Ayat Pokok: Roma 12:3
Kita telah melihat bahwa di akhir zaman ada banyak orang yang beribadah, rajin berbakti ke gereja, tetapi sesungguhnya mereka tidak percaya dan tidak mengalami kuasa yang ada dalam ibadah – 2 Timotis 3:5. Ibadah hanya sebatas formalitas semata. Agar tidak termasuk dalam kelompok ini, kita harus berubah melalui pembaharuan (=transformasi) budi (=pikiran) – Roma 12:2. Bukan pikiran dunia, melainkan pikiran dan perasaan yang sama seperti Kristus Yesus! Tujuannya: supaya kita dapat membedakan mana kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Jangan Pikirkan Hal-Hal Yang Lebih Tinggi
Sekarang rasul Paulus menasihati jemaat untuk tidak memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kita pikirkan. Dosa berawal dari pikiran. Jika pikiran sudah melawan Allah, amat mudah untuk jatuh dalam dosa! Di Taman Firdaus, Hawa diperdaya oleh Iblis, oleh sebab ia tergoda untuk menjadi sama seperti Allah!
Jangan pikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari yang patut kita pikirkan! Apa yang patut kita pikirkan? Pikiran yang terdapat dalam Kristus Yesus – Filipi 2:5.
Pengalaman Pribadi
Rasul Paulus berbicara berdasarkan pengalaman pribadi: berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadanya. Karena ia sendiri telah mengalami kasih karunia dan pertolongan Tuhan, maka ia sekarang berbicara/memberi nasihat kepada orang lain. Sama seperti Yesus memberikan kepada manusia apa yang telah diterimaNya dari Bapa. Demikian pula kita perlu menyampaikan/menyaksikan kepada orang lain kasih karunia Tuhan yang telah kita alami.
Anugerah Tuhan apakah yang telah dialami rasul Paulus?
2 Korintus 12:7-10 – “Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.” Rasul Paulus memiliki banyak alasan untuk meninggikan diri – 2 Korintus 12:1-6. Tetapi Allah mengirimkan utusan Iblis untuk menggocoh dia, dengan tujuan supaya ia tidak meninggikan diri! Demikianlah seringkali Tuhan ijinkan penderitaan datang, supaya kita tidak meninggikan diri!
Tiga kali Paulus berseru memohon agar duri itu dicabut. Tetapi apa jawab Tuhan? “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” – ayat 9.
Di tengah kesusahan dan penderitaan, bisakah kita mengerti apa maksud Tuhan? Saat ujian dan pencobaan datang, apakah kita masih bisa berseru dengan suara lantang, “Sekali Yesus, Tetap Yesus”?
Alkitab mencatat, di akhir zaman banyak orang Kristen akan murtad! Mengapa? Sebab mereka tidak mengerti kehendak Allah, saat mengalami penderitaan. Semakin berat pencobaan yang saudara alami, semakin mendekatlah kepada Allah – jangan malah lari menjauh daripadaNya. Pada waktunya Ia akan menyatakan kuasa dan pertolonganNya! Puji Tuhan!
Rasul Paulus telah mencapai pemahaman akan kehendak Allah begitu rupa, sehingga di tengah penderitaan, meski Tuhan tidak mengabulkan doanya, ia bisa berkata, “Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat” – ayat 10.
Maksud Allah
Apa maksud Tuhan dengan semua penderitaan yang harus dialami oleh Rasul Paulus ataupun saudara dan saya?
2 Korintus 1:3-4 – “Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.”
Melalui penghiburan Tuhan dalam penderitaan yang kita alami, Tuhan menghendaki kita dapat menghibur orang lain yang sedang dalam kesusahan! Haleluya!
Apakah di tengah penderitaan, kita tetap mau berpegang pada Yesus, sampai Ia menyatakan kuasaNya, membebaskan dan memberi penghiburan supaya pada gilirannya kita pun dapat menghibur orang lain? Atau kita lebih suka melepaskan diri dan mundur daripadaNya? Pilihan ada di tangan saudara dan saya.
Tuhan pasti memberi pertolongan! Walaupun adakalanya kita merasa pertolongan Tuhan terlambat. Tetapi sesungguhnya, bagi Tuhan, tidak ada yang terlambat. Dia selalu datang tepat pada waktunya! Saat kita tidak lagi dapat berbuat apa-apa, saat itulah Tuhan datang dan menyatakan kuasaNya. Tujuannya? Supaya kita bisa menolong dan memberitakan kepada orang lain tentang penghiburan Tuhan! Haleluya!
Kita harus menanggalkan manusia lama yang akan binasa oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kita “dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” – Efesus 4:21-24.
Alkitab mencatat, “setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.” Melalui Perjamuan Kudus yang kita adakan hari ini, mari ingat bagaimana Yesus telah menderita sengsara bagi saudara dan saya. Itulah tanda cintaNya. Dan kalaupun kita harus menderita, kita tetap mau mengingat dan berdoa bagi orang lain supaya mereka pun diselamatkan.
Tetap arahkan pikiran kita pada pikiran dan perasaan Yesus. Dalam keadaaan apapun (suka maupun duka), tetaplah bertahan dalam iman kepada Yesus Kristus. Yakinlah, di balik semua yang terjadi, ada maksud Tuhan. Dan bahwa segala sesuatu bekerja bersama-sama untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia [“…all things work together for good to them that love God…”] – Roma 8:28.
Jadi, apapun yang terjadi dalam hidupmu, percayalah, ada maksud Tuhan di dalamnya. Sabarlah dalam penderitaan. Waktunya akan tiba dimana Tuhan menyatakan kekuatanNya, sehingga kita dapat menghibur dan menguatkan orang lain.
Tuhan Yesus memberkati saudara! (GPdI Ketapang – Jakarta, 13 Sept. 2009, stand’s)
