“seperti ada tertulis: “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.” Roma 3:10
“Masakan manusia bersih, masakan benar yang lahir dari perempuan?” Ayub 15:14
“Siapa dapat mendatangkan yang tahir dari yang najis? Seorangpun tidak!” Ayub 14:4
Baiklah sekarang kita membahas tentang Kebenaran Manusia atau Orang benar. Kebanyakan orang berprinsip bahwa orang baik atau orang benar pasti masuk surga, sedangkan orang berdosa pasti masuk neraka.
Izinkan saya berkata bahwa Alkitab memberikan fakta sebaliknya. Sebaik apapun anda, sekalipun anda melakukan suatu perbuatan mulia dan luhur yang belum pernah sanggup dilakukan oleh siapapun di muka bumi ini, anda tidak cukup baik untuk masuk surga.
Hal ini tampak jelas dari ayat-ayat di atas. Yes 64:6 juga berkata “Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin.”
Mari kita baca suatu kisah yang disampaikan oleh Tuhan sendiri.
Luk 18:10-14
10 “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.
11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;
12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.
13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.
14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”
Orang Farisi ini adalah orang yang baik. Dia bukan hanya baik namun dia mengenal Allah yang hidup. Dia mengawali doanya dengan berkata “Ya Allah”. Dia tahu siapa Allah yang di sembahnya. Lagipula dia orang yang sangat baik, unggul dari segi moral. Itulah sebabnya dihadapan Allah dia berani berkata bahwa dia bukan seorang yang lalim, berarti dia adil dalam segala perkara. Orang Farisi bahkan berani mengakui Allah dengan bersembahyang di tempat-tempat umum dan di persimpangan jalan. Dia juga melakukan lebih dari tuntutan taurat dengan berpuasa 2x seminggu. Soal uang, dia tidak terikat oleh mamon ini, terbukti dengan dia memberikan sepersepuluh dari semua penghasilannya. Tidak ada cacat orang ini baik secara ibadah dan mora. Itulah sebabnya dia berani menjaminkan dirinya kepada Allah bahwa dia tidak sama (lebih baik) dari pada semua orang lain di muka bumi ini.
Terhadap orang yang baik ini Tuhan berkata “orang ini pulang dengan tidak dibenarkan”. Tidak di benarkan berarti kesalahannya tidak diampuni. Orang ini datang kepada Allah sebagai “manusia benar” tanpa menyadari kebenaran dirinya tidak ada artinya dan di pemandangan Tuhan dia tetap orang berdosa. Jika orang sebaik dan sekualitas orang Farisi ini di tolak oleh Tuhan, bagaimana dengan saudara dan saya ? Apakah kebaikan dan ibadah kita bisa membuat kita di benarkan ? Saya katakan TIDAK. Jika kebenaran diri kita yang kita ajukan kepada Tuhan sebagai dasar untuk pembenaran maka kita juga pasti di tolak.
Itulah sebabnya Rasul Paulus juga tidak berani bermegah di hadapan Allah, selain bermegah atas kelemahannya.
2Kr 12:5 …tetapi atas diriku sendiri aku tidak akan bermegah, selain atas kelemahan-kelemahanku.
Gal 6:14 Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.
Jika ada orang Kristen yang bermegah di hadapan Tuhan, memegahkan kebaikannya, pastilah dia seseorang yang belum mengenal dirinya sendiri dihadapan Allah.
Pemungut cukai ini berkebalikan dengan orang Farisi. Dia adalah seorang berdosa, seorang perampok dan lalim. Bahkan dia seorang pezinah seperti yang dikatakan oleh orang Farisi. Dia tahu keadaannya yang buruk, oleh sebab itu dia tidak berani menengadah keatas, dia menyesali keadaannya dan memukul dirinya serta berkata “Ya Allah, kasihanilah aku orang yang berdosa ini”.
Kata “kasihanilah” dalam bahasa Yunani adalah “Hilaskomai”, yang artinya juga adalah “mendamaikan”. Kata ini juga di gunakan dalam Ibr 2:17 : “Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan {HILASKOMAI} dosa seluruh bangsa.”
Berarti pemungut cukai ini menyadari kondisinya yang berdosa dan berkata “Ya Allah perdamaikanlah aku (dengan Allah) orang berdosa ini”. Dia berdiri atas prinsip darah perdamaian Kristus. Oleh karena itu dia pulang dengan dibenarkan Tuhan. Dibenarkan berarti kesalahannya di ampuni dan dia menerima keselamatan dan berhak masuk sorga.
Saudara-saudara, jika ada seorang berkata hanya orang benar dan hanya orang baik yang bisa masuk sorga, izinkan saya berkata itu bukan Injil Allah. Itu adalah Injil Iblis. Di Neraka banyak orang baik, sedangkan di Sorga banyak orang berdosa. Di Sorga ada pemungut cukai ini, ada Maria sang pelacur yang membasuh kaki Tuhan dengan rambutNya. Disana ada penjahat yang di salib di sisi Tuhan. Di sorga hanya ada orang-orang berdosa yang dosanya sudah di hapuskan.
Luk 5:31-32 “Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”
Hanya dengan bersandarkan DARAH KRISTUS, jika saudara mengaku sebagai orang berdosa dan mohon di benarkan oleh sebab darah Kristus, maka saudara di benarkan, dosamu di ampuni dan anda layak untuk menghuni Sorga. Haleluya !
