Ayat pokok : Yohanes 6 : 60 – 66. Murid-murid mengundurkan diri.
Setiap anak Tuhan memiliki pengalaman yang berbeda-beda, ada yang baik atau yang buruk dalam menjalani hidup ini. Hidup ini punya pengaruh, hidup ini punya nilai, sekarang bagaimana kita menghargai sesuatu yang berbilai/bermutu. Kita berada dalam gelanggang perlombaan dan semua mengawasi latihan dan kedisiplinan kita dalam mengikuti perlombaan.
Ibrani 12 : 1, “Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, merilah kita meninggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.”
Ayat tersebut mengingatkan supaya kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi/menghalangi perlombaan itu; jadi hidup kita punya pengaruh dilihat oleh orang bagaikan awan yang mengelilingi kita, apa yang kita lakukan selalu disorotm baik atau buruk. Kita adalah garam dunia; garam punya pengaruh, ia dapat menahan kebusukan, dapat menyedapkan masakan, akan tetapi jika garam itu kehilangan asinnya, akan diinjak-injak orang.
Matius 5 : 13, “Kamu adalah garam dunia, jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tiadak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”
Markus 9 : 50 – 51, “Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan sellau hidup berdamai yang seorang dengan yang lain.”
Kalau ada yang menyumbat komunikasi kita dengan Tuhan, kita harus berusaha mencari penyebabnya supaya kita diberkati oleh Tuhan.
Pada tanggal 2-6 April 2004 merupakan satu pengalaman yang berharga bagi kamu, yaitu kamar mandi di pastori atas tersumbat jalan keluar airnya, untuk mencari penyebabnya lantai kermaiknya harus dibongkar. Tupanya pipa masuk lantai cor semen dan tiang beton, terpaksa kami harus membobol tembok, mengganti pipa baru. Penyumbatan tidak terjadi sekaligus, melainkan sedikit demi sedikit. Adakalanya hubungan kita dengan Tuhan mengalami penyumbatan sehingga kasih dan berkat Tuhan tertahan. Tentu ada penyebabnya dan kita harus mencari jalan keluarnya dengan datang di kaki Tuhan, memperbaiki komunikasi dengan Tuhan. Mungkin ada “sampah-sampah” yang menyumbat aliran kuasa dan kasih Tuhan berupa kepahitan, persungutan, kejahatan yang diperbuat sedikit demi sedikit akhirnya menjadi banyak dan menjadi penghalang.
Ayat pokok kita dalam Yohanes 6 : 60-66 dimana banyak murid-murid yang undur dan meninggalkan Tuhan karena pengertian dan pengetahuan mereka tersumbat, tidak memhami jalan pikiran Yesus. Yesus katakana Akulah Roti Hidup dan itu harus dimakan dan DarahNya harus diminum, hal ini membuat banyak pengikut Yesus tidak mengerti dan mulai bersungut-sungut. Adakalnaya dalam pengajaran Yesus, kita membaca hal-hal yang tidak dapat dimengerti karena Yesus menggunakan istilah bahsa Yunani – secara Typologi dan Allegoris.
‘Typologi” adalah lambing-lambang, symbol, logo, lukisan atau ilustrasi.
“Allegoris” adalah perumpamaan, ibarat, pertimbangan, persamaan, dan penggambaran.
Contoh : Matius 13 : 10-15, “Maka datanglah murid-muridNya dan bertanya kepadaNya : “Mengapakah Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan (allegoris)?. Jawab Yesus : “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil daripadanya. Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat , mereka tidak melihat, sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti…”
Yesus banyak kali menggunakan perumpamaan atau symbol, sebab Yesus tahu pendengaran dan pengertian mereka tumpul atau tersumbat oleh Hukum Taurat. Dalam ayat pokok tersebut, murid-murid yesus mengatakan bahwa perkataanNya keras dan siapa yang dapat sanggup mendengarnya. Yesus di dalam hatiNya tahu bahwa murid-muridNya bersungut-sungut tentang hal itu dan berkata kepada mereka : “ Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu? (Yohanes 6 : 60 – 61, 65 – 66).
Kata “sungutan’ (Bahasa Yunani = Gonggusmos) adalah kejengkelan, perasaan tidak puas, putus asa, jadi ada satu perasaan yang tidak puas yang dilontarkan atau masih tersimpan dalam hati yang tidak diungkapkan. Sungutan ini selalu menyumbat hubungan komunikasi dalam segala hal, bisa terjadi antara suami istri, orangtua dengan anak, gembala dengan jemaat, pimpinan MW dengan gembala-gembala atau MD dengan KD atau gembala, dan seterusnya. Pasti setiap orang pernan mengalami persungutan. Itu akan menyumbat berkat Tuhan dan kasih Tuhan, karena ada sampah-sampah yang menyumbat.
Kita baca dalam Alkitab bagaimana umat Israel dalam perjalanannya dari tanah Mesir ke tanah Kanaan, berkali-kali mereka bersungut-sungut/berbantah-bantahan terhadap Musa dan Allah.
Keluaran 16 : 1-3, 6-8 – Sungutan soal makanan, roti dan daging.
Keluaran 17 : 1-3 – Sungutan karena tidak ada air.
Keluaran 14 : 1-4 – Sungutan pemberontakan.
Bilangan 14 : 27-31 – Semua yang bersungut-sungut tidak smpai ke Kanaan hanya Yosua dan Kaleb yang berumur 20 tahun ke atas yang keluar dari Mesir dan masuk tanah Kanaan.
I Korintus 10 : 10 – 12. “janganlah bersungut seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut. Sehingga semua ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana jaman akhir telah tiba. Sebab itu siapa yang menyangka bahwa ia telah teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!.”
Sungutan itu terjadi karena kurang puas terhadapa dirinya, atau ingin mencari kesalahan orang lain dengan membuat isu-isu yang tidak benar serat mengecewakan orang lain. Rasul Paulus menasehatkan kepada jemaat Filipi.
Filipi 2 : 14 – “ Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan.’
Kolose 3 : 17 – “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus sambil mengucap syukur olah Dia kepada Allah, Bapa kita.”
Apa yang menjadi bagian kita, hak kita, tanggung jawab kita yang dinyatakan kerjakanlah itu, karena Tuhan ada bagianNya, hakNya, tanggung jawabNya bagi kita, yaitu yang tersembunyi, misalnya memberkati kita dan menjawab doa-doa kita.
Ulangan 29 : 29 – “ Hal-hal yang tersembunyi adalah bagi Tuhan, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan Taurat ini.” (Pdt. Herling Wenur)
