“Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik”. (Roma 12:9)
Ternyata, kasih pun bisa dilakukan dengan pura-pura. Tentu hal ini berlaku di hadapan manusia, tetapi tidak di hadapan Tuhan. Artinya, di hadapan manusia kita bisa berpura-pura bersikap dan bertindak baik seolah-olah didasari dengan kasih, tetapi tentu tidak bisa demikian di hadapan Tuhan. Tuhan yang paling tahu motivasi dari setiap sikap dan tindakan kita, didasari kasih atau tidak; atau hanya sekedar basa-basi.
Kasih yang pura-pura, “membungkus” yang jahat dengan yang baik.
Kasih yang pura-pura, “menyelipkan” motivasi culas hati kita di dalam setiap perbuatan baik kita.
Kasih yang pura-pura, mengutamakan sikap/penampilan luar dengan mengabaikan unsur yang di dalam (hati).
Kepura-puraan adalah ciri-ciri pekerjaan iblis. Pura-pura (menyamar) sebagai malaikat terang (bdk. 2 Kor 14:11).
Saya teringat sebuah ayat: Yeremia 17:9 = Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?
Harus kita akui dan sadari, bahwa hati kita, pada dasarnya, adalah licik. Alkitab yang menyatakannya. Hal ini tentu karena hati kita sudah tercemar oleh dosa. Licik, dan pada akhirnya pandai berpura-pura, pun dalam hal kasih.
Tetapi ayat berikutnya (Yeremia 10:9a) memberikan penghiburan bagi kita : “Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin,” Mengapa saya katakan penghiburan? Karena Tuhan yang menyelidiki hati kita, Dia juga yang akan memurnikan hati kita dari setiap kelicikan sehingga kita bisa mengamalkan kasih yang tulus. Tentu hal ini dibutuhkan kerendahan hati untuk terus membangun relasi dan rela diproses oleh Tuhan.
Seperti kata Pemazmur: Mazmur 139:23-24 Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!
Bagimana caranya menghindari kasih yang pura-pura? Rasul Petrus menjawabnya dalam 1 Petrus 1:22 = “Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.”
Ketaatan kepada kebenaran, itu kuncinya. Kebenaran itu tidak lain adalah Firman Tuhan. Yohanes 17:17 = “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.”
Tanpa ketaatan kepada Firman Tuhan, kita tidak akan bisa mengasihi dengan tulus ikhlas. Ketaatan kepada Firman Tuhan tidak bisa dipisahkan dengan kesukaan kita akan Firman-Nya.
Mari kita berdoa meminta Roh Kudus menolong kita untuk terus mencintai dan menaati Firman-Nya. Karena, bukankah salah satu alasan Roh Kudus datang ke dunia adalah untuk memimpin kita kepada segala kebenaran? Yohanes 16:13 = Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran.
Mari kita mengasihi dengan tulus, bukan pura-pura.
Dalam anugerah-Nya. Kris Setiawan
