Ayat Pokok: 2 Tawarikh 7:1-3
Saya banyak merenungkan fenomena yang terjadi akhir-akhir ini, dimana banyak anak Tuhan pindah ke gereja lain. Atau mungkin masih tetap berbakti di gereja lokal, tetapi di hari hari lain, pergi ketempat-tempat lain. Mengapa ? Sebab ada rasa lapar yang tak terpenuhi.
Kitab Rut 1:1 berkisah tentang satu keluarga yang meninggalkan Betlehem untuk menetap di Moab sebab ada kelaparan di Betlehem, Di Bethlehem = \”rumah roti\” tidak terdapat cukup roti untuk dikonsumsi umat Allah. Awalnya keluarga ini tampak beroleh jalan keluar, tetapi kenyataan yang harus dihadapi ialah: kematian lepas kematian terjadi dalam keluarga ini. Ketika itu, bukan cuma keluarga Elimelekh yang ditimpa kelaparan, tetapi yang lain tetap menunggu di Betlehem sampai lawatan Allah datang. Inilah langkah yang terbaik.
Lawatan Allah.
Ketika Salomo selesai berdoa, api dari Tuhan turun memakan habis semua korban dan awan kemuliaan Tuhan memenuhi rumah Tuhan, sehingga imam-imam tidak dapat masuk kedalam. Umat Allah yang melihatnya dari luar, mulai berlutut dan sujud menyembah Allah.
Terjadi perubahan atmosfir, dari atmosfir duniawi ke atmosfir surgawi. Kalau lawatan Allah datang, tak seorangpun mau kehilangan kesempatan untuk menikmati hadirat Allah, inilah jawaban atas kebutuhan umat Allah di hari-hari ini. Dan untuk mengalami lawatan Allah, kita perlu duduk diam di kaki Tuhan dan mulai berdoa.
Tuhan berkata kepada Salomo, \”Sekarang mataKu terbuka dan telingaKu menaruh perhatian kepada doa dari tempat ini\” – 2 Taw 7:15. Doa mendapat perhatian dari Allah. Dia menghendaki kita berdoa senantiasa. Doa dapat menggerakkan Surga sehingga Allah turun di tengah-tengah umatNya. Kalau Allah turun, sesuatu yang luar biasa akan terjadi. Kita dipuaskan, dan rasa lapar terpenuhi.
Kemanapun saudara pergi, saudara tidak akan mengalami kepuasan, kecuali bila saudara mulai berdoa. Doa artinya meminta. Tetapi sebelum berdoa, kita harus mengetahui lebih dulu apa yang kita perlukan dari Tuhan.
Yesaya 42:21-23 menggambarkan keadaan umat Allah yang sangat menyedihkan. Mereka merasa masih memiliki sesuatu, padahal mereka tidak mempunyai apa-apa. Iniadalah juga gambaran dari gereja Tuhan pada umumnya. Jika kita sadar tidak mempunyai apa-apa, ini akan mendorong kita untuk berdoa dengan sungguh-sungguh di hadapan Allah.
Sikap Doa Yang Benar.
Agar doa berhasil dan dijawab oleh Tuhan, kita harus mempunyai sikap doa yang benar.
1. Berdoa dengan tidak malu – Luk 11:8 Tamu yang datang pada tengah malam meminta roti dengan tidak malu (terj.lama = dengan bertalu-talu). Ia meminta dengan sikap amat mendesak sampai pintu dibukakan dan roti/jawaban diberikan. Dua orang murid dari Emaus mendesak = memaksa = terus meminta, sampai Yesus mau tinggal dengan mereka. Luk 24:28-29.
2. Berdoa dengan tekun – Kis 1 : 14 Setelah Yesus naik ke Surga, murid-murid kembali ke Yerusalem dan semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama. Bertekun artinya: melakukan dengan sungguh-sungguh; tetap setia pada satu hal, terlibat secara aktif. Mereka tekun berdoa sampai pada hari Pentakosta dimana Roh Kudus dicurahkan keatas mereka. Dari kira-kira 500 orang yang menyaksikan Yesus naik ke Surga, hanya 120 yang menunggu, berdoa dan dipenuhi dengan Roh Kudus. 75% dari keseluruhan umat Tuhan tidak ada di tempat, karena tidak tekun.
3. Bersatu dalam doa. Bila rasa lapar melanda, orang cenderung bersatu; tanpa mempersoalkan perbedaan status sosial, pendidikan, martabat, dan lain-lain. Yang terjadi sekarang ini adalah ada terlalu banyak perbedaan kepentingan yang membuat kita tidak bisa menyatu, sekalipun dalam pelayanan kepada Tuhan.
Zakheus mengabaikan kedudukannya sebagai seorang pejabat penting, ia tidak peduli pada martabat dan harga diri, saat naik keatas pohon untuk memuaskan kerinduannya melihat Yesus dari dekat. Karena itu, ia disebut sebagai orang yang berbahagia, dan mendapat pengampunan yang luar biasa .Luk 19:1-10.
Jangan kemana-mana.
Saudara tidak perlu pergi kesana kemari untuk mencari kepuasan, sebab di tempat ini ada jawaban Tuhan, asal saudara mau membayar harganya ! Kalau saja kita mau bertekun berdoa dan terus melakukannya, kita akan melihat bagaimana roti hadirat Allah dicurahkan penuh di tengah-tengah kita. Hadirat Tuhan adalah satu-satunya jawaban atas kebutuhan saudara dan saya. Inilah waktunya dimana rasa lapar terpuaskan, dan kita tidak perlu mencarinya di tempat lain. Sebab ditempat ini Dia ada dan mau menyatakan diri. Tetapi ada harga yang harus dibayar. Maukah saudara mebayar harga ?
Inilah saatnya kita melihat pekerjaan-pekerjaan besar yang Tuhan kerjakan. Jangan sampai kita tertinggal di belakang. Mari singkirkan dan lupakan apapun perbedaan yang ada diantara kita. Mari menyatu dalam doa. Tuhan memberkati. (WJ.1079/XIX/230203,swd)
