Tuesday May 22nd 2012

Perkataan Palsu

Author : | This author have 39 posts

Artikel dengan judul “Sepuluh Wanita Tercantik di Dunia”, “Seratus Orang Terkaya di Dunia”, “Lima Pantai Terindah di Amerika” biasanya sangat menarik perhatian kita. Mengapa? Sesuatu dalam daftar itu menggugah rasa keingintahuan kita. Mungkin itulah sebabnya mengapa Salomo menulis tentang “Tujuh Hal Yang Paling Dibenci Allah”. Daftar ini seharusnya menarik perhatian kita sebagai orang percaya.
 
“Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburka n kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara.” (Amsal 6:16-19).
 
Alasan Allah Membenci Kebohongan

Sangat menarik bahwa dua dari daftar “tujuh teratas” berhubungan dengan mengatakan hal yang tidak benar: “lidah dusta” dan “saksi dusta”. Allah sangat membenci kebohongan. Bohong adalah lawan dari sifat Allah. Dia adalah “Bapa segala terang; padaNya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran” (Yak. 1:17). Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” (Yoh. 14:6). Sebaliknya, perhatikanlah siapa setan itu: “Iblislah… adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.” (Yoh. 8:44).
Kata-kata setan yang pertama kita jumpai dalam Alkitab adalah kebohongan yang tidak tahu malu, dan ia tidak pernah berhenti berbohong sejak saat itu. Akibatnya, jika kita berbohong, kita berkelakuan lebih mirip anak setan dibanding anak Allah.
‘Dusta’ tidak semata-mata berbicara tentang kebohongan besar yang sering kita lakukan. Salomo juga mengingatkan kita tentang “bibir yang dolak-dalik” (Ams. 4:24) dan “mulut serong” (Ams. 6:12), yang dapat mengarah pada tiga penyimpangan kata-kata yang umum terjadi yaitu, sanjungan, pemutarbalikkan kata-kata dan pernyataan yang dilebih-lebihkan.
 
Sanjungan

Sanjungan adalah sesuatu yang dikatakan kepada orang lain tentang apa yang mereka ingin dengar untuk kepentingan dirinya sendiri. Seorang penyanjung tidak memiliki kepedulian sejati terhadap orang yang disanjungnya, justru ia sebenarnya memperlihatkan penghinaan dengan memanipulasi. Sanjungan lebih sering berakhir dengan bencana (Ams. 26:28; 29:5). Bencana itu bukan hanya dialami oleh orang yang disanjung, tetapi juga si penyanjung. Perhatikan frase “di depan kakinya” pada ayat tersebut di atas. Orang yang mendengarkan pujian yang berlebihan terancam bahaya, dan si penyanjung tersandung oleh ketidaktulusannya.
Lihatlah para pemimpin perusahaan, para politikus bahkan para hamba Tuhan yang membiarkan para penjilat mengelilingi mereka dengan sanjungannya yang selalu mengatakan apa yang ingin mereka dengarkan, bukannya apa yang perlu mereka dengarkan. Akibatnya selalu kehancuran.
 
Pemutarbalikkan Kata-kata

Seorang gembala ditanya oleh rekannya tentang jumlah orang yang menghadiri kebaktian di gerejanya. “Antara lima dan enam ratus,” jawabnya. Rekannya sangat terkejut saat mendengar dari rekan mereka yang lain beberapa minggu kemudian bahwa kehadiran di gereja rekan yang pertama adalah tujuh puluh dua orang. Karena penasaran, ia menelepon sahabatnya itu untuk mengkonfirmasi informasi yang didengarnya. “Kamu bilang yang hadir dalam kebaktian di gerejamu antara lima sampai enam ratus orang, mengapa orang lain bilang hanya tujuh puluh dua orang?” Gembala itu membela dirinya dengan berkata, “Ya. Bukankah tujuh puluh dua memang ada di antara lima (bukan lima ratus) dan enam ratus?”
Perhatikan Amsal 19:1, kata yang diterjemahkan sebagai ‘serong’ adalah kata-kata yang diucapkan berbeda atau diputarbalikkan, atau mengatakan “kebenaran” dengan cara yang dimaksud untuk menipu pendengar.
 
Pernyataan Yang Dilebih-lebihkan

Adakalanya kita tergoda untuk membumbui sebuah cerita supaya kedengarannya lebih ‘meyakinkan’ atau untuk memperjelas maksud kita (kadang-kadang hal ini juga dilakukan para hamba Tuhan dalam khotbahnya), misalnya “Engkau selalu tidak mau mematuhiku”.
 
Masalahnya adalah bahwa kebohongan, pemutarbalikkan kata-kata dan pernyataan yang berlebih-lebihan pada akhirnya akan terungkap. Ada sebuah cerita tentang seseorang yang karena kata-kata manisnya mendapat tempat dalam sebuah orchestra, walaupun ia tidak memiliki pendidikan musik. Setiap kali orchestra itu berlatih atau mengadakan pertunjukan, ia akan menempelkan seruling di bibir dan berpura-pura memainkannya. Ia menerima gaji dari orchestra itu dan menikmati gaya hidup yang cukup makmur.
Tetapi, suatu hari, raja meminta permainan tunggal dari setiap pemusik dalam orchestra itu. Pemain seruling itu menjadi takut sebab tidak mungkin ia belajar dan menguasai permainan instrument itu dalam waktu yang sangat singkat. Ia berpura-pura sakit, tetapi tabib kerajaan tidak dapat ditipu. Akhirnya ia minum racun untuk bunuh diri.
Firman Tuhan mengingatkan para pembohong, penyanjung, pemutarbalik dan orang yang suka melebih-lebihkan kata-kata bahwa akan tiba saatnya bagi mereka untuk menghadapi ‘konser musik tunggal’ dan menanggung resiko dipermalukan.

Leave a Comment

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

More from category

Dibawah Pohon Ara
Dibawah Pohon Ara

Di bawah Pohon Ara   Yesus menjawab, kata-Nya: “Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon [Read More]

E-SWORD DI MALANG
E-SWORD DI MALANG

Klik http://www.youtube.com/watch?v=FtDyI9itw3Q Klik http://www.youtube.com/watch?v=R_Ura39pwUI Puji Tuhan !! Pelatihan [Read More]

E-SWORD DI JAKARTA
E-SWORD DI JAKARTA

klik http://www.youtube.com/watch?v=FtDyI9itw3Q klik http://www.youtube.com/watch?v=R_Ura39pwUI Panitia sudah mulai [Read More]

KEMAJUAN TEKNOLOGI = KIAMAT SEMAKIN DEKAT
KEMAJUAN TEKNOLOGI = KIAMAT SEMAKIN DEKAT

Alkitab tidak menuliskan secara pasti tanggal hari kiamat. Namun demikian, Alkitab menuliskan beberapa tanda atau [Read More]

Setia Sampai Akhir
Setia Sampai Akhir

Akhir Juli 2009 Tak ada yang berubah dengan rumah yang sering disebut ibu Loji Pastoral itu. Masih tetap tertata rapi, [Read More]

Insider

Archives