Terlepas dari benar atau tidak tindakan dan ucapannya, setiap orang pasti pernah mengalami yang namanya dikritik. Dan biasanya self defense mechanism kita langsung bereaksi terhadap serangan yang ditujukan pada pribadi kita. Reaksi itu pun bermacam-macam bentuknya. Ada orang yang menanggapinya dengan berdiam diri tetapi dengan menyimpan perasaan terluka, tetapi ada juga yang langsung mengambil sikap perang dan balas menyerang pengkritiknya dengan serangan kritikan yang lebih tajam atau pedas. Kita memang perlu mempertahankan diri dari tamparan perlawanan dan kritikan yang tak berbelas kasihan yang ditujukan kepada kita, tetapi kita harus yakin bahwa kita melakukannya dengan benar.
Abraham Lincoln yang menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat yang keenam belas mengalami serangan pribadi terhadap karakternya baik dari Union, Kongres, beberapa faksi dalam Partai Republik bahkan dari kabinetnya sendiri. Ia difitnah, dicemarkan nama baiknya dan dibenci. Pers di zamannya menyebut dia kera babun yang aneh, pengacara negara ranking ketiga, pelawak yang vulgar, badut, diktator, bahkan salah satu harian menjulukinya “politisi yang paling licik dan paling tidak jujur.” Lincoln sadar, tidak peduli apapun yang dia lakukan, akan ada orang yang tidak senang yang akan mengkritiknya. Ia menangani itu semua dengan kesabaran, pengendalian diri dan ketetapan hati yang teguh.
Lincoln punya cara untuk merespon kritikan yang ditujukan kepadanya. Pertama, ia menganggapnya ‘remeh’ dan mengacuhkannya. Kedua, ia menjawab kalau dirasa penting dan akan membuat suatu perbedaan. Ketiga, ia akan duduk dan meluapkan amarah dan emosinya dengan menulis surat-surat panjang, kemudian merobek semua surat itu dan tidak pernah mengirimkannya. Keempat, ia memandang ke sisi kehidupan yang lebih baik.
Ketika Absalom mencuri hati rakyat melalui muslihat dan bujukan, kemudian memimpin pemberontakan untuk menggulingkannya, Daud pergi dari Yerusalem tanpa perlawanan, meluputkan diri bersama orang-orangnya yang setia. Sementara berjalan, seorang musuh yang menjengkelkan bernama Simei tiba-tiba muncul. Pada jarak yang begitu dekat ia meneriakkan kutukan kepada Daud, bahkan kemudian melempari Daud dengan batu sambil berteriak, “Enyahlah, enyahlah, engkau penumpah darah, orang dursila.” (2 Samuel 16:5-7).
Bagaimanakah respon Daud terhadap ‘orang gila’ yang melemparinya dengan batu sambil meneriakkan kutukan kepadanya? Seorang pengawal Daud bernama Abisai memberikan respon yang mungkin juga akan dilakukan oleh sebagian besar kita. Ia meminta Daud untuk mengizinkannya memenggal kepala Simei.
Tetapi respon Daud terhadap permintaan itu ternyata berbeda dengan respon sebagian besar kita seandainya kita adalah Daud. Ia menanggapi dengan kasih:
“Sedangkan anak kandungku ingin mencabut nyawaku, terlebih lagi sekarang orang Benyamin ini! Biarkanlah dia dan biarlah ia mengutuk, sebab TUHAN yang telah berfirman kepadanya demikian. Mungkin TUHAN akan memperhatikan kesengsaraanku ini dan TUHAN membalas yang baik kepadaku sebagai ganti kutuk orang itu pada hari ini.” (2 Samuel 16:11-12).
Tuhan memang banyak kali mengizinkan kita mengalami kritikan atau kecaman – yang mungkin melukai kita – karena itu semua adalah bagian dari proses untuk membuat kita menjadi makin serupa dengan-Nya. Penderitaan menjadikan kita lebih manis, lebih matang. Kita kehilangan rasa takut akan kehilangan; kita belajar untuk mengabaikan apa yang kita inginkan, kita tidak mudah terhasut untuk marah karena bahaya ata teguran. Kita belajar untuk menerima perlakuan kejam tanpa membalasnya,menerima teguran tanpa membela diri dan menjawab dengan lemah lembut apabila dimarahi. Hal itu membuat kita tenang dan kuat. (stand’s, mdo/03/07/08)
