Roma 8:32 – Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?
“Aku berbuat dosa. Dan saat itu juga, secepat kilat, setan terbang menghadap Allah Yang Mahatinggi, serta mengajukan banyak tuduhan di sana. Katanya, “Jiwa ini, benda dari tanh liat dan rumput ini, telah berbuat dosa. Memang benar ia telah menyebut nama-Mu, tetapi aku menuntut kematiannya, sebab Engkau telah mengatakan, ‘Jiwa yang telah berbuat dosa pasti akan binasa’. Bukankah hukuman-mu akan digenapi? Sudah musnahkah keadilan? Lemparkanlah sekarang orang berdosa yang celaka ini ke dalam hukumannya. Apakah ada hal lain yang dapat diperbuat oleh Penguasa yang adil?”
Demikianlah ia mendakwa aku siang dan malam, dan setiap saat dia berkata, Ya Allah, adalah benar!
Maka dengan segera Seorang berdiri dari sebelah kanan Allah. Di hadapan kemuliaan-Nya para malaikat menutup mata mereka. Ia berfirman, “Setiap iota dan kata dari Hukum itu harus digenapi; orang berdosa yang bersalah itu harus mati! Tetapi tunggu dulu –bagaimana seandainya semua kesalahannya telah ditanggungkan kepada-Ku, dan bahwa Aku telah membayar hukumannya? Lihatlah tangan-Ku, lambung-Ku, kaki-Ku! Suatu hari Aku telah dijadikan berdosa bagi dia, dan Aku telah mati supaya dia bisa ditampilkan tanpa cacat, di hadapan takhta-Mu!”
Maka setan pun melarikan diri. Ia telah mengetahui betul-betul bahwa ia tidak bisa menang terhadap kasih seperti itu, sebab setiap Firman yang diucapkan Tuhanku yang kucintai adalah benar!
Itulah tulisan dari Martha Snell Nicholson yang coba mengambarkan kepada kita tentang kuasa penebusan dan pengampunan yang Yesus lakukan karena cinta-Nya yang luar biasa bagi kita. Bukan hanya supaya dosa kita diampuni, tetapi juga supaya kita bisa tampil tidak bercacat cela di hadapan Bapa.
Membaca tulisan tersebut dan menuliskannya kembali dalam tulisan ini membuat saya menangis karena merasakan besarnya cinta Tuhan. Cinta yang membuat Tuhan mau memberikan diri-Nya sendiri untuk menggantikan kita. Cinta yang tidak memandang dan tidak menuntut balas dari kita.
Sekalipun begitu, mungkin perlu kita merenung lebih jauh lagi untuk dapat menjawab sebuah pertanyaan yang pernah diutarakan oleh pemazmur: “Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?” (Mzm. 116:12)
