Yoh. 8:32 – “dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”
Anatoli Shcharansky, seorang Yahudi Rusia pembelot, mencium istrinya yang akan meninggalkan Rusia menuju Israel. Kata-kata perpisahan yang dia ucapkan adalah, “Aku akan segera menjumpaimu di Yerusalem.”
Namun, Anatoli ditahan dan akhirnya dipenjarakan. Pertemuan kembali di Yerusalem itu tidak saja tertunda, tetapi bisa jadi tidak akan pernah terjadi. Selama bertahun-tahun di penjara kamp kerja paksa Rusia, seluruh harta milik Anatoli dilucuti. Satu-satunya barang yang dimilikinya hanya salinan Mazmur ukuran mini. Suatu ketika ia menolak menyerahkan buku itu kepada pihak berwenang, dan ia diganjar hukuman 130 hari dalam sel isolasi.
Akhirnya setelah dua belas tahun berpisah dengan istrinya, ia ditawari kemerdekaan. Pada bulan Februari 1986, Shcharansky di kawal keluar dari penjara untuk diserahkan kepada orang-orang yang akan membawanya ke Yerusalem. Namun pada saat-saat terakhir itu, pengawalnya kembali berusaha menyita Kitab Mazmur miliknya. Anatoli membenamkan dirinya di salju dan menolak mengenyam kebebasan tanpa buku itu.
Kata-kata dalam buku itu telah menjaganya tetap hidup selama dalam penjara. Ia tidak mau menikmati kebebasan tanpa kata-kata kehidupan tersebut. Horace Greely pernah berkata: “Mustahillah secara mental dan social memperhamba orang yang membaca Alkitab. Prinsip-prinsip Alkitab adalah landasan bagi kemerdekaan manusia.”
Tuhan Yesus mengungkapkan fakta yang hakiki, secara jasmani seseorang boleh dalam keadaan diperhamba, tetapi jika orang tersebut mengetahui tentang kebenaran, dia sebenarnya adalah orang yang merdeka. Kebenaran itu adalah Firman Tuhan (Yoh. 17:17).
Tidak ada sesuatu yang dapat mengintimidasi atau memperbudak seseorang, entah itu masa lalu, rasa bersalah, dosa, masalah atau apa pun juga, selama orang tersebut mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, yaitu Firman Tuhan.
