Sebagai anak sulung, Esau mendapatkan hak kesulungan, yaitu hak atas berkat yang dua kali ganda. Seharusnya berkat Allah turun dari Abraham kepada Iskak, lalu Esau. Tetapi Esau tidak menghargai hak kesulungannya. Saat ia sangat lapar, ia tidak ragu untuk menjual hak kesulungannya demi sepiring makanan. Ia tidak memikirkan masa yang akan datang. Baginya, yang penting ia bisa mengenyangkan dirinya pada saat itu, selagi ia hidup!
Orang bijak.
1. Abraham – Kejadian 15:1-4.
Abraham mempunyai pandangan jauh ke depan, pada keturunannya. Ia bertanya kepada Allah, “Jika ia mati, siapakah yang akan mewarisi segala kekayaan yang Tuhan berikan kepadanya?” Jauh sebelum ia mendapat keturunan, Abrahan telah memikirkan rencana untuk masa yang akan datang. Ia sadar, segala berkat yang diterimanya harus disalurkan pada generasi selanjutnya.
Sebagai keturunan Abraham secara rohani, kita pun harus menyalurkan segala berkat Abraham, baik jasmani maupun rohani, kepada keturunan kita dan orang-orang lain.
Saat mencari isteri untuk Ishak, Eliezer bersaksi tentang Ishak yang diperoleh tuannya pada masa tua, dan yang akan menerima segala harta kekayaan tuannya – Kejadian 24:36. Dan memang Abraham memberikan segala harta miliknya kepada Ishak – Kejadian 25:5. Abraham bisa menjawab pertanyaan Tuhan dalam Lukas 12:20!
2. Nuh.
Nuh patuh pada Firman Tuhan untuk membangun sebuah bahtera yang akan menjadi tempat perlindungan yang menyelamatkan dirinya dan seluruh keluarga dari kebinasaan. Segala berkat yang diterimanya dari Tuhan digunakannya sebagai persiapan untuk masa yang akan datang. Ia curahkan segala tenaga dan upaya untuk membuat bahtera. Saat banjir besar melanda dan membinasakan seluruh isi bumi, Nuh dan keluarganya selamat!
3. Daud – 1 Tawarikh 22:5-6.
Setelah menjadi raja orang Israel, Daud sadar: tidak selamanya ia menjadi raja. Itu sebabnya, sebelum meninggal, ia mempersiapkan segala sesuatunya untuk membangun Bait Allah yang teramat indah. Daud mempunyai pandangan jauh ke masa depan. Dan inilah pola hidup yang benar dan dikehendaki Allah.
Menerima dan memiliki berkat melimpah bukan dosa. Tetapi jika semua itu hanya dinikmati sendiri semasa hidup, tanpa peduli pada orang lain, terutama keturunan kita – itu bodoh! Tuhan mau memberkati kita, dengan tujuan supaya kita menyalurkan berkat itu pada orang lain. Setiap saudara dan saya punya kewajiban pada Tuhan; pada generasi penerus; pada orang-orang di sekitar kita.
Saya yakin setiap hari tiap orangtua berdoa bagi anak-anak sebagai generasi penerus. Jika ada anak yang belum terima Tuhan, percayalah, Tuhan mau agar anak itu pun menerima berkat keselamatan seperti yang saudara telah terima dari Tuhan. Jangan hidup untuk masa sekarang saja. “…..pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?”
Tuhan Yesus memberkti saudara! (GPdI Ketapang, 23 september 2007, Pdt. R.G. Brodland, USA).
