Tuesday May 22nd 2012

Pelajaran Berharga

Author : | This author have 15 posts

(SUATU INTROSPEKSI) 

Setahun sudah, tepatnya tanggal 25 November 2009, Papi tersayang (Pdt. Gideon Herwanto. alm) kembali kepada Bapa di surga, ada banyak kenangan manis bersama beliau yang tidak pernah kami lupakan . . . . . . . . . . .

Saat itu, di sela-sela kedukaan yang menyelimuti kami, kami bersyukur ada banyak kerabat dan teman, termasuk teman-teman di milis ini yang menyatakan simpati dan dukungannya, kiranya Tuhan selalu memberkati anda semua.

Karena Papi adalah seorang hamba Tuhan, maka acara perkabungan dipimpin oleh para pengurus MD Jabar. Kami merasa bangga bahwa ada pelayanan khusus untuk para pelayan Tuhan, namun kebanggaan itu mulai sirna ketika pada awal kebaktian kedukaaan dibuka dengan lagu : “Kami naikkan syukur, pada-Mu”. Lagu ini sangat baik dan indah, akan tetapi akan sangat tidak cocok dilantunkan pada saat kita dalam suasana berduka seperti itu.

Silih berganti para pengurus MD Jabar membawakan renungan untuk penghiburan, terimakasih kepada bapak-bapak semua yang telah ambil bagian dalam pelayanan ini, kiranya Tuhan memberkati anda semua, tidak ada maksud buruk dari kami, selain agar kita dapat meningkatkan mutu pelayanan kita.

Namun sangatlah disayangkan bahwa renungan-renungan FT yang dibawakan sangatlah panjang, paling pendek durasinya 60 menit, bahkan ada yang lebih dari 90 menit, padahal kami sedang berduka dan lelah. Topik pembahasan sangat monoton, hanya berkisar pada sosok Papi (alm). Ada yang bicara angka umurnya katanya baik sekali, terlalu menekankan pada perjuangan yang dilakukan, dan yang paling menyakitkan adalah ketika menyinggung mengenai perbedaan denominasi yang ada di tengah keluarga. Perbedaan ini terlalu dihembus-hembuskan seolah merupakan masalah, dan juga dibumbui dengan kemungkinan semua pihak minta bagian pelayanan sehingga akan memakan sangat banyak waktu, padahal kami tidak merasakan adanya masalah tersebut, dan tidak mempermasalahkan siapapun yang memberikan pelayanan.

Saya teringat pada seorang dosen waktu mengikuti perkuliahan di STT dulu. Beliau selalu mengingatkan bahwa apabila suatu saat anda dipercaya melayani suatu kebaktian penghiburan, anggaplah itu sebagai lahan terbuka bagi suatu KKR kecil. Beritakan bahwa kematian di dalam Kristus adalah awal memasuki kehidupan baru yang kekal yang telah Allah janjikan, siapkan dan ingatkan semua yang hadir untuk menghadapi saat kematian yang entah kapan pasti menghampiri mereka, dan jangan lupa bahwa keluarga sedang berduka maka sebaiknya tidak lebih dari 20 menit saja.

Saat ini saya masih ingat betul apa yang dipesankan beliau (Pdt.DR.RAA M.Div.Ph.d), dan setiap kali saya dipercaya Tuhan untuk pelayanan kebaktian penghiburan saya selalu gunakan kesempatan itu sebagai suatu KKR kecil. Kiranya ini dapat menjadi pelajaran yang berharga untuk kita semua para pelayan Tuhan. Kiranya Tuhan Yesus memberkati pelayanan kita semua.

*Mohon maaf bila ada yang merasa tersinggung,
Semua hanya ditujukan utk perbaikan pelayanan kita
Sebagai para Hamba Tuhan.

Salam,
paul herwanto

Previous Topic:

Leave a Comment

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

More from category

Dibawah Pohon Ara
Dibawah Pohon Ara

Di bawah Pohon Ara   Yesus menjawab, kata-Nya: “Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon [Read More]

E-SWORD DI MALANG
E-SWORD DI MALANG

Klik http://www.youtube.com/watch?v=FtDyI9itw3Q Klik http://www.youtube.com/watch?v=R_Ura39pwUI Puji Tuhan !! Pelatihan [Read More]

E-SWORD DI JAKARTA
E-SWORD DI JAKARTA

klik http://www.youtube.com/watch?v=FtDyI9itw3Q klik http://www.youtube.com/watch?v=R_Ura39pwUI Panitia sudah mulai [Read More]

KEMAJUAN TEKNOLOGI = KIAMAT SEMAKIN DEKAT
KEMAJUAN TEKNOLOGI = KIAMAT SEMAKIN DEKAT

Alkitab tidak menuliskan secara pasti tanggal hari kiamat. Namun demikian, Alkitab menuliskan beberapa tanda atau [Read More]

Setia Sampai Akhir
Setia Sampai Akhir

Akhir Juli 2009 Tak ada yang berubah dengan rumah yang sering disebut ibu Loji Pastoral itu. Masih tetap tertata rapi, [Read More]

Insider

Archives