GARAM . .
Do we have an attractive flavor in our life?
Mat 5:13 “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.
Sebelumnya mari kita akan melihat terdahulu, tentang mezbah. Kita mendapati bahwa Allah sangat serius untuk mendapati mezbah yang hidup, dengan korban-korban yang berkenan dihadapanNya. Dalam perjanjian lama, kita mendapatkan tentang korban-korban yang harus dipersembahkan diatas sebuah mezbah. Sebuah korban yang terbaik anak sulung kambing domba, yakni lemak-lemaknya, dan harus tidak bercacat. Juga ada korban-korban lain yang Tuhan perintahkan untuk orang Israel lakukan. Allah senang dengan setiap korban. Apakah yang menarik bagi Allah untuk sebuah korban, apakah Allah seolah-olah kekurangan sehingga menginginkan sesuatu ?. Tidak demikian.
Kita sering mendengar atau berdoa dengan kalimat ‘biarlah ini menjadi dupa yang berbau harum dihadapan Tuhan’. Ketika kita ada dalam mezbah, persoalannya tidak semata-mata ketika Allah telah melihat bahwa kita ada dan memberikan persembahan diatasnya, tapi apakah Allah menikmati mezbah kita.
Ada orang Kristen yang memberikan korban dengan nilai nominal yang sangat besar, misalnya; membangunkan sebuah gereja atau fasilitas pelayanan, memberikan mobil bagi seorang hamba Tuhan, dan bentuk korban-korban lain yang bagi siapapun (manusia) yang menerimanya akan sangat berterima kasih karena nilainya yang sangat wah. Perbuatan itu sangat mulia, baik, terpuji artinya orangnya tidak pelit. Tapi mari kita akan melihat bagaimana Allah bukan sekedar melihat tentang mezbah korban kita tapi bagaimana Allah menikmatinya dan berkenan akan mezbah kita. Ini sebagai jawaban agar bukan hanya gereja dan hamba Tuhan yang telah menikmati hasil pemberian yang diberkati, tapi sipemberi berkat (pribadi, keluarga dan pekerjaannya) juga menikmatinya dan Tuhan disenangkan dengan itu.
Pertanyaan tentang APA yang kita berikan dan BAGAIMANA kita memberikan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam setiap mezbah rohani kita. Sebab itulah yang berkenan dihadapanNya.
Ada hal yang sangat penting dalam sebuah mezbah, dan adalah perintah Tuhan untuk tidak mengabaikannya.
Imamat 2:13 Dan tiap-tiap persembahanmu yang berupa korban sajian haruslah kaububuhi garam, janganlah kaulalaikan garam perjanjian Allahmu dari korban sajianmu; beserta segala persembahanmu haruslah kaupersembahkan garam.
Setiap korban persembahan haruslah dibubuhi dengan ‘GARAM’. Bentuk korban dari yang terbaik, tidaklah lengkap, utuh, sempurna tanpa garam.
Garam dalam bahasa Ibrani disebut ‘melach’ = meh’-lakh (Massive=Besar, banyak, over power, go toward=maju, tongue=Rasa, private=khusus, to separete=dibedakan)
Bagi orang Ibrani ketika mereka membaca dan melihat ataupun mendengar ‘garam’ maka yang akan muncul dalam pikiran mereka antara lain : Rasa yang sangat khusus, yang dibedakan dengan yang lain karena maknanya yang besar dan bersifat progresif.
Setiap korban persembahan dimezbah rohani kita juga harus ada garam. Garam yang ada dimezbah kita akan memberikan flavour yang special dihadapan Tuhan. Objek persembahannya boleh sama tapi tastenya berbeda. Tuhan mendapati korban-korban kita beda dengan yang diberikan kepada yang lain atau dunia ini. Garam juga merepresentasikan Positive attitude, enthusiasm (gairah, semangat), Freshness (kesegaran). Bandingkan dengan bagaimana ketika kita melakukan atau memberikan sesuatu kepada seseorang yang kita hormati dan itu bukan Tuhan, dan bagaiaman kita mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan. Kita semua bersalah karena ternyata kita mendapati dalam banyak hal, pemberian kepada manusia lebih bernilai ‘terbaik’ dari pada kepada Tuhan. Gereja mulai kehilangan semangat, gairah freshness, positive attitude dihadapan Tuhan, Bapa tidak mendapati lagi taste yang menyenangkanNya. Mezbah yang hambar.
Kalau nyanyi buat Tuhan, lagunya bertema sukacita tapi waktu nyanyi-nya sangat terpaksa, tidak ada senyum sama sekali, kegerejapun terpaksa karena ini hari minggu ngga enak sama pendeta, belum lagi hal serius lainnya seperti ketiduran digereja, hitung-hitungan sama hamba Tuhan dan lain-lain. Gereja tidak lagi memiliki sikap yang freshness. Kalu nonton olah raga, semangatnya luar biasa ticket berapapun dibeli, tepuk tangan rasanya tidak berhenti, semangatnya menggebu-gebu. Dan banyak contoh lain. “Hey you know what I am talking about”.
Tuhan berhak untuk sesuatu yang terbaik dari hidup kita, potensi diri, waktu, materi dan hal-hal terbaik lainnya dalam hidup kita. Do we have an attractive flavor in our life ?, can GOD still find and enjoys, that special flavour from our life? apakah Tuhan mendapati taste/rasa yang menyenangkanNYA. Tuhan ingin mendapati kita sedang berdoa dengan penuh gairah, memuji dan menyembah dengan semangat, memberi dengan attitude yang positive tidak dengan motivasi yang salah.
Markus 9:50 Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain.”
‘Hendaklah engkau mempunyai garam dihidupmu’
Apa dan bagaimana kita datang dihadapan Tuhan adalah hal yang serius bagi Allah.
Enthusiasm, Freshness, positive attitude dapat terlihat dari bagaimana kita datang kepada Tuhan salah satunya cara berpakaian, saya tidak mengatakan harus pakaian yang mahal sama sekali tidak demikian. Tapi pakaian yang rapih dan sopan adalah sikap kita menghormati Tuhan. Berpakaian juga menunjukan gairah kita untuk datang kepada Tuhan.
Setiap persembahan yang dipersembahkan dengan bergairah, attitude yang positive, mendatangkan taste/rasa yang khusus, bagi Allah. Ketika Allah merasakan bahwa IA dibedakan dari yang lain.
Ada perbedaan dengan yang lain. Objek persembahannya boleh sama tapi rasanya beda.
Korban buat Tuhan dan buat orang lain musti beda.
Nyanyi buat Tuhan dan buat orang lain musti beda.
Garam = ‘SALT’, Bangsa Romawi menggunakan garam sebagai upah / salary bagi serdadu serdadu Romawi. Dari sanalah kita mengenal kata sold. Garam juga adalah sebagai alat transaksi yang bernilai. Orang-orang kota akan membawa garam untuk ditukar dengan daging kepada orang-orang yang hidup dipedalaman. Garam adalah sesuatu yang special. Lain dengan Orang Eropa Timur tidak ingin menggunakan garam dalam setiap masakannya karena akan menghilangkan keoriginalan rasa. Lebih dari 50 % industri garam dinegara besar seperti Amerika, penggunaan garam dihabiskan untuk mencairkan Es.
Secara umum kita mengenal garam bagi seorang juru masak adalah sesuatu yang sangat penting. garam adalah bumbuh penyedap rasa, mengawetkan makanan.
Bagaimana kita datang kepada Tuhan adalah taste yang menentukan respon Allah terhadap korban persembahan kita.
Mat 5:13 “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.
Kita adalah garam dunia ! Gereja adalah komunitas yang bergairah, freshness, memiliki positive attitude.
Sikap kita adalah teladan bagi dunia.
Give your world some flavor.
Gereja terpanggil untuk memberikan taste yang special, yang menyenangkan Tuhan dan menarik perhatian orang untuk mengenal Tuhan lebih sungguh-sungguh.
Value dari garam bukan pada bentuk dan warnanya, tapi pada ‘rasanya’. Jangan hanya kelihatannya baik dan hebat tapi kalu ngomong ‘kasar, nyakitin, sombong, nyinggung, mau menang sendiri, bad attitude’.
Jika garam jadi tawar ?. tawar artinya masih ada rasa tapi sedikit, lain dengan tidak ada rasa sama sekali. Untuk itu gereja perlu semangat, freshness, positive attitude.
Ijinkan Tuhan melihat kita penuh semangat dan segar. Freshness adalah ketulusan dan semangat kita dihadapan Tuhan.
Ijinkan Tuhan merasakan sesuatu yang berbeda dalam setiap persembahan kita.
Setiap korban korban dalam pelayanan yang dibubuhi garam adalah menyenangkan Tuhan, memberi dengan penuh semangat. Terbangun dalam hati kita, sikap yang menghormati Tuhan.
Korban perpuluhan, korban tatangan, korban ucapan syukur, dan korban-korban lainnya harus diikuti dengan carakter garam.
Pastikan dalam setiap persembahan kita ada garam. . .
Ingat ! kita dikenal dari rasanya . .
Perjamuan Tuhan
GIGC & GPdI Brisbane. March 7-2010
Ps. Jerry Elrika Sanger, SH
