Efesus 4:29 – Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.
Ibu Luciano Pavarotti membayangkan bahwa anaknya akan menjadi bankir. Ayahnya terus mengingatkannya bahwa ia memiliki suara yang mengagumkan, dan neneknya sering menatakan, “Engkau akan menjadi besar – lihat saja kelak!”
Di luar dugaan semua orang, Pavarotti mengajar di sekolah dasar. Tidak puas dan frustrasi, ia jarang menyanyi. Ayahnya tidak menyerah, terus mengingatkan dia tentang talentanya yang tak digunakan. Akhirnya pada usia 22 tahun, Pavarotti muak dengan semua keluhan itu. Ia mengundurkan diri sebagai seorang guru dan menjual asuransi agar memiliki cukup waktu untuk mengejar pelatihan vokal.
Sampai sekarang nama Pavarotti dikenal di seluruh dunia, bahkan di antara mereka yang bukan penggemar opera. Namun Pavarotti hampir melewatkan jalan menuju masa depannya.
“Belajar seni suara merupakan titik balik dalam kehidupan saya”, katanya. “Adalah salah untuk mengambil jalan yang aman dalam kehidupan. Seandainya saya tidak mendengarkan nasihat ayah dan berhenti engajar, saya tidak akan sampai di sini. Dan ya, guru saya mengembangkan bakat saya. Namun tak seorang guru pun pernah memberitahu saya bahwa saya akan tenar. Hanya nenek saya.”
Kisah Pavarotti mengabungkan beberapa elemen yang berkontribusi pada harga diri yang sehat: kasih dan dorongan orang lain, pengembangan talenta pribadi dan pemeliharaan Tuhan yang memberkati upayanya ketika ia mengambil resiko. Talentanya sebagai seorang penyanyi terlalu besar untuk dikunci dalam sebuah ruangan kelas. Dan apakah yang membuka pintu ruang kelas itu? Dorongan ayahnya, optimisme neneknya dan keberaniannya mengambil jalan yang lebih sulit.
Betapa berharganya dorongan, optimisme dan nasehat yang kita berikan kepada orang lain, bahkan tanpa kita menyadari hal tersebut.
