Ada seorang pemuda, yang datang kepada gembalanya untuk memintanya berdoa untuk wawancara pekerjaan yang akan memberikan kesempatan untuk maju pesat dalam karier-nya. Setelah berdoa, sang gembala mendorongnya, “Engkau harus bangun setiap pagi dan menyatakan bahwa engkau mendapat kemurahan Tuhan. Tidak peduli bagaimanapun tampaknya keadaan itu, bersikaplah tegas dan nyatakanlah dengan keyakinan bahwa engkau memiliki kemurahan Tuhan. Sepanjang hari, nyatakanlah, ‘Kemurahan Tuhan menjadikan perusahaan ini ingin mempekerjakanku. Kemurahan Tuhan membuatku menjadi di tengah-tengah banyak orang. Kemurahan itu menyebabkan aku bersinar di atas yang lainnya.’” Dan sang gembala menambahkan, “Nyatakanlah itu pada permulaan dan akhir hari itu. Tetaplah dalam sikap iman, dan harapkan-lah untuk mendapatkan posisi itu.”
Beberapa waktu kemudian, si pemuda kembali dan berkata kepada gembalanya, “Saat aku menghadap dewan pengurus, mereka secara harfiah menggaruk kepala. Mereka berkata, ‘Kami tidak benar-benar mengerti mengapa kami mau mempekerjakan Anda, Anda bukan yang paling berkualifikasi. Anda bukan orang yang paling berpengalaman. Anda ti¬dak mempunyai resume terbaik.’ Mereka berkata, ‘Hanya ada sesuatu tentang diri Anda yang kami sukai.’ Dewan itu berkata, ‘Kami tidak dapat menjelaskannya. Kami tidak mengetahui apa itu, tetapi ada sesuatu tentang diri Anda yang membuat Anda bersinar di atas yang lain.’”
Si pemuda telah mengalami kemurahan Tuhan dan kalian juga dapat mengalaminya kalau mulai dengan cara berpikir kemurahan.
Maz 119 : 57 – 58
Bagianku ialah TUHAN, aku telah berjanji untuk berpegang pada firman-firman-Mu. Aku memohon belas kasihan-Mu dengan segenap hati, kasihanilah aku sesuai dengan janji-Mu.
Menyatakan kemurahan Tuhan bukanlah ucapan-ucapan rohani yang kosong. Sebenarnya cukup mudah menyatakan kemurahan Tuhan dalam kehidupan kita. Setiap pagi, katakan sesuatu seperti: “Bapa, aku bersyukur kepada-Mu karena aku mendapatkan kemurahan-Mu. Kemurahan-Mu sedang membuka pintu-pintu kesempatan dan mendatangkan keberhasilan dalam kehidupanku. Ke¬murahan-Mu sedang membuat orang ingin menolongku.”
Kemudian keluarlah dengan keyakinan, dengan mengharapkan hal-hal baik akan terjadi, dengan mengharapkan pintu-pintu terbuka bagi kita yang mungkin tidak terbuka untuk orang lain, dengan mengetahui bahwa kita mempunyai suatu keuntungan. Ada sesuatu yang istimewa tentang kita. Kita mendapatkan kemurahan Tuhan.
Setiap kali kita masuk ke dalam suatu keadaan di mana kita memerlukan kemurahan, belajarlah menyatakannya. kita tidak harus menyiarkannya dengan keras pada dunia. kita dapat berbisik. Volume suara kalian tidak relevan; iman kitalah yang membuat perbedaan.
Bahkan dalam aspek-aspek biasa kehidupan, misalnya, kita terjebak dalam kemacetan lalu lintas dan padahal ada janji yang penting yang harus kita hadiri. Katakan saja, “Bapa, aku bersyukur kepada-Mu karena aku mendapatkan kemurahan-Mu, dan bahwa Engkau akan membuka jalan bagiku di mana sekarang tampaknya tidak ada jalan.” Kemudian teruslah percaya kepada Tuhan dan mengharapkan kesempatan terbuka.
Mungkin sedang mencari tempat parkir di sebuah lapangan parkir yang penuh sesak. Katakanlah, “Bapa, aku bersyukur kepada-Mu karena sudah memimpin dan menuntunku. Kemurahan-Mu akan membuatku mendapat tempat parkir yang baik.”
Ketahuilah bahwa Tuhan sangat memperhatikan kepentingan-kepentingan kita, bahwa la bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita semua.
Seperti orang tua yang baik, la tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan. Tetapi la selalu memberikan apa yang kita butuhkan.
Suatu penundaan mungkin menyelamatkan kita dari kecelakaan, atau menyebabkan kita bertemu seseorang yang memerlukan dorongan atau pertolongan kita.
Saat kita hidup dengan cara berpikir kemurahan, kita akan mulai melihat kebaikan Tuhan di dalam urusan-urusan setiap hari, hal-hal biasa di sekolah, di kampus, di toko makanan, lapangan bola, mal, dalam pekerjaan atau di rumah. Kita mungkin di supermarket sedang dalam antrean panjang, dan kita sedang tergesa-gesa. Kasir lainnya menepuk pundak kita dan berkata, “Ikut saya. Saya membuka tempat pembayaran tambahan di sini.” Itu adalah kemurahan Tuhan.
Kita mungkin keluar untuk makan siang saat kita “tiba-tiba” bertemu dengan sese¬orang yang ingin kita temui. Mungkin orang tersebut adalah guru, dosen atau orang yang kita hormati atau kita berharap dapat belajar dari-nya, atau mungkin ia adalah seorang yang kita ingin temui, tetapi kita tidak dapat menemui mereka. Itu bukan suatu kebetulan. Itu adalah ke¬murahan Tuhan yang menyebabkan kita berada pada saat yang tepat di tempat yang tepat.
Pada saat hal-hal seperti itu terjadi, bersyukurlah. Pastikan kita ber-syukur atas kemurahan-Nya, dan atas pertolongan-Nya yang khusus dalam kehidupan kita. Jangan meremehkan kemurahan Tuhan. Saat kita hidup dengan cara berpikir kemurahan, berkat-berkat Tuhan akan mengejar dan menghampiri kita. Kita tidak akan dapat mendahului hal-hal baik dari Tuhan. Ke mana pun kita pergi, segala sesuatu akan berubah demi kita. Seseorang akan melakukan sesuatu yang baik untuk kita, dengan menolong kita dengan cara tertentu. Mereka mungkin tidak tahu mengapa. Tetapi kemurahan Tuhan menyebabkan kalian bersinar di tengah-tengah banyak orang.
Itulah sesuatu yang terjadi “secara alami” saat kita menjalani cara berpikir kemurahan. Itulah sebabnya kita seharusnya membiasakan terus-menerus mengucapkan kemurahan Tuhan atas kehidupan kita. Dan bukan hanya atas kehidupan kita, melainkan juga bisnis atau pekerjaan orang tua kita, kakak-adik kita dan keluarga kita.
Jika kita masih sekolah, kita seharusnya menyatakan bahwa kita mendapat kemurahan dari para guru kita. Jika kita sudah bekerja apakah sebagai seorang akuntan, atau pengacara, atau fotografer, atau salesman setiap hari kalian seharusnya berkata, “Bapa, aku bersyukur kepada-Mu karena klienku setia kepadaku dan ingin berbisnis denganku.”
Belajarlah untuk mengucapkan kemurahan Tuhan atas semua bidang dalam kehidupan Anda. Ingatlah, semakin Anda memiliki cara berpikir kemurahan, semakin besar ke¬murahan Tuhan yang akan Anda alami.
