Tuesday May 22nd 2012

Pdt.Yos Hartono: Mata Hati

Author : | This author have 258 posts

Yang satu Goliat dengan postur tubuh bagaikan raksasa, punya pengalaman di medan tempur sekian lama bahkan juga dia dilengkapi dengan senjata peperangan yang saya yakin untuk zaman itu adalah senjata-senjata yang modern, modern nya untuk zaman itu. Sebaliknya tokoh yang satu kita tahu Daud seorang yang tidak mempunyai pengalaman secara langsung di medan tempur kecuali berperang dengan berbagai hewan yang mengganggu domba-domba ternakannya selama ia menjadi penggembala ternak, bahkan Alkitab mengatakan Daud masih seorang remaja yang pipinya masih merah dan secara postur tubuh juga sangat jauh perbedaannya jika dibanding dengan Goliat. Inilah duel yang tidak seimbang , yang tidak sebanding.

Dan kalau ini diperhadapkan kepada kita sebagai manusia pada umumnya dengan persepsi kita, saya yakin kita dengan terburu-buru menyimpulkan bahwa yang menang Goliat. Saya yakin sebagian besar manusia kalau diperhadapkan dengan 2 pilihan, yang satu demikian besar yang satu kecil; yang satu dilengkapi dengan senjata perang yang mungkin menurut teknologi zaman itu yang paling mutakhir sedangkan yang lain tidak membawa perlengkapan perang, yang Goliat mempunyai pengalaman di medan tempur sekian lama sedangkan Daud sama sekali tidak, sekali lagi kalau ini diperhadapkan kepada kita dan kita disuruh memilih, atau disuruh menebak dengan undian yang diimingkan; saya yakin 99,90 % akan memilih Goliat-lah yang m e n a n g ! Tetapi kita sudah tahu kisah itu bukan ? Goliat yang kalah – Daud yang m e n a n g !

Nah, disinilah kita bisa melakukan perenungan, ternyata apa yang disimpulkan oleh manusia t i d a k selalu benar, sekalipun manusia mempunyai kemampuan-kemampuan rasional, logical untuk membuat keputusan dalam hidupnya tetapi dengan perenungan antara dua orang yang tak sebanding secara phisik ini, kita bisa menarik pula perenungan itu bahwa tidak selamanya apa yang disimpulkan manusia dalam keterbatasannya itu selalu b e n a r; atau tidak selamanya apa yang dilihat oleh m a t a itu memberi hasil yang baik.

Saya percaya 99,90 % kalau disuruh memilih, mana yang akan menang ketika duel itu dipertontonkan didepan kita; saya yakin mayoritas orang sebanyak-banyak nya orang akan berkata Goliat yang menang dilihat dari segi manapun juga, Goliat pasti menang. Itu kalau kita mengandalkan m a t a kita, itu kalau kita mengandalkan r a s i o kita. Perbandingan-perbandingan yang kita olah dengan rasio kita; sekali lagi kita akan berkata Goliat yang menang. Tetapi Allah membalik, kesimpulan manusia dibalik. Bukan Goliat kog yang menang, tapi Daud – kita tahu itu, bukan Goliat. Dengan lain kata, Allah dapat membalik apa yang telah disimpulkan manusia. Allah dapat memutar balik sedemikian rupa apa yang menurut manusia itulah yang benar, itulah yang baik, itulah yang menang; t a p i Allah memutar keadaan sedemikian rupa – bukan Goliat – bukan yang besar, bukan yang penuh kelengkapan, bukan yang penuh fasilitas yang menang t e t a p i seorang remaja Daud dalam kesederhanaan nya – itulah yang menang !!

Kalau begitu kita pun bisa belajar !!. Jangan secara mutlak mutlak-an mengandalkan segala sesuatu dari apa yang dicapai oleh indera kemanusian kita (penglihatan kita). Sehebat hebatnya manusia, dia tetap ada titik-titik rawan yang sangat berbahaya. Kalau begitu dalam kemanusiaan kita jangan memutlakkan – \mutlak\”. Apa yang menurut mata ku baik – itu baik ! tunggu dulu !! Apa yang menurut pendapat ku tepat – itulah dia yang paling tepat ! – tunggu dulu !! Jangan memutlakkan segala sesuatu yang muncul dari ke manusiaan kita. Tidak selamanya yang mayoritas itu yang benar \”kan ?? Mayoritas orang mengatakan Goliat yang menang – tapi ternyata t i d a k benar \”kan ? Minoritas yang m e n a n g !.

M A T A H A T I .

1. JANGAN ME-MUTLAK-KAN SEGALA SESUATU. Sekali lagi renungan pertama dari kisah yang sangat sederhana ini jangan kita me MUTLAK kan sesuatu yang didasarkan pada MATA ini atau pada pengamatan INDERAWI kemanusia an kita. Sebab semampu-mampunya dan se hebat-hebat nya seluruh indera kita, kita manfaatkan untuk mengambil langkah, untuk membuat keputusan, untuk menentukan sesuatu masih mengandung titik-titik lemah dan itu bisa membuat segalanya F A T A L – kalau begitu bagaimana……… ? Pakailah MATA HATI, Halleluyah !!.

\”Mata hati\” itu sebuah hal yang riil ada dalam manusia – pakailah mata batin. Kita mempergunakan mata tetapi jangan mengabaikan yang batiniah. Sebab yang mata hati itu kadang kadang lebih tajam – NURANI itu kadang kadang lebih j u j u r. Oleh karena itu aktif kan juga kemampuan nurani kita, kemampuan mata hati kita. Manfaatkan juga untuk melihat sesuatu, untuk memutuskan sesuatu, untuk melangkah kepada sesuatu, pakailah juga ketajaman mata hati nurani kita. Jangan me-mutlak-kan sama sekali mata ini atau alat alat indera kemanusiaan kita atau sekaligus kemampuan intelektual kita. Bagaimanapun ada sisi lemah. Lihatlah disini Allah membalik semua nya menjadi salah. Sekalipun menurut analisamu, sekalipun menurut sudut pandangmu, sekalipun menurut penglihatanmu – kamu katakan Goliat yang menang; tapi Allah berkata bukan. DAUD yang menang. Allah ingin mengajar kita disini: \”Jangan me-mutlak- kan segala sesuatu\”.

Coba kita lihat satu kisah ketika orang terjebak dengan sudut pandang mata fisiknya – dia kalah !! —-> Kej. 3:6. Dari hal kejatuhan manusia yang dimulai dari mengandalkan matanya. Ketika Hawa melihat sesuatu yang sangat menarik, memikat, Iblis tahu kelemahannya dan diperalatlah kelemahan tersebut dan akhirnya dimulai dengan mengandalkan matanya – menutup h a t i, hati yang sudah diberi Firman, ditutup. Tuhan berfirman: \”..silahkan makan semua, yang satu itu jangan\”. Allah sudah memberi mata hati kepada mereka dan dengan mata hati itu mereka bisa membedakan mana yang berkenan dan tidak berkenan. Tetapi karena manusia telah terpesona dengan obyek yang menarik, tetapi karena manusia telah terpikat dengan satu obyek yang dapat dianggapnya memberikan kenikmatan. Bertolak dari sudut pandang mata fisiknya, apa hasilnya – FATAL, kegagalan yang harus dipikulnya. Manusia harus kehilangan Firdaus, manusia harus kehilangan keindahan Eden – masuk dalam lembah bumi yang penuh onak duri – untuk mencari makanpun harus berkeringat, demikian Firman Tuhan katakan. Dimulai dari mana kefatalan, kegagalan, kehancuran, nasib yang tragis manusia itu ? dari h a t i !! Dia melihat satu obyek yang menarik dan itu mempengaruhi seluruh potensi kemanusiaannya. Akhirnya dia bertindak dan jatuhlah dalam d o s a. Ketika manusia mulai me- mutlak-kan , ketika manusia mulai mengandalkan kemampuan indera kemanusiaannya – sambil menutup mata hati nya – lihatlah, itu hasilnya !. Jangan tertipu !!

Sehebat hebatnya kemampuan kemanusiaan kita, tetap ada titik-titik rawan yang berbahaya yang harus kita waspadai. Oleh karena itu pergunakanlah mata hati , apalagi mata hati yang telah di terangi oleh Firman Allah – pakailah untuk menganalisa, pakailah untuk mengkaji, untuk menimbang-nimbang segala sesuatu supaya kita tidak jatuh dalam berbagai ke fatalan seperti yang dialami Hawa & Adam. Pertajam mata hati, Saya tertarik dengan iklan koran Kompas yang selalu menyebut Mata Hati. Ini adalah Elemen yang riil ; H A T I !!

Bahkan Firman Allah berkata justru dari hati itu akan mengalir beberapa Air Hidup, tetapi manusia suka menutupnya, lebih mengandalkan kemampuan fisiknya dengan perhitungan-perhitungan, kalkulasi-kalkulasi rasio fisiknya. Dia tarik kesimpulan, dia melangkah – nanti menyesal belakangan. Firman Allah sudah melengkapi kita dengan satu perangkat: \”MATA HATI\”. Pergunakanlah !! Dengan MATA HATI kita bisa melihat sesuatu yang tidak kelihatan.

Newton pernah berkata demikian: \”Dengan mata ku ini dibantu dengan alat teleskop atau apa saja namanya, aku bisa melihat bintang-bintang dilangit dengan jelas, tetapi dengan HATI ku aku bisa melihat segala sesuatu yang ada dibelakang bintang-bintang, dengan Mata Hati ku aku bisa melihat apa yang ada dibelakangnya bintang-bintang (yang dibelakang bintang-bintang itu tidak bisa dilihat dengan kasat mata atau dengan alat bantu apapun). Apalagi Mata Hati yang telah diterangi oleh Firman Tuhan. Saudara bisa melihat kemulian Allah yang luar biasa.Puji Tuhan !!

Epesus 1:18: \”Dan supaya Ia (Tuhan) menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilanNya, betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukanNya bagi orang orang kudus\”. Jadi, ada !, mata hati itu ada !. Firman Allah mengakui itu – jelas ‘kan ?? Dengan apa kita dapat melihat rahasia didalam panggilan Tuhan? dengan perangkat apakah? dengan fasilitas apakah kita bisa melihat kemuliaan yang terkandung dalam rahasia panggilan, dengan perangkat apakah – dengan alat apakah, dengan sarana apakah kita bisa mengalami kemulian Allah sekaligus kehebatan KuasaNya ?! Dengan Mata Hati , Mata Hati yang di terangi – Puji Tuhan !

Oleh karena itu carilah Terang terus….., Firman Tuhan, YESUS, itu terang, terus.carilah. Mata hati disinari dengan terang supaya kita tidak terjebak dengan kemampuan-kemampuan indera kemanusia-an kita dengan kemampuan-kemampuan logical kita – lalu kita tanpa berpikir dari sisi mata hati kita cepat mengambil langkah, jangan-jangan kita salah seperti Hawa & Adam. Mereka terpental di hadirat kemulian Tuhan Yesus. Allah sudah menyatakan dalam duel tadi, Goliat pasti menang – dilihat dari fisiknya lebih besar, dilihat dari perlengkapan perang lebih modern, lebih menjanjikan, dilihat dari pengalaman perang, bertanding lebih hebat. D a u d apa itu ?! Pasti Daud kalah. Yach……,.kalau kita lihat dari mata itu, betul – sepintas kita cepat menarik kesimpulan Daud yang kalah, betul ! Kalau analisa kita hanya dari perhitungan perhitungan logical kita, benar Daud yang kalah, Goliat yang menang. Tetapi Allah ingin memberitahu kepada kita – cobalah lihat segala fenomena hidup itu jangan mutlak dengan kekuatan indera kemanusiaan kita saja – tapi pergunakanlah mata hati kita yang diterangi oleh Firman Allah. Pergunakan !

Mengapa kita sering kuatir ? Mengapa kita resah, cemas dengan persoalan hidup yang kita hadapi ?. Jawabannya hanya satu: Semua itu karena h a t i. Makanya pakai h a t i yang diterangi Firman yang bisa melihat pengharapan dalam rahasia panggilan Allah, kita akan melihat dan kita akan berkata dengan nada optimis, betapa hebat kuasaNya akan menyertai dan menolong kita ! Itu hanya orang yang memakai mata hati; bukan mata ini. Kalau cuman mata ini – hanya bisa mengeluh dan mengeluh melihat kesulitan hidup yang dihadapi. Itulah hasilnya . Tapi begitu apa yang kita pandang dengan mata – apa yang kita pikir dengan akal kita – kita mau tundukkan kepada mata hati. Mata hati kita berkata: Tapi, Tuhan berjanji betapa hebat kuasaNya bagi orang percaya. Tumbuh lagi semangat juang kita ! Pakai mata hati saudara di bumi yang mulai kacau begini. Saudara berpikir – Stress, saudara melihat – stress. Pakailah mata hati !! Jangan me- mutlak kan kemampuan kemampuan indera kita. Jangan-jangan kita akan tersesat.

2. JANGAN MEREMEHKAN HAL-HAL YANG KECIL. Allah membalikkan realitas yang ada. Jangan meremehkan hal-hal yang kecil. Tidak selamanya yang kecil itu kalah, tidak ada artinya. Bandingkan dengan Firman yang ada di injil Lukas 17 , sebab dalam yang kecil ada POTENSI untuk menjadi besar. Oleh karena itu jangan cemas dan jangan meremehkan hal-hal yang kecil. Sebab dalam yang kecil pun itu tetap ada potensi untuk menjadi besar. Jadi tetaplah optimis, tetaplah bersyukur kalau apa yang menurut saudara: saya masih kecil, usaha masih kecil, semua masih kecil. TEGAR kan dulu. Jangan anggap yang kecil itu tidak ada artinya. Yang kecil itupun berpotensi untuk menjadi besar. Amin !!.

Kita lihat penghargaan YESUS kepada yang k e c i l – Yesus mencoba menunjukkan bahwa yang kecil itu punya potensi untuk menjadi besar – jadi jangan meremehkan DAUD yang kecil – sebab ternyata yang kecil itu yang menang. Luk 17:5-6: \”Tambahkanlah Iman kami !\” (Ini permintaan murid-murid, tambahkan Iman kami, perbanyak lah Iman kami, itu kan yang diminta, perbesarlah Iman kami – itu yang diminta ? ay. 6, Jawab Tuhan: \”…sebesar biji sesawi saja\” (itu kecil sekali)\”. Apa yang dikehendaki murid-murid ketika merasa g a g a l, tambahilah, perbanyaklah – itu maunya kita ! Maunya banyak terus.

Manusia ‘kan kadang-kadang serakah, sudah punya pun ingin banyak terus. Itulah, ….lihat murid murid Tuhan, tambahi lah, tambahilah dan tambahilah ! Itu hampir semua manusia cenderung seperti itu tidak pernah PUAS , dengan apa yang dipercayakan Tuhan. Ok, ketika ia kepingin mempunyai banyak ia hidup dalam mata hati – tidak ada masalah ! Tapi kalau demi mengejar banyak, menumpuk banyak, mata hati ditutup – mulai pakai otak – licik-licik, ya…..itulah kecenderungan kita; b e r b a h a y a !.

Murid murid juga begitu, tambahkanlah………ketika merasa tidak berdaya. Tapi apa jawab YESUS: \”Ngapain lu minta tambah ? Yang sedikit aja kaga bisa pakai; sedang yang kecil aja lu kaga bisa. Nah….bagaimana kalau Tuhan menyindir kita, Tuhan tambah in dong, gedein dong. Enak aja lu ! Dipercaya yang ini aja lu kaga tanggung jawab. Yesus bilang apa: Barangsiapa setia kepada yang kecil – di gede in sama Tuhan. Jadi jangan menganggap remeh yang kecil-kecil, lalu kita stress karena sedang mempunyai yang kecil. Cobalah pakai mata hati, terangin dengan Firman, Yesus berkata, ternyata didalam yang kecil ada potensi untuk menjadi besar. Andaikata kamu punya Iman sebesar bagaikan biji sesawi (k e c i l), kamu bisa memindahkan gunung yang besar sekalipun. Itu POTENSI nya, jadi bukan soal banyaknya, tapi potensi nya.

Begitu juga dalam hal berdoa, bukan teriakannya yang kencang, volume doa yang keras, tapi potensi Iman ketika berdoa itu yang penting dan memberi h a s i l. Mungkin saudara hanya berdoa secara pelan bahkan nyaris tak terdengar (komat-kamit): \”Tuhan inilah saya , tolong saya…….\” tapi disertai dengan potensi Iman yang hidup; maka engkau akan melihat jawaban Allah dalam doa yang sekedar komat kamit itu. Sebaliknya Tuhan belum tentu mendengar doa yang disertai teriakan-teriakan yang keras ! Kalau engkau mempunyai Iman sebesar biji sesawi – k e c i l , engkau bisa mempunyai daya yang besar untuk memindahkan gunung tanpa buldozer.

1 Samuel 17:32 Daud melihat semua orang Israel gentar, l a r i, t a k u t , melihat penampilan Goliat yang menakutkan. Termasuk Raja Saul. Bagaimana kalau pimpinan sudah merasa takut – semakin tidak ada kekuatan pada rakyatnya. Saul pun gentar menghadapi Goliat. Suaranya menggelegar masuk ke kuping mereka, mereka sudah lari ketakutan. Itulah fenomena yang dapat kita tangkap dalam kisah ini. Dan mungkin seperti itu juga fenomena itu berulang didepan kita hari ini. Mendengar ini gentar, melihat ini gentar, berpikir ini gentar. Kalau kegentaran itu kita biarkan terus, bagaimana kita menang ? kita harus mengambil siasat, bagaimana menghadapi GOLIAT-GOLIAT yang hari demi hari semakin mengerikan hidup kita. Kita harus mengambil langkah. Langkah-langkah / perlengkapan yang dipakai Daud adalah:

1. H A T I. Dia memandang Goliat dengan hati dan bukan hanya melihat secara pasif dengan hati, tetapi ketika ia melihat Goliat yang penampilannya mengerikan itu dengan h a t i ! H a t i itu di tata oleh Daud. Bagaimana hati itu tidak tawar seperti mayoritas, seperti SAUL, seperti orang Israel lain. Dia menatap Goliat dengan mata hati yang tidak pasif, tetapi mata hati yang terus bekerja , mengolah dengan tajam sampai muncul satu keberanian. Itu senjata DAUD yang pertama. Jangan seorang pun tawar hati; h a t i yang dijaga menghadapi masalah itu, menghadapi Goliat-goliat yang mengerikan itu tata hati kita duluan. Betulkan hati kita duluan.

Contoh yang lebih konkrit dari pengalaman Daud dengan senjata hati menghadapi Goliat yang mengerikan, 1 Samuel 30:6 Daud dalam keadaan terjepit. Saudara, bayangkan orang yang dalam keadaan terjepit – bisa lumpuh, (Bhs. Jogya: kepepet). Daud kepepet buanget; disamping itu Daud di demo oleh anak buah nya (dilempari batu). Perhatikan kalimat dari ayat terakhir: \”….Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan, Allah nya\”. Itulah SENJATA nya Daud.

Kondisi Daud kepepet / terjepit:

Ancaman EXTERNAL:

- Daud dikejar Raja Saul (waktu Saul masih cemburu).

- Ketika dalam pengungsian di tanah Negeb, datang musuh membakar kemahnya. (1 Samuel 30:3).

Ancaman INTERNAL:

- Anak buah demo – protes, hendak melempari Daud dengan batu, kepepet, terjepitlah Daud (1Samuel 30: 6) . Mau kemana dia ? Dari luar ancaman dari dalam anak buahnya yang protes. Sekali lagi terjepitlah kondisi Daud, untuk menangispun sudah tidak mampu (ayat 4 b) – suatu expresi terjepit yang sangat luar biasa. Tapi apa senjata Daud ? \”…Daud menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan, Allah nya.\” – (terjemahan lain: Tetapi Daud membesarkan hatinya, memberani hatinya, ketika menghadapi kondisi keterjepitan itu). Hati nya yang diperbesar, hati nya yang diolah sedemikian rupa dan Daud mampu !

Saudara, ada satu situasi dimana kita membawa barang 5 kg saja t i d a k berdaya, tapi ada situasi lain kita m a m p u mengangkat barang 25 kg. M e n g a p a ?? Faktor pertama: SIKON yang tidak sama, Faktor kedua: EMERGENCY, POTENSI yang tidak sama. Sehingga pada satu ketika mengangkat 5 kg saja tak berdaya; tapi pada satu situasi yang lain 25 kg kita enteng memikulnya. Dan yang jelas faktor TEKAD HATI. Ketika orang tidak punya hati yang bertekad, angkat 5 kg itu beratnya luar biasa. Tapi ketika orang punya tekad hati yang besar , 25 kg enteng saja untuk dipikul.

Saya punya 3 anak, 2 sudah bisa diajak berdiskusi dan yang satu masih kecil. Suatu ketika dua anak ini melihat kucing. Yang satu berteriak ketakutan, sedangkan yang satu berani bahkan didekatin kucing tersebut, diajak bermain. Masalahnya sama yaitu: SEEKOR KUCING. Tapi reaksi terhadap seekor kucing bisa berbeda. Faktor apa itu ?? Yang satu ketakutan, kalah tak berdaya, yang satu, happy, penuh sukacita melihat kucing. Faktor apa itu ?? Masalahnya sama yaitu: SEEKOR KUCING. Bukankah seperti itu juga keadaan kita.?? GOLIAT persoalan hidup, GOLIAT penyakit ada didepan kita, anak Tuhan yang satu l a r i , ketakutan – melihat persoalan hidup, yang satu lagi melihat GOLIAT sambil bercanda dengan sukacita. Faktor apa itu ?? Apakah yang berani itu fisiknya lebih besar dari GOLIAT, bukan !! Melainkan karena kondisi h a t i yang berani menatap GOLIAT.

2. KEBERADAAN / KETRAMPILAN DIRI SENDIRI. 1 Samuel 17:48. Pada saat Daud melawan Goliat, kemampuan yang dimiliki Daud hanyalah memainkan KETEPIL. Daud tidak menuntut, aku harus punya perlengkapan perang dulu baru mau berperang. Berbeda dengan kita, minta dan menuntut fasilitas lebih dahulu dari Tuhan baru mau jalan. Tuhan, saya mau melayani, asal…, saya mau melayani ini dan itu a s a l….., Berbeda dengan Daud, dia memberdayakan apa yang ada di tangannya, dia mensyukuri apa yang ada di tangannya, dia memberdayakan apa yang menjadi keahliannya. Itu yang dipakai – sederhana sekali !

Itulah senjata Daud menghadapi Goliat – yaitu dengan apa yang ada padanya.- k e t e p i l dan batu kecil, ditambah dengan kemampuan dia memainkan ketepil itu. Kenapa berani ? Karena Daud berdasar kepada senjata pertama: HATI YANG BERTEKAD dan TIDAK PERNAH TAWAR HATI.

Apapun persoalan kita, sebesar apaun masalah yang kita hadapi, selama menyongsong persoalan dengan hati yang tegar, kita akan punya OPTIMISME, aku dapat mengatasi persoalan, apalagi dengan hati yang percaya kepada Tuhan, bersama TUHAN aku lakukan perkara yang besar. Pantekosta.., modalnya hati yang percaya. Sudah terbukti ! Uang kas gereja cuman sedikit tapi bermodalkan percaya kepada Tuhan bisa membangun gereja dengan biaya yang besar.

3. NAMA TUHAN YESUS. 1 Samuel 17:45 Kita punya h a t i, fasilitas dan keahlian sekalipun sederhana, batu-batu kecil dan ketepil. Kita punya keahlian main ketepil. Tapi itupun belum cukup ! ! Daud sudah memiliki: H a t i yang tidak gentar melawan GOLIAT dan fasilitas perang, sekalipun sangat sederhana yaitu batu batu kecil dan ketepil, ketrampilan dan keahlian dalam bermain ketepil. Tapi Daud mau mengajar kita untuk mengalahkan GOLIAT, ada satu hal lagi yang harus kita miliki sebelum maju melawan GOLIAT yaitu; NAMA TUHAN. Apalah artinya sebuah keahlian dan kemampuan-kemampuan profesional kita serta fasilitas yang semuanya itu kita miliki diluar TUHAN, kita akan mengalami kekalahan. Namun, dengan hati yang tegar, dengan keahlian yang Tuhan berikan kepada kita serta fasilitas kemampuan yang profesional yang Tuhan berikan, bersyukurlah. Tapi janganlah melangkah melawan Goliat sebelum engkau yakin semuanya telah dibawa didalam NAMA TUHAN. Serahkan semua dalam tangan Tuhan, Allah mu , berkaryalah, aku ingin melangkah di dalam NAMA MU. Dalam NAMA TUHAN SEGALANYA BOLEH TERJADI, dalam NAMA YESUS IBLIS DIKALAHKAN, dalam NAMA YESUS GOLIAT bisa dikalahkan, penyakit disembuhkan. Berjalanlah dalam NAMA YESUS, sekalipun kau punya fasilitas dan lain sebagainya. Pulanglah saudara saudaraku, dan b e r j a l a n l a h bersama dengan NAMA YESUS maka hidup mu , langkah mu akan di berkati dalam KEMENANGAN – EL SHADDAI – Tuhan memberkati.(Pdt.Yos.Hartono.swd,Ketapang 11 Agustus 2002)***

Leave a Comment

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

More from category

Pantekosta
Pantekosta

Ayat Pokok: Kisah Para Rasul 2:1-4 Setelah 10 malam mengadakan kebaktian doa, hari ini kita tiba pada puncak perayaan: [Read More]

Berkat Umum dan Berkas Khusus
Berkat Umum dan Berkas Khusus

Hari ini adalah hari gereja pantekosta. Mungkin lain tahun kita akan adakan acara khusus setiap hari pantekosta. Kita [Read More]

Natal, Orang Majus dan Kita
Natal, Orang Majus dan Kita

Matius 2:1-12 Apakah makna natal? Salah satunya dapat kita rujuk pada peristiwa orang Majus yang datang ke Betlehem dan [Read More]

Natal
Natal

Ayat Pokok : Kidung Agung Hari-hari ini kita tengah memperingati Hari Kelahiran Tuhan Yesus.  Allah Yang Maha Kuasa [Read More]

Kita Bukan Lagi Dibawah Hukum Taurat,
Kita Bukan Lagi Dibawah Hukum Taurat,

Kita Bukan Lagi Dibawah Hukum Taurat, Tapi Dibawah Kasih Karunia. Firman Tuhan, Kolose 2:6-14, Dalam Dia kamu telah [Read More]

Insider

Archives