Roma 6:18 – “Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.”
Lho… kok?? Mungkin itulah reaksi saudara yang bingung dengan judul renungan ini yang juga sesuai dengan ayatnya. Bukankah merdeka artinya bebas dari penjajahan/perhambaan? Kalau kita dimerdekakan toh hanya untuk jadi hamba lagi, untuk apa? Sama juga kan?
Apakah benar demikian?
Sekian lama bangsa Indonesia berada di bawah perhambaan penjajah dengan peraturan mereka yang membuat rakyat Indonesia menderita. Itu sebabnya bangsa kita berjuang untuk merdeka. Tetapi apakah setelah merdeka kita kemudian bisa hidup semau-maunya? Bukankah kita pun harus hidup dengan mentaati hukum yang ada di negara kita? Walaupun begitu, hidup di bawah hukum negara sendiri dalam kemerdekaan adalah lebih baik daripada hidup di bawah hukum dari penjajah.
Hal yang sama berlaku juga dalam kehidupan rohani. Ketika seseorang menjadi hamba dosa, ia berada di bawah hukum maut (Rm. 8:2). Itu berarti bahwa selama hidup ia akan mengalami beratnya beban dosa yang menekan sampai akhir kehidupannya yang berujung pada kematian kekal. Tetapi ketika kita menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, kita dimerdekakan dari dosa yang membuat kita menderita. Tetapi kemudian kita harus mentaati suatu hukum yang baru, yaitu kebenaran (Firman Tuhan), yang sangat berbeda dengan hukum dosa.
Menjadi hamba kebenaran adalah sesuatu yang menyenangkan. Daud mengatakan bahwa kebenaran (Firman Tuhan) itu “lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah.” (Mzm. 19:9-10). Dalam bahasa yang agak berbeda, Tuhan Yesus mengatakan bahwa Ia akan mengganti beban yang berat yang kita pikul (dosa) dengan kuk (kebenaran) yang enak dan ringan (Mat.11:29). Betapa indahnya merdeka dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.
Sudahkah saudara menikmatinya?
