Pendahuluan. Penulis kitab Ezra adalah Ezra (yang berarti “TUHAN telah menolong”) seorang ahli kitab, mahir dalam Taurat Musa yang diberikan TUHAN Allah Israel, seorang Imam dan ahli kitab yang ahli dalam perkataan segala perintah dan ketetapan Tuhan bagi orang Israel (Ezra 7:6,11).
Memenuhi nubuatan nabi Yeremia bahwa bangsa Yahudi – karena dosa dan pelanggaran terhadap perintah Tuhan – akan dibuang ke Babel, dan masa pembuangannya itu terbatas 70 tahun (2 Taw. 25;4-10, 11; 21:8) dan ternyata nubuatan ini benar digenapi oleh Tuhan (2 Taw. 36:21), maka bangsa ini dikembalikan oleh Tuhan ke Yerusalem.
Ezra memimpin rombongan kedua orang-orang Yahudi yang kembali ke Yerusalem sehubungan dengan keluarnya izin dari raja Koresy dari Persia bagi mereka yang ingin kembali untuk membangun kembali Bait Allah dan kota Yerusalem yang telah hancur.
Rombongan pertama berangkat pada tahun 538 SM dipimpin oleh Zerubabel; pembangunan Bait Allah dimulai, tetapi oleh orang-orang non Yahudi penduduk Yerusalem dibuatnya menghentikan pembangunan.
Disinilah datang nabi Hagai dan Zakharia dengan pesan atau nubuatan mereka yang terkenal:
- Hagai 2: 10 “Adapun Rumah ini kemegahannya yang kemudian akan melebihi kemegahannya yang semula, firman TUHAN semesta alam…”
- Zakharia 4:6 “Inilah firman TUHAN kepada Zerubabel bunyinya: Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam.”
Oleh Roh Tuhan bait Allah selesai juga dibangun sekalipun harus menghadapi tantangan-tantangan dan kemudian ditahbiskan pada tahun 515 SM.
Pada tahun 458 SM rombongan kedua orang-orang Yahudi dipimpin oleh Ezra berangkat dari Babel ke Yerusalem. Mereka diutus oleh Artasasta, raja Persia. Ezra mendapat bantuan penuh, dan setibanya di Yerusalem ia menetapkan para pemimpin bagi bangsa, sedangkan ia sendiri melaksanakan reformasi di bidang kerohanian, menghimbau bangsa Yahudi untuk bertobat kepada Tuhan, tunduk lagi kepada Taurat serta menceraikan istri-istri kafir mereka.
Hal-hal tersebut di atas memberi gambaran kepada kita umat Tuhan di akhir zaman, apa yang dikehendaki Tuhan dari kita di saat TUHAN dengan jemaat-Nya sedang membangun Bait Allah yang bukan bangunan dari bahan-bahan yang fana dan akan lalu, melainkan gereja Tuhan yang hidup terdiri dari batu-batu yang hidup.
1. Bila Allah Menggerakkan Hati. Ayat Pokok: Ezra 1:1-4.
Raja Koresy adalah seorang raja kafir yang tidak memiliki kepercayaan sebagaimana orang-orang Yehuda mengenal Allah. Tetapi raja Koresy mengatakan bahwa Tuhan menugaskan dia untuk melakukan sesuatu bagi bangsa Yehuda (Ezr. 1:1-2). Hal ini diperkuat lagi dengan nubuatan nabi Yesaya mengenai Koresy bahwa ia adalah gembala-Nya Allah, orang yang diurapi-Nya (Yes. 44:28; 45:1-3). Ini adalah suatu kenyataan yang bertentangan bahwa orang dunia menjadi orang yang diurapi Allah. Padahal tidak mungkin seseorang menerima urapan dari Allah, yaitu Roh Kudus, tanpa ia mengalami pertobatan dan menerima Yesus. Mengenai hal ini kita perlu mengetahui dan mengakui kebesaran Allah. Ia dapat memakai apa dan siapa saja untuk menggenapkan rencana-Nya. Dia adalah Sang Dalang dan manusia adalah wayang-wayang yang atasnya Sang dalang berkuasa mengatur segala sesuatunya.
Salah satu cara untuk dapat memahami peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam alkitab adalah dengan melihatnya sebagai bayangan dari sesuatu yang lebih dalam lagi artinya. Misalnya kisah tentang orang Samaria yang baik hati merupakan bayangan dari Yesus yang ditolak oleh bangsa Yahudi tetapi yang justru memberi pertolongan bagi mereka (Luk. 10:25-37). Yesus menggunakan tokoh orang Samaria karena orang Israel tidak memiliki hubungan yang baik dengan mereka. Jadi jelas sekali unsur penolakannya. Tapi Yesus memperlihatkan hal yang lain, bahwa yang mereka tolak adalah pemberi pertolongan bagi mereka. Demiikian juga dengan Koresy. Jika kita memperhatikan kata-kata dalam nubuatan tentang dia, Koresy memberikan gambaran tentang Yesus. Hal-hal berikut ini akan memberikan gambaran dengan jelas hal tersebut:
1. Kata Koresy: segala kerajaan di bumi telah dikaruniakan Tuhan kepadanya (Ezr. 1:2). Perkataan yang sama mengenai Yesus bahwa segala kuasa ada ditangan-Nya (Mat. 28:18-19).
2. Koresy mengakui bahwa ia menerima tugas dari TUHAN (penggunaan kata TUHAN seperti ini dalam bahasa aslinya digunakan kata Yehova yang artinya Allah Yang Maha Besar, yang berhubungan dengan rencana penyelamatan manusia. Sedangkan penggunaan kata Tuhan seperti ini dalam bahasa aslinya digunakan kata Adonai yang berarti Allah dalam hubungan kepemiilikan). Ini sama dengan ketika Bapa menyerahkan kuasa penghakiman kepada Anak, yaitu Yesus (Yoh. 5:22).
3. Koresy mengatakan bahwa ia hendak menggenapkan perkataan Allah. Demikian juga dengan Yesus yang datang menggenapi rencana Allah dalam menyelamatkan manusia.
4. Koresy juga punya tujuan untuk membangun kembali Bait Allah yang sudah rusak. Ini sama seperti Yesus yang juga punya tujuan membangun suatu Bait Allah yang rohani, yaitu Gereja sebagai kumpulan orang percaya (2 Kor. 6:16; Ef. 3;20; 1 Kor. 3;16).
Koresy menghendaki agar pembangunan kembali Bait Allah dilakukan oleh umat Allah sendiri. Pada kenyataannya memang tidak banyak yang ikut pulang karena banyak yang sudah tidak mengenal tempat itu; terutama untuk generasi yang lebih muda. Namun kepada mereka yang tinggal Koresy tetap menyuruh mereka ikut ambil bagian dengan memberikan harta mereka. Semua orang harus terlibat dalam pembangunan kembali Bait Allah. Ini adalah gambaran kehidupan orang percaya diakhir zaman bahwa semuanya harus ambil bagian dalam pembangunan Bait Allah rohani yaitu Gereja. Untuk itu Allah memberikan lima jawatan untuk memperlengkapi orang-orang kudus dalam pertumbuhan rohaninya (Ef. 4;11). Orang-orang percaya perlu mengenal Tuhan dan bertumbuh dalam pengertian yang benar tentang Tuhan. Orang-orang percaya perlu melakukan perbuatan-perbuatan baik.
Ada 2 hal yang diperlukan untuk melakukan perbuatan baik, yaitu: Firman Allah dan Roh Kudus. Firman Allah adalah tulisan yang diilhamkan oleh Allah yang mendatangkan banyak manfaat untuk melakukan perbuatan baik (2 Tim. 3;16-17). Firman Allah adalah pelita bagi kaki kita (Mzm. 109:105). Rasul Paulus mendorong jemaat untuk bertumbuh seperti yang terdapat juga dalam Kristus (Flp. 2:1). Perlengkapan lainnya adalah Roh Kudus.
Allah ingin kita semua terlibat dalam pembangunan Bait Allah yaitu Tubuh Kristus. Berikan seluruh hidup kita untuk dipakai Allah dalam pembangunan tubuh-Nya.
bersambung…
2. Pemeliharaan Allah Atas Peralatan Rumah-Nya
Ayat Pokok: Ezra 1:5-9
Setelah selama sekian puluhan tahun orang Yehuda berada di Babel tentulah mereka sudah tidak begitu ingat lagi tentang tanah air mereka sendiri. Waktu Koresy memerintah kebanyakan orang Yehuda yang ada adalah yang sudah lahir di sana atau yang berasal dari Yerusalem tapi usianya pastilah sudah cukup tua. Karena itu tidak mengherankan bahwa untuk membawa mereka kembali ke Yerusalem Allah yang harus menggeakan hati mereka. Dalam hal ini Roh Kudus yang bekerja. Bagaimna bisa sedangkan Roh Kudus baru dicurahkan pada masa perjanjian baru? Memang benar, tapi sebenarnya sejak zaman dahulu pun Roh Kudus sudah bekerja di dalam hati manusia. Hanya saja karena manusia selalu berbantah-bantah dengan-Nya , maka Roh itu tidak selalu tinggal dalam hati manusia. Tapi di zaman perjanjian baru Roh Kudus tinggal di dalam hidup setiap orang percaya yang mau menerima-Nya.
Ada dua kesulitan besar yang dihadapi orang Yehuda yang akan kembali ke Yerusalem. Pertama, mereka tidak tahu jalan kesana. Kedua, mereka tidak tahu keadaan kota Yerusalem seperti mereka mengenal kota Babel. Ada yang menerima setelah mereka tahu visi dan misi Allah atas hal ini. Tapi tidak sedikit yang mengeraskan hati untuk menolak dengan alasan kesulitan di atas. Untuk yang menerima kita tahu apa yang kemudian mereka dapati setelah mereka melakukan kehendak Tuhan. Tapi untuk mereka yang mengeraskan hati untuk menolak akan memberi akibat yang dahsyat. Orang-orang di zaman Nuh mengeraskan hati untuk menolak Allah dan akibatnya datang air bah yang sangat dahsyat yang membinasakan mereka semua kecuali Nuh dan keluarganya.
Ada bahasa Alkitab untuk kota Babel dan Yerusalem. Babel berarti kacau balau dan Yerusalem berarti kota damai. Instruksi Allah agar bangsa Yehuda kembali ke Yerusalem dan membangun kembali Bait Allah adalah untuk memberi damai bagi mereka. Bagi kita di zaman sekarang peristiwa ini berbicara tentang panggilan Allah kepada kita untuk membangun Ekklesia, yaitu gereja yang hidup. Ia membawa kita kedalam kedamaian untuk kemudian mulai melakukan pembangunan tubuh-Nya. Pembangunan Bait Allah di zaman Salomo berlangsung dalam kedamaian dan ketenangan. Allah menyediakan semua yang diperlukan untuk pembangunan rumah-Nya. Di zaman Musa orang membawa persembahan mereka untuk membangun tabernakel dengan begitu melimpah. Akhirnya aksi membawa persembahan harus dihentikan karena sudah terlalu banyak yang diterima. Satu nasehat tentang memberi, segera beri atau bawa persembahan anda bila saatnya sudah ada. Kalau anda berlambat-lambat, nanti akan terlambat dan persembahan anda tidak dapat diterima bahkan tidak diperlukan lagi. Demikian juga saat pembangunan Bait Allah di zaman Salomo. Melalui ayahnya, Daud, Allah telah menyediakan puluhan kilogram emas murni untuk membuat peralatan-peralatan yang diperlukan dalam Bait Allah.
Peneyerbuan dan penaklukan Yehuda oleh Nebukadnezar telah turut menghancurkan Bait Allah. Nebukadnezar mengambil semua peralatan Bait Allah, membawanya ke negerinya, dan meletakkannya di kuil-kuilnya. Selama bertahun-tahun hingga datang zaman raja Koresy peralatan itu tetap berada disana. Satu hal yang mengherankan tidak pernah ada orang yang berpikir untuk melebur saja peralatan-peralatan Bait Allah yang terbuat dari emas dan perak murni. Mengapa? Sebab Allah tetap memelihara benda-benda itu. Peralatan-peralatan itu sudah diurapi dengan darah dan minyak sebelum digunakan. Dan karena itu benda-benda itu tetap terpelihara untuk digunakan kembali. Jadi, sekarang yang kembali ke Yerusalem bukan hanya orang-orang Yehuda saja tapi juga benda-benda yang telah Allah pelihara selama sekian puluh tahun.
Di dalam suatu rumah terdapat perabot-perabot (2 Tim. 2;20). Perabot yang mulia tentu saja ditempatkan di tempat yang baik. Kita adalah peralatan yang ada dalam rumah Allah. Sebagai perabotan di rumah Allah sebelumnya kita harus dikuduskan dan disucikan lebih dahulu. Hal ini sama dengan dimeteraikan menjadi tanda bahwa kita adalah perabot-Nya Allah. Menjelang hari penyelamatan (hari kedatangan Tuhan yang kedua kali) Roh Kuduslah yang memeteraikan kita sebagai milik Allah (Ef. 4:30). Artinya Roh Kudus adalah jaminan dari penjagaan kerajaan Allah atas kita.
Membicarakan tentang kedatangan Yesus orang selalu mengaitkannya dengan kedamaian. Tapi Yesus datang membawa api ujian. Ini harus ada dalam Gereja Tuhan supaya terlihat siapa yang benar-benar terpanggil dan terpilih. Akan berbeda jadinya jika kita menghadapi ujian dengan disertai urapan Roh Kudus. Sebagaimana orang-orang Yehuda kembali dengan disertai oleh barang-barang yang sudah diurapi, demikian juga Roh Kudus akan selalu menyertai kita dalam menjalankan kehendak Allah membangun Gereja yang hidup. Karena itu kira harus dipenuhkan Roh Kudus sebab itulah yang menjadi jaminan penjagaan Tuhan atas kita di saat kita menghadapi ujian. Ingat, api ujian itulah yang kelak memunculkan Gereja yang sempurna.
Bersambung…
