“Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” Tetapi kamu enggan,” (Yesaya 30:15)
Bagian Alkitab ini diberikan Tuhan kepada orang Yehuda melalui nabi Yesaya. Ketika itu kerajaan Yehuda ada di bawah ancaman Asyur yang telah menaklukkan kerajaan Israel. Yehuda yang merasa terancam kemudian meminta bantuan kepada Mesir yang waktu itu juga merupakan kerajaan yang memiliki angkatan perang yang hebat. Tapi ketika pemikiran itu datang, Tuhan memperingatkan Yehuda bahwa kekuatan terbesar yang dapat menolong Yehuda dari ancaman Asyur bukanlah kekuatan pasukan Mesir. Kekuatan terbesar justru akan diperoleh Yehuda ketika mereka bertobat, duduk diam, tinggal tenang dan percaya.
Tindakan ini mungkin merupakan hal yang mustahil bagi banyak orang, tetapi itulah solusi yang terbaik bagi mereka. Tetapi sayangnya, orang Yehuda enggan untuk melakukan apa yang Tuhan firmankan. Mereka tetap berniat untuk melakukan apa yang mereka rencanakan sebelumnya, sekalipun Tuhan berkata bahwa sehebat apapun bantuan yang mereka dapatkan, musuh akan menjadi lebih hebat lagi (ayat 16).
Tindakan orang Yehuda seringkali merupakan gambaran dari tindakan sebagian orang percaya saat ini. Banyak orang yang menjadi panik dan berusaha mencari bantuan ke sana ke sini ketika mereka menghadapi kesulitan/masalah. Mereka berpikir bahwa dengan semakin giat mencari pertolongan, mereka akan semakin dapat mengatasi masalah mereka. Kenyataannya adalah, semakin kuat mereka berusaha dengan kekuatan mereka sendiri, semakin berat masalah menekan mereka.
Duduk diam dan tinggal tenang bukanlah berarti pasrah dan tidak melakukan apa-apa. Duduk diam dan tinggal tenang yang dimaksudkan Tuhan adalah duduk diam dan tenang di kaki Tuhan; berdoa. “Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.” (1 Petrus 4:7)
“Retreat” adalah suatu kegiatan di mana kita menarik diri dari kegiatan/aktivitas sehari-hari dan menggunakan waktu khusus untuk bersekutu dengan Tuhan. Retreat dapat dilakukan secara berkelompok, tetapi juga perorangan yaitu ketika kita menyendiri, memisahkan diri dari semua kesibukan kita dan mengkhususkan waktu itu hanya untuk bersekutu hanya dengan Tuhan. Dan biasanya, selesai retreat kita merasakan kesegaran baru bagi roh kita.
“Retreat”, itulah yang Tuhan ingin kan dari orang Israel. Itulah yang juga Tuhan inginkan dari kita ketika kita menghadapi persoalan. Jawaban dan kekuatan terbesar yang dapat menolong kita bukanlah perkara-perkara lahiriah yang selama ini kita banggakan; kekayaan, kepintaran, koneksi dll., tetapi Tuhan-lah satu-satunya kekuatan dan jawaban yang dapat menolong kita.
Penyaliban adalah pengalaman yang berat. Awalnya Yesus berkata, “seandainya mungkin, lalukan cawan ini…” tapi setelah ‘retreat’ selama sekitar satu jam, Dia kemudian berkata, “bukan kehendakKu, tetapi kehendakMu-lah yang jadi.” Luar biasa! Retreat tidak mengubah situasi. Situasi tetap sama. Salib tetap harus dihadapi. Tetapi kekuatan yang luar biasa membuat Yesus menyikapi salib itu dengan cara yang berbeda. Dan kekuatan itu didapatkanNya ketika Ia ‘diam, tinggal tenang dan percaya’.
