(Mat 14:24) Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal.
Angin sakal bukanlah angin yang menghasilkan gelombang badai, tetapi terutama dimaksudkan sebagai angin yang bertiup berlawanan dengan arah yang dituju murid-murid (bandingkan dengan terjemahan bahasa Indonesia sehari-hari dan bahasa Inggris).
Tuhan sendiri yang menyuruh murid-murid berangkat ke seberang, namun angin yang kuat berhembus berlawanan arah sehingga murid-murid sangat kepayahan mendayung perahu.
Dalam kehidupan setiap hari kitapun sering menghadapi hal serupa. Apa yang Tuhan suruh bertolak belakang dengan lingkungan sekitar dan bertolak belakang dengan kenyataan yang kita hadapi. Menggunakan layar tidak mungkin, mendayung sekuat tenaga tidak mampu, lebih baik berputar haluan !
Mengikuti arah angin sakal jauh lebih mudah dan menyenangkan, tanpa harus mengeluarkan seluruh tenaga untuk mendayung. Cukup pasang layar maka kapal akan meluncur dengan cepat tanpa hambatan. Namun tujuan Tuhan bukanlah arah angin sakal, melainkan arah yang berlawanan dengannya.
Ketika angin sakal berhembus begitu kuat dan seluruh tenaga sudah dikeluarkan untuk melawan, pada tengah malam buta yang gelap gulita, disaat murid-murid sudah berputus asa, saat kekuatan manusia tidak dapat lagi diandalkan, saat itulah Tuhan datang. KedatanganNya di lihat oleh mata murid-murid sebagai hantu, sebagai musibah yang membuat mereka semakin bertambah ketakutan. Kadang-kadang begitulah jalan Tuhan.
Kelihatannya kejadian yang terjadi begitu menakutkan, namun justru dalam keadaan yang menakutkan itulah jawaban Tuhan untuk melawan angin sakal. KehadiranNya menenangkan angin sakal. Angin sakal masih tetap berhembus namun kekuatannya sudah dipatahkan, dia tidak lagi bisa menghalangi jalan Tuhan. Oleh kehadiran Tuhan murid-murid dapat mendayung hingga sampai keseberang.
Ada dua pesan penting yang bisa kita dapatkan disini.
- Murid-murid harus berjuang dan berusaha mendayung untuk menuju tujuan. Sedikit kendor, sedikit letih, sedikit tawar hati akan membuat kekuatan berkurang dan perahu akan hanyut, menjadi semakin jauh dari tujuan Tuhan. Tekad kita perlu dilatih agar bisa sejalan dengan kehendak Tuhan.
- Dalam mengikuti perintah Tuhan, kita tidak akan mampu jikalau mengandalkan kekuatan sendiri. Kristus sendiri harus menjadi sumber kekuatan kita dalam melakukan kehendakNya. Rasul Paulus adalah seorang yang sangat berkualitas, namun dia tidak mau mengandalkan kekuatannya sendiri. Dia berkata adapun hidupku ini bukannya aku lagi yang hidup melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dia yang menyuruh, Dia juga yang akan memberikan kekuatan. Terpujilah Tuhan !!
