Ayat Pokok: Ayub 1:1 – “Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.”
Ayub adalah orang yang jujur. Itu adalah pengakuan Tuhan (Ayb. 1:8). Jujur artinya apa adanya, tidak ada yang disembunyikan. Bahkan ketika semua hartanya lenyap, Ayub mengaku bahwa itu semua bukan miliknya karena ia datang ke dunia dengan telanjang. Tuhanlah pemilik segala sesuatu. Sebab itu Ia berhak mengambil apa yang mau diambilNya. Hari-hari ini kejujuran adalah sesuatu yang langkah. Bahkan Alkitab berkata bahwa kejujuran telah hilang lenyap. “Orang saleh sudah hilang dari negeri, dan tiada lagi orang jujur di antara manusia. Mereka semuanya mengincar darah, yang seorang mencoba menangkap yang lain dengan jaring.” (Mikha 7:2).
Amsal 3:32 membagi manusia dalam dua kelompok; orang yang sesat dan orang yang jujur. Orang yang sesat yang dimaksud bukanlah orang-orang yang tersesat dan tidak tahu ke mana harus melangkah, melainkan orang-orang yang sengaja menyimpang dari apa yang mereka tahu, tapi menampilkan diri seolah-olah mereka tidak melakukannya dan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang lumrah.
Orang yang jujur dapat dilihat/terbukti dari beberapa hal, antara lain:
1.“Berliku-liku jalan si penipu, tetapi orang yang jujur lurus perbuatannya.” (Ams. 21:8)
2.“Orang yang hidup dalam kebenaran, yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan, yang mengebaskan tangannya, supaya jangan menerima suap, yang menutup telinganya, supaya jangan mendengarkan rencana penumpahan darah, yang menutup matanya, supaya jangan melihat kejahatan…” (Yes. 33:15)
3. “Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya.” (Ams. 11:3)
Ada tiga hal penting yang harus kita sadari dan mengerti tentang kejujuran, yaitu:
1. Kejujuran adalah modal dasar dan utama dari seseorang dipercaya untuk suatu kedudukan.
Dalam 2 Raj. 12 diceritakan tentang usaha Raja Yoas untuk merenovasi Bait Allah, tetapi sampai tahun keduapuluh tiga pemerintahannya renovasi itu belum terwujud. Masalahnya bukan karena orang Yehuda tidak mau berkorban, tetapi karena hilangnya kejujuran dari orang-orang yang ditunjuk untuk mengelola keuangan. Akhirnya mereka diberhentikan, kemudian raja mengangkat orang-orang yang jujur sehingga akhirnya renovasi Bait Allah bisa selesai.
2. Jujur adalah cara untuk dapat mengalami mujizat (Yoh. 6:1-11).
Anak kecil itu bisa saja tidak jujur dan menyembunyikan bekalnya untuk dirinya sendiri. Tetapi ia jujur dengan memberitahukan kepada Andreas mengenai roti dan ikan yang dimilikinya. Karena kejujuran anak itulah Tuhan Yesus melakukan mujizat dengan memberi makan kira-kira lima ribu orang laki-laki. Bandingkan sikap anak itu dengan apa yang dilakukan oleh Ananias dan Safira (Kis. 5). Pelayanan yang disertai dengan kejujuran pasti akan menghasilkan mujizat Tuhan yang luar biasa. Puji Tuhan!
3. Dalam doa pun harus jujur (Kis. 4:23-31)
Yang dapat melakukan mujizat dan tanda heran hanyalah Tuhan Yesus. Itulah pengakuan jujur dari murid-murid ketika mereka berdoa. Mereka akui bahwa bukan mereka yang melakukan mujizat dan tanda heran. Hal ini perlu bagi kita, karena banyak kali kita mengira bahwa ‘dengan iman’ kita bisa melakukan mujizat.
Pelayanan yang tidak disertai dengan kejujuran akan menjadi sesuatu yang merusak. Dalam Filipi 2:19-23 rasul Paulus mengungkapkan tentang Timotius yang jujur dalam pelayanannya – tidak seperti orang lain yang kelihatannya melayani Tuhan padahal yang mereka utamakan adalah kepentingan diri sendiri. Mereka adalah orang-orang yang sebenarnya bertuhankan perut mereka sendiri (Flp. 3:17-19).
Jadilah orang-orang yang melayani Tuhan dengan jujur, maka Tuhan akan menjadikan pelayanan kita sebagai sesuatu yang berharga di mataNya! Puji Tuhan!

