Mengingatkan Allah.
Bani Moab bergabung dengan bani Amon untuk memerangi Yosafat dan kerajaan Yehuda. Jumlah pasukan gabungan itu sangat banyak dan tidak sebanding dengan jumlah pasukan Yosafat. Hal ini membuat Yosafat takut.
Dalam ketakutannya Yosafat berdoa. Dalam doanya itulah ia menyebutkan kata-kata ini: Abraham, sahabat Allah. Tujuan Yosafat adalah “mengingatkan” Allah akan apa yang telah Ia lakukan di waktu yang lalu, bahwa keberadaan orang Israel di tanah perjanjian adalah karena campur tangan Allah, sebab tangan Allah sendiri yang menghalau penduduk yang ada disana agar tanah itu menjadi milik keturunan Abraham (2 Taw. 20:6-12).
Demikianlah ia berharap di saat sekarang, saat ia menghadapi musuh, Allah mau melakukan kembali apa yang telah diperbuatNya. Allah mau bersahabat dengan kita. Yosafat mengakhiri doanya dengan mengatakan bahwa matanya dan mata seluruh bangsa tertuju hanya kepada Allah saja. Sikap ini seperti sikap seorang hamba yang memandang kepada tangan tuan atau nyonyanya hingga mereka mengasihani dia (Mzm. 123).
Daud juga pernah memohon kepada Allah untuk dikasihani sebab ia sebatang kara dan tertindas (Mzm. 25:15-16). Abraham, Daud, dan Yosafat menunjukan satu sikap iman: tak memiliki siapapun sebagai penolong selain Allah saja dan karena itu mereka berharap hanya pada belas kasihanNya saja. Kualitas sikap iman yang demikian mengundang Allah untuk menunjukkan kesediaanNya bersahabat dengan mereka.
Kata sahabat dalam bahasa aslinya berarti yang dikasihi, yang dirindukan Tuhan. Allah sangat merindukan adanya kualitas sikap iman seperti Abraham, Daud dan Yosafat. Karena itu 150 tahun sesudah Yosafat mengucapkan doanya nabi Yesaya melalui ilhaman Allah kembali mengungkapkan Abraham sebagai sehabat Allah yang dikasihi Allah (Yes. 41:8). Sahabat yang memberi pertolongan.
Mengapa kemudian Allah sendiri yang mengungkapkan tentang hal ini? Karena kualitas sikap iman seseorang yang membuat Ia mau bersahabat dengan orang itu memiliki arti bahwa Ia bersedia menjadi Penolong dan memberikan pertolonganNya yang luar biasa. Kepada Yosafat Allah turun tangan dengan berperang ganti Yosafat hingga Yosafat memperoleh kemenangan gemilang (2 Taw. 20:14-17, 22-24).
Kepada kita Ia mau kita hanya tetap tinggal tenang dihadapanNya sebab pada saat itulah Ia yang ganti berperang bagi kita hingga kita memperoleh keselamatan dan kemengangan (Kel. 4:13-14; 2 Taw. 20:17; Yes. 30:15). Allah mau bersahabat dengan kita. Karena itu baiklah kita teladani sikap iman Abraham, Daud dan Yosafat yang berani berdiri di hadapan Allah dan menyatakan bahwa hanya Dia satu-satunya Penolong kita dan kita memang sangat berharap pada belas kasihanNya saja.
Dengan kualitas sikap iman yang seperti itu, Allah akan menggenapi janjiNya kepada kita agar kita tidak takut sebab Ia memegang tangan kanan kita (Yes. 41:10). Tangan kanan berarti kuasa yang memberi kemenangan. Di masa lalu Ia telah memberi pertolongan dan melakukan banyak mujizat. Karena itu tak sulit bagiNya untuk melakukannya lagi bagi kita di masa sekarang ini sebab kita adalah sahabatNya. (WJ GPdI Kramat, 211007/No. 1320 Thn. XXV).
