Pernahkah kita jatuh cinta pada seorang pengemis di pinggir jalan yang tubuhnya cacat, tanpa jaminan kepastian masa depan dan tidak memiliki kemampuan untuk memberikan perlindungan dan rasa aman bagi kita? Atau, maukah kita mencintai orang yang kita tahu dengan pasti akan menolak cinta kita, tidak akan pernah membalas perhatian yang kita berikan, malahan akan terus menyakiti hati kita?
Cinta adalah sesuatu yang luar biasa dan sulit untuk dimengerti. Cinta sejati pada hakekatnya hanya memiliki keinginan untuk memberi tanpa batasan dengan tidak mengharapkan imbalan. Itu sebabnya cinta identik dengan pengorbanan. Mungkin berangkat dari persepsi itulah, ada orang yang kemudian berkata bahwa sulit sekali menemukan cinta sejati, bahkan mustahil ada cinta sejati di antara manusia. Manusia hanya mengenal pamrih.
Pertama, cobalah renungkan sejenak alasan kita mencintai seseorang. Karena tampilan fisiknya yang menarik, nyambung ketika diajak ngomong, dan care kepada kita? Atau karena jaminan masa depan yang cerah yang kita dapat bayangkan bersama orang tersebut? Ataukah karena karakternya yang membuat kita merasa comfort dan dihargai? Kedua, renungkanlah lagi, pernahkah kita jatuh cinta pada seorang pengemis di pinggir jalan yang tubuhnya cacat, tanpa jaminan kepastian masa depan dan tidak memiliki kemampuan untuk memberikan perlindungan dan rasa aman bagi kita? Atau, maukah kita mencintai orang yang kita tahu dengan pasti akan menolak cinta kita, tidak akan pernah membalas perhatian yang kita berikan, malahan akan terus menyakiti hati kita?
Jika kita mencintai orang karena alasan-alasan dalam perenungan yang pertama, maka itu bukanlah cinta, tetapi pamrih. Jika kita tidak bisa melakukan apa yang ada dalam perenungan yang kedua, maka makin nyatalah bahwa memang kita tidak memiliki cinta sejati itu. Hal luar biasa yang menunjukkan kepada kita apa cinta sejati itu dapat kita baca dalam Roma 5:6-8.
“Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati. Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.”
Ketika Tuhan Yesus memberi diriNya mati di salib, manusia bukanlah makhluk yang memiliki masa depan yang cerah dengan karakter yang luar biasa baik. Dan sekalipun dalam KeMahaTahuan-Nya Tuhan tahu bahwa akan ada banyak manusia yang menolak anugerahNya bahkan mereka yang telah menerima anugerahNya nantinya juga akan tetap menyakiti hatiNya, tidak kemudian membuat Tuhan membatalkan pengorbanan sebagai wujud kasih sejatiNya kepada manusia.
Jika binatang peliharaan kita saja tahu membalas perhatian yang kita berikan kepadanya, masakan manusia yang lebih beradab tidak mau membalas kasih yang Tuhan nyatakan setiap hari kepadanya? Rasul Yohanes menulis dalam suratnya bahwa “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” (1 John 4:19). Kedua kata “mengasihi” dalam ayat tersebut dalam bahasa aslinya (Yunani) memakai kata “agapao” yang berasal dari kata “agape”. Artinya kita harus mencintai Tuhan, sama seperti Tuhan mencintai kita! Masalahnya adalah cinta Tuhan kepada manusia adalah cinta sejati, sedangkan yang ada pada manusia adalah pamrih. Bisakah kita mencintai Tuhan sama seperti Dia mencintai kita? Mencintai Tuhan dapat kita tunjukkan dengan takut akan Tuhan, yaitu menghormati Tuhan dengan mentaati FirmanNya tanpa syarat apapun.
Ketika suatu saat Tuhan berhadapan dengan iblis, Tuhan bangga dengan rasa takut akan Tuhan yang dimiliki Ayub. Hal itu membuat iblis kemudian mengajukan pertanyaan yang juga mengandung tantangan untuk dibuktikan: “Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: \Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah?” (Ayub 1:9). Seandainya pertanyaan yang sama ditujukan kepada kita, mampukah kita menjawabnya? Seandainya Tuhan tidak lagi memberkatimu, seandainya penyakitmu tidak disembuhkan Tuhan, seandainya Ia tidak menjamin masa depanmu, seandainya Tuhan tidak melindungimu lagi, seandainya Tuhan tidak menjawab lagi doamu, seandainya Tuhan tidak lagi memberikan engkau apa-apa, maukah engkau tetap takut/mencintainya?
Cintailah Tuhan karena “Apa Dia bagi kita”, bukan karena “Apa yang dapat Dia beri bagi kita”. (stand’s, jkt/16/06/2008)
“
