Menggunakan kebebasan dengan bijak.
Pada bulan pertama hari yang ke-13 Haman berhasil membujuk raja untuk menetapkan sebuah peraturan yang memberi kebebasan bagi rakyat dari kerajaan Ahasyweros untuk membunuh semua orang Yahudi. Kemudian ditetapkan bahwa dari eksekusi itu jatuh pada bulan ke-12 pada hari yang ke-13. Tapi berkat doa dan puasa, maka Tuhan bekerja dengan luarbiasa sehingga keadaannya berbalik. Setelah kejahatan Haman terungkap, maka raja memberi kuasa kepada Ester dan Mordekhai untuk membuat ketetapan yang dapat menyelamatkan orang Yahudi yang berada di seluruh wilayah kerajaan. Ketetapan yang dibuat oleh Ester adalah bahwa pada bulan yang ke-12 pada hari yang ke-14, orang Yahudi diperbolehkan untuk berkumpul dan melakukan perlawanan terhadap siapa saja yang melawan mereka. Mereka diperbolehkan untuk mempertahankan diri, untuk melawan, bahkan membunuh setiap penyerang beserta istri dan anak-anak mereka, dan kemudian merampas semua harta benda dari orang-orang yang dikalahkan (Ester 8:11).
Pada kenyataannya meski diberi kebebasan yang begitu luas, namun orang-orang Yahudi tidak dengan seenaknya saja memanfaatkan kebebasan tersebut. Sebaliknya, mereka hanya membunuh orang-orang yang menyerang, tetapi anak, isteri dan harta benda para penyerang tidak mereka sentuh sama sekali (terjemahan bahasa Inggris mengatakan: “…the Jews killed and destroyed five hundred men.; 500 orang laki-laki).
Tuhan membela.
Ketika bangsa Israel mengalahkan Yerikho, maka sebagaimana yang diperintahkan Tuhan mereka menumpas habis penduduk kota itu. Tapi Tuhan membela dan menyelamatkan Rahab dan orang-orang yang berlindung di rumahnya karena Rahab percaya dan takjub pada kekuasaan Allahnya orang Israel sebagaimana yang telah ia dengar. Demikian juga yang terjadi atas para petinggi dari kerajaannya Ahasyweros. Ketakutan pada Allah dan Mordekhai melanda mereka setelah mendengar apa yang telah dilakukan raja atas Ester, Mordekhai dan bangsa Yahudi. Malahan banyak dari antara mereka memutuskan menjadi Yahudi.
Demikian juga untuk mengkayakan orang Israel, Tuhan tidak pernah merampas. Ketika akan keluar dari perbudakan Mesir, Tuhan membuat hati orang-orang Mesir bermurah hati memberikan semua harta mereka kepada orang Israel. Tanpa perlu merampas Tuhan sudah membela umat-Nya. Karena itu demikian juga yang harus kita lakukan dalam hidup kita.
Tuhan pasti membela, tapi sebaliknya jangan kita menginginkan yang terlalu berlebihan seperti yang dilakukan oleh orang-orang fasik. Mereka mengajak membunuh dan merampas harta orang (Ams. 1:10-13; Kel. 23:2). Sebaliknya lakukanlah keadilan hingga mendatangkan kesukaan besar dari orang banyak. (WJ GPdI Kramat, No. 1341, Thn. XXVI, 160308).
