PENDAHULUAN.
Mujizat penyembuhan di Meko membuat mata terbelalak. Masyarakat yang tinggal jauh dari desa tersebut, punya hasrat ingin tahu tentang ‘apa yang sesungguhnya sedang terjadi?’. Banyak orang yang mengklaim bahwa telah terjadi “Lawatan Allah” di desa Meko yang letaknya di pinggiran danau Poso itu. Seiring dengan waktu, bermunculan desas – desus di kalangan intern gereja bahwa gambar yang diambil pada ritual tersebut terkesan seperti wajah naga, singa, kera dan lain-lain. Fenomena yang sedang terjadi menimbulkan pro dan kontra. Oleh karena itu saya pun melakukan investigasi sehubungan dengan kabar yang telah tersiar dan menjadi berita hangat sampai ke mancanegara. Tindakan tersebut sangat Alkitabiah. Dokter Lukas yang juga sebagai sejarawan dan wartawan Yunani abad pertama melakukan investigasi sehubungan dengan Kuasa Mujizat yang dilakukan Yesus Kristus Tuhan kita. “Therefore, since I myself have carefully investigated everything from the beginning…” Lukas 1 : 3 – Alkitab, NIV. Fenomena spiritisme ini perlu diteliti kebenarannya. Kita semua butuh pencerahan dan ketajaman mengenal kebenaran dan kepalsuan. Tentu saja Alkitab adalah tolok ukur yang tidak akan pernah keliru. ‘Rhema Alkitabiah’ itulah ‘roh hikmat’ untuk menambatkan prinsip pengenalan yang benar. Investigasi yang saya lakukan “bukanlah” suatu tindakan yang berkedok pertarungan Teologis, melainkan suatu pembelajaran bahwa segala manifestasi dan peristiwa yang bernuansa doktrin harus diteliti kebenarannya. Oleh karena itu izinkanlah saya untuk menuturkan hasil investigasi ini. Kiranya anda mendapat percikan berkat-Nya.
Jumat Malam, 6 April – Sabtu Subuh 7 April 2007.
Jumat malam, 6 April 2007, jam 20.45. Saat memasuki arena ritual penyembuhan, seorang sahabat mengatakan bahwa “jembatan yang ada di depan kita adalah kenangan pertama perjumpaan anak Selvin (anak yang penuh mujizat kesembuhan) dengan Tete Manis (Yesus)!” matapun tertuju ke jembatan yang melintang pada anak sungai yang bermuara di danau Poso itu. Menurut cerita, Selvin yang baru berusia 8 tahun itu dituntun oleh roh ajaib dan melihat banyak orang sakit tergeletak pada penglihatannya. Ia pun kemudian berdialog dengan ‘Tete Manis’ setelah mata teroles dengan getah sautu pohon. Tete Manis berpesan bahwa perkara besar akan terjadi melalui manifestasi penyembuhan yang dikaruniakan atas anak Selvin. Bahkan dikatakan lebih dari 5000 mujizat penyembuhan akan terjadi. Hal ini dikukuhkan ketika Selvin menyembuhkan mamanya dan kakaknya. Kami pun berjalan terus…dan saya terkagum dengan suatu keadaan yang spektakuler. Sekitar lebih kurang 300 mobil dari berbagai penjuru diparkir di pinggir jalan sekitar lapangan. Tenda tenda didirikan sehingga lapangan sepakbola penuh sesak dengan ribuan orang yang menantikan datangnya signal penyembuhan. Teras rumah penduduk di sekitar lapangan sepak bola juga digunakan untuk meletakkan orang sakit dan tempat untuk melepas lelah bagi keluarga yang mengantar pasien. Setelah menempuh perjalanan berkeliling tiga perempat lapangan dengan berjalan kaki, kamipun tiba ditenda utama. Sekitar 500 orang dengan begitu semangat menyanyikan “Allah Kuasa Melakukan Segala Perkara”. Saya pun tersentak, pikirku suatu kebaktian yang luar biasa, dihadiri oleh masyarakat lintas agama dari berbagai penjuru. Saya semakin penasaran untuk bertemu Selvin yang sering disapa “dokter kecil” dan juga mamanya. Sulit sekali untuk menerobos masuk di tengah-tengah kerumunan orang banyak. Akhirnya saya menerobos orang banyak di pinggiran tenda yang dibuat memanjang dari teras depan rumah Selvin. Melewati tanah becek akibat sering diguyur hujan, maka sampailah kami di samping rumah yang juga dibuatkan tenda. Dari samping rumah dengan jarak 2 meter saya melihat dengan jelas mama Sil (mamanya Selvin) yang sedang bersaksi kepada pengunjung yang dari Hongkong. Para pengunjung mancanegara itu termangu-mangu setelah kesaksian mama Sil diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin. Lima menit sudah berlalu saya berada di pinggir jendela rumah itu. Tiba-tiba dengan gerakan refleks, mama Sil menengok ke luar jendela dan menyapa salah seorang teman saya, ujarnya …”bapak cina ya? Mari masuk, disini banyak orang cina!” Setelah menyapa, mama Sil pun langsung meninggalkan kerumunan pengunjung dari Hongkong dan Palu itu dan masuk ke kamar. Saya pun mulai curiga dan bertanya dalam hati, “Apakah dengan kehadiran kami percakapannya terganggu? Atau roh penyembuhan itu tidak mau bersahabat dengan kami? Atau…Ah, lupakan aja! Ada suatu investigasi yang lebih penting dari suasana tadi. Datangnya jam 24.00 tepat, sedang dinantikan oleh orang sakit dan ratusan pengunjung yang ada ditenda dan sekitarnya. Mereka semua sedang menantikan signal penyembuhan pada jam 24.00 nanti. Bersama teman-teman, kami beranjak dari samping jendela, mendekat ke teras rumah yang dijadikan altar. Antara ragu dan tidak, tangan merogok kantong untuk mengambil Handphone dan ingin membidik kearah altar tesebut. Ternyata masih ragu, karena tidak seorangpun yang diizinkan mengambil gambar atau video. Saya beranjak berlawanan arah ke tenda sebelah. Mungkin ini tempat yang strategis untuk mengambil shootingan video dan gambar melalui HP. Jam 23.19, saya memberanikan diri untuk mengangkat HP dan melakukan shootingan video ke arah altar. Mendekati jam 24.00 itu, sang mama Sil, entah atas dorongan apa keluar dari kamar. Saya semakin fokus dan zoom mendekat ke altar. Selang beberapa menit kemudian mama Sil keluar dari kamar, seperti hendak melakukan kontak spiritual. Tidak lewat dari 3 detik kontak itu berlangsung sang mama Sil memberikan instruksi bahwa ada kamera yang sedang aktif dan difokuskan ke altar. Beberapa pengunjung yang ada di depan saya menegur atas instruksi mama Sil. Disusul lagi, seorang bapak datang menegur saya dengan keras, karena mungkin sudah melakukan pelanggaran sistem penyembuhan. Seorang bapak yang lain meyakinkan saya dengan logat khas sulawesi selatan bahwa larangan mengambil gambar dan video sudah diberlakukan sejak awal. Sesudah memberi keterangan kepada saya, ia pun bergabung dan menyanyi bersama. Tidak lama kemudian saya menyusuri tenda bagian belakang dan akhirnya sampai pada jalur masuk utama di bagian samping tenda. Penantian telah tiba. Seorang memberi aba-aba, bahwa tiba saatnya kebaktian penyembuhan dimulai. Bagi kaum muslimin diperintahkan untuk mengambil air wudhu dan sholat. Agama lain harus berdoa menurut agama yang ia yakini. Bagi umat kristiani menyebut ‘Doa Bapa Kami’. Ritual pun dimulai dengan menyebut Doa Bapa Kami. Sang pendeta membacakan ayat-ayat yang bertuliskan Doa Bapa Kami pada Injil Matius dan Markus. Selama proses itu berlangsung, doa itu disebut bersama-sama sebanyak tiga kali. Kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan kidung puji-pujian secara bergantian dan dinyanyikan berulang kali. Signal penyembuhan tak kunjung datang. Agar ibadah penyembuhan itu tidak kelihatan jenuh, maka pengunjung dari Hongkong diperkenalkan satu persatu di depan altar. “Inilah lawatan Tuhan atas Meko! Orang Hongkong datang mengunjungi kita”. Kata-kata itu terdengar seolah-olah mujizat baru saja terjadi di depan mata. Lagu “Tuhan memanggil namamu” kemudian dinyanyikan seperti mirip pantun berbalas-balasan. Suasana ibadah sudah tidak semeriah seperti pada jam 23.00 sampai 24.00. Mungkin karena pengaruh fisik, semua pengunjung dalam ibadah penyembuhan itu sepertinya sudah lelah. Akhirnya, pada jam 02.00 saya memutuskan untuk menghentikan investigasi. Kamipun langsung bertolak meninggalkan Meko.
Kamis, 26 April 2007, Jam 10.45 – 12.30 WIT.
Investigasi kali ini beserta dengan rombongan wartawan dan pemimpin salah satu denominasi gereja di Sulteng. Jumlah pengunjung yang datang semakin membludak. Sepanjang jalan – jalan di Meko penuh kendaraan yang di parker di pinggiran jalan. Setelah mengambil dokumentasi kenang – kenangan di jembatan Meko antara Selvin dan Tete Manis (Yesus), kami pun menelusuri jalan – jalan yang penuh sesak dengan ribuan manusia yang berkunjung ke Meko. Pimpinan gereja dan pemred salah satu Tabloid menggeleng – gelengkan kepala. Mereka berkata: “Sungguh mengherankan!” seperti apa yang terjadi pada zaman Yesus. Tak ada undangan resmi. Walaupun beberapa orang yang dating dengan motif investigasi, tetapi hampir semua dating karena panggilan kesembuhan. Kami pun langsung mengambil gambar sekitar lapangan tempat di mana para pengunjung mendirikan tenda – tenda, sambil tetap berjalan menuju tenda utama tempat ibadah penyembuhan berlagsung. Akhirnya kami sampai di tenda utama dimana sekitar 400 orang sementara mengikuti kebaktian penyembuhan. Kali ini terjadi suatu gerakan penyembuhan yang agak berbeda dengan pengamatan di waktu lampau. Kini mereka membuat beberapa lingkaran kecil di mana setiap lingkaran itu terdapat pasien di tengah – tengahnya. Pujian dilakukan berulang kali sambil menantikan datangnya kesembuhan. Kami pun merasa terkesan dengan apa yang sedang terjadi. Saya ikut menyanyikan dengan tepukan tangan, “Allah Kuasa Melakukan Segala Perkara, Bilurnya Membawa Kesembuhan…” Setelah menengok ke belakang, kira – kira berjarak 3 meter, seorang pimpinan gereja yang melakukan investigasi juga melakukan hal yang sama. Kami ikut bergirang. Sementara menikmati lagu – lagu itu, saya terus berdoa dengan penuh ketulusan kepada Tuhan, agar Tuhan menyatakan sesuatu dari semua pandangan antara pro dan kontra. Saya terus berdoa, tanpa melakukan doa peperangan rohani. Tetapi doa itu adalah meminta petunjuk Tuhan apakah itu dari Tuhan atau sumbernya dari kuasa yang lain. Tiba – tiba mama Sil keluar dari lingkaran kecil tidak jauh dari tempat kami (sekitar 2 m). Secara cepat ia meninggalkan lingkaran itu. Semua mata tertuju padanya. Kami semua bingung, ada apa gerangan. Tubuh lincah itu diikuti puluhan pasangan mata menuju lingkaran di baruga dan melanjutkan ke tenda – tenda kemudian menghilang. Sekitar 20 menit kemudian mama Sil muncul di altar yang dibuat di depan teras rumahnya. Ia segera menghentikan kegiatan yang sedang berlangsung dan mengumumkan beberapa hal. Sebelum berbicara ia melakukan gaya ritual yang khas. Tangannya diangkat ke atas. Ke dua telapak tangan bertemu diatas kepalanya dan diturunkan perlahan – lahan sampai ke dada. Dalam beberapa proses investigasi hal ini selalu di lakukannya. Kemudian ia berbicara tanpa pengeras suara. Orang – orang mendengarnya dengan tidak terlalu jelas. Saya berusaha memasang kuping tapi pernyataannya tidak terlalu jelas. Saya pun kemudian menanyakan hal itu kepada pimpinan gereja yang melakukan investigasi. Beliau berkata bahwa mama Sil sedang menyampaikan kekesalannya. Katanya ada yang telah lancang menumpangkan tangan atas orang sakit tanpa setahu mama Sil. Ibu itu berpesan bahwa yang diberikan karunia untuk kesembuhan Meko hanya mereka. Jika ada orang lain yang menyusup masuk dan menumpangkan tangan atas orang sakit, harus ditolak. Jadi karunia kesembuhan Meko hanya khusus diberikan untuk kami tegas mama Sil secara berulang kali, yang selalu diakhiri kata “PAHAM!”. Serentak para pengunjung dalam ibadah penyembuhan itu menjawab “PAHAM!” Akhirnya mama Sil menginstruksikan agar semuanya bubar untuk makan siang dulu. Kami pun beranjak bubar dari tempat itu beserta kerumunan massa yang menuju tenda – tenda penginapan mereka. Kami segera bergegas mencari dan menuju rumah pak kades Meko. Setelah mendapat keterangan dari ibu kades bahwa beliau tidak di rumah, maka kami pun mewawancari ibu tersebut seputar peristiwa mujizat yang terjadi di Meko. Tugas interview selesai, berarti investigasi selesai. Kami langsung beranjak pulang dari desa Meko.
Kamis Malam, 26 April, Jam 20.30 – Jumat Subuh, 27 April 2007, Jam 02.15.
Malam pun tiba. Menurut jadwal saya akan mendampingi ibu Annette Hammond dan ibu Wawa, utusan dari ABBA LOVE MINISTRY. Kami melakukan perjalanan pada jam 19.30 WIT dari Tentena. Ketika memasuki desa Meko saat itu sudah sekitar jam 20.30 WIT. Seperti biasanya, ratusan kendaraan yang diparkir di pinggiran jalan – jalan membuat kami agak sulit untuk parkir kendaraan. Kamis malam sampai jumat adalah waktu yang khusus untuk melaksanakan kebaktian penyembuhan itu. Kami lansung menuju pastori salah satu gereja setelah kami menemukan tempat parker kendaraan. Di situ kami menemukan beberapa orang dari Bandung dan hamba Tuhan dari negeri Jiran, yang juga sedang melakukan investigasi. Percakapan kami berlangsung hanya selang beberapa menit dan akhirnya semuanya memutuskan untuk segera bertemu mama Sil. Kami dipandu oleh beberapa orang termasuk pendeta yang dari Bandung. Lorong – lorong kami telusuri, melewati depan, samping dan belakang rumah. Lumpur muncrat di kaki dan celana karena harus melewati pinggiran rumah orang dengan jalan setapak yang selalu dilalui banyak orang. Melewati belakang rumah, disamping tempat MCK (mandi, cuci & kakus) dengan bau yang menyengat. Dalam radiasi sekitar 10 meter dari rumah Silvana tenda – tenda didirikan. Kami melewati beberapa tenda – tenda itu. Di tenda itu banyak pasien yang terbaring dan orang – orang yang istirahat karena kelelahan. Selang beberapa menit kami tiba di dapur rumah Silvana. Mengherankan! Di dapur itu juga banyak orang yang sedang menantikan datangnya mujizat penyembuhan. Dengan sikap ngantri dan berdesak – desakan kami menunggu. Seorang hamba Tuhan dari bandung memberi aba – aba kepada orang yang berdesak – desakkan di ruang tengah bahwa ada tamu yang berkunjung dan akan bertemu mama Sil. Salah seorang pelayan menyapa kami. Kemudian mempersilahkan masuk dan menerobos melewati orang banyak. Langkah demi langkah harus diatur sedemikan rupa sehingga tidak menginjak para pasien yang terbaring dan sedang duduk menantikan datangnya penyembuhan itu. Setelah berupaya menerobos, tibalah kami di ruang depan yang bersebelahan dengan teras rumah yang dijadikan altar. Di situ kami mendapat informasi bahwa katanya mama Sil tidak berada di tempat karena sedang berkunjung ke tenda – tenda. Udara pengap karena, rumah itu penuh manusia yang berdesak – desakan baik yang sakit maupun yang sedang bernyanyi. Ruangan itu sudah sangat melebihi kapasitas. Keringat bercucuran. Ibu Annette memberi aba – aba agar keluar saja dari tempat itu, karena terlalu panas. Kini kami melewati altar dimana ada beberap para penyenyi altar yang sedang semangat menyanyikan lagu – lagu untuk menantikan datangnya penyembuhan. Sambil berhati – hati kami melangkahkan kaki agar tidak menginjak orang sakit yang sedang duduk di altar dan di depan altar itu. Akhirnya kami sudah sampai di sampaing tenda, kemudian menelusuri samping rumah – rumah penduduk menuju pastori. Beberapa rekan yang lain masih mengitari sekitar tenda itu. Ibu Annette, ibu Wawa, saya dan beberapa teman lainnya memutuskan untuk menuju pastori. Dalam perjalanan menuju pastori ibu Annette sempat menyampaikan sesuatu bahwa orang – orang sakit yang datang dengan latar belakang lintas agama, membutuhkan belas kasihan untuk sembuh. Ia berpendapat bahwa sudah sepantasnya hamba – hamba Tuhan yang datang dari berbagai denominasi, memiliki belas kasihan Yesus dan menumpangkan tangan atas orang – orang sakit itu. “Mereka semua membutuhkan belas kasihan Yesus!” ujar ibu Annette dengan lantang. Beberapa menit setelah itu kami tiba di pastori. Tak lama kemudian kami dikunjungi oleh seorang ibu, aktivis yang setiap harinya membantu pelayanan kebaktian penyembuhan itu. Ia bertutur tentang lawatan Allah yang luar biasa. Kami mendengarkan penjelasannya. Dikatakan saat ini terjadi suatu gelombang berikutnya dimana hanya dengan menyanyikan pujian yang dinyanyikan berulangkali dengan membuat lingkaran kecil mengelilingi orang sakit di tengah – tengah kerumunan orang banyak mereka sembuh. Beberapa pertanyaan kami lontarkan. Di antaranya apakah semua orang yang datang sembuh? Ibu itu menjawab dengan suara yang parau, “Banyak orang yang sembuh, tetapi ada juga yang tidak! semua tergantung, apakah mereka dating dengan pertobatan atau tidak”. Jam di dinding pastori telah menunjukkan pukul 23.35 WIT. Itu berarti bahwa 25 menit lagi kebaktian jam 12.00 WIT akan segera di mulai. Ibu yang bertutur tadi segera mengantar ibu Annette dan ibu Wawa ke tenda utama. Saya menggunakan waktu sisa untuk interview beberapa hamba Tuhan dari Bandung yang juga sedang melakukan investigasi selang tiga minggu terakhir ini. Pada prinsipnya mereka menganggap bahwa mujizat Meko adalah lawatan Allah. Sepuluh menit sudah berlalu. Interview saya hentikan dan segera bergegas menuju tenda utama. Kali ini saya bergegas melewati jalan yang lain sambil menelusuri tenda – tenda pengunjung yang terletak di pnggiran lapangan. Hampir saja saya kehilangan arah ke tenda utama, karena posisi tenda yang dibuat sambung menyembung dengan tenda yang lain. Sementara berusaha mencari jalan menuju tenda utama, acara itu sudah dimulai. Saya sendiri sudah tak memasang kuping, mendengarkan instruksi dan ceramah mama Sil, karena berusaha menerobos pinggiran tenda yang sambung menyambung itu. Kerap kali melintasi Lumpur di antara tenda – tenda itu. Beberapa menit kemudian saya tiba di jalan menuju pintu utama tenda itu. Jalan itu pun penuh sesak dengan manusia. Saya hanya bisa menatap kearah tenda utama yang berjarak sekitar 7 meter. Orang – orang yang berdesakan di jalan menuju tenda utama hanya sempat mendengarkan mama Sil berbicara tanpa melihat wajahnya. Di tempat itu saya bertemu dengan beberapa teman yang melakukan investigasi termasuk hamba Tuhan dari negeri Jiran itu. Sekitar jam 01.25 WIT kami bergegas menuju pastori saat mama Sil masih berbicara di altar itu. Seperti biasanya tenda – tenda kami lalui dengan melewati tanah berlumpur menuju pastori yang tidak jauh dari tenda rumah mama Sil. Tanpa menunggu lama, saat tiba di pastori kami langsung shearing dengan hamba Tuhan dari negeri jiran. Beliau mengemukakan beberapa hal sehubungan dengan apa yang ia selidiki dalam tempo beberapa jam. Inti dari pembicaraan itu adalah bahwa kita tidak perlu mengajukan pertanyaan ini dan itu. Yang jelas bahwa ribuan orang yang dating sedang membutuhkan pertolongan secara khusus. Apa peran gereja dan para pemimpinnya? Mereka harus peduli tentang apa yang sedang terjadi saat ini, tanpa melihat denominasi. Sekarang waktunya dimana setiap denominasi memiliki visi interdenominasi dan menanggapi kerinduan ribuan orang yang dating. Saya memahami bahwa ia sedang mengayunkan cambuk perkataan melalui suara kenabiannya. Saya pun memberikan alasan bahwa kita semua harus mendobrak tembok pemisah yang sedang didirikan di balik misteri mujizat Meko. Memang terasa sulit, karena baru saja pada siang tadi mama Sil menginstruksikan jika ada orang lain yang menyusup masuk dan menumpangkan tangan tanpa setahu mama Sil mereka harus ditolak. Dikatakan bahwa mereka adalah orang – orang yang dating menyusup tanpa di bawa control mama Sil. Sebetulnya ada apa dibalik semua itu? Saya pun akhirnya mengajukan pertanyaan seperti itu kepada hamba Tuhan tersebut. Akhirnya kami memintakan agar ia memimpin doa sekaligus memberikan spirit untuk action berikutnya. Rombongan itu meninggalkan pastori dan Meko menuju tempat penginapan. Saya masih sendirian, menunggu ibu Annette dan rombongan. Tak lama kemudia saya mencoba beranjak dari tempat itu dan bertemu mereka di jalan. Akhirnya sekitar jam 02.15 kami memutuskan untuk pulang ke tempat penginapan di Pamona Indah. Sementara menyetir mobil saya mengajukan pertanyaan mengenai hasil investigasi mereka. Ibu Annette menitik beratkan pada kerinduan ribuan orang yang dating membutuhkan mujizat kesembuhan dan kerinduan orang sehat agar melihat mujizat yang sedang bekerja. “Semua hamba Tuhan harus berperan aktif!” tegas beliau. Ibu Wawa berkomentar, bahwa harus melakukan investigasi selanjutnya disertai doa dan puasa selama tujuh hari untuk meminta petunjuk Tuhan, apakah itu mujizat itu dari Tuhan atau bukan. Hampir sejam kami melakukan perjalanan pulang, akhirnya tiba di hotel Pamona Indah tepat pada jam 03.00 WIT.
BELAJAR DARI PERISTIWA INI.
Semua peristiwa yang berlangsung disekeliling kita, memiliki hikmah tersendiri. Alkitab pun mengajarkan banyak hal kepada kita tentang hikmat, melalui hamba-Nya Salomo, Yakobus dan penulis lainnya. Peristiwa demi peristiwa yang terjadi di depan mata manusia adalah aset jiwa menuju kematangan dalam setiap tindakan. Hal-hal yang saya munculkan disini adalah melalui peristiwa ini, kita mengambil sisi positifnya. Tetapi di lain pihak kita terus secara bergairah untuk melakukan investigasi selanjutnya untuk menemukan titik kebenarannya. Tentu saja sekali lagi tolok ukur yang harus kita gunakan adalah “ALKITAB ADALAH FIRMAN ALLAH” (Bd: 2 Tim.3:16). Atas dasar inilah saya semakin bergairah dan berusaha menemukan titik terang, yang bermuara pada suatu pertimbangan dan penentuan sikap. Oleh karena itu, saya akan mengemukakan sisi positif dari peristiwa ini dan yang berikut adalah pertanyaan demi pertanyaan yang saya lontarkan kepada pembaca sekalian baik yang pro maupun kontra.
Pertama, Sisi Positif. Melalui peristiwa Meko kita dapat mengambil faedah secara positif sebagai berikut:
1. Inilah kerinduan kita semua bahwa konsep persatuan dan kesatuan bangsa harus terjalin erat. Sebagai anak bangsa yang dibesarkan dalam bingkai “Bhineka Tunggal Ika” seharusnya terpateri konsep persatuan dan kesatuan di nadi kita semua. Peristiwa meko telah mengundang perhatian lintas agama dengan tidak mengandung sekat-sekat atau kontroversi yang berbau SARA. Tanah Poso yang dikenal sebagai tanah pertumpahan darah kini menjadi tanah yang dilalui oleh masyarakat lintas agama. Disini kita menjalin kebersamaan.
2. Menambah khasanah pemahaman dan penggalian Teologis, Alkitabiah yang lebih bergairah lagi. Semestinya kita bersyukur karena dua Doktor lulusan USA dan Singapore berperan aktif serta berupaya untuk menambah literature. Mereka adalah sumber referensi dan acuan kita dalam proses pengamatan dan penelitian selanjutnya.
3. Disini kita semua diuji menurut takaran Firman Allah. Munculnya pemahaman antara pro dan kontra akan menguji kedewasaan berpikir dan kedewasaan berperasaan menurut Filp.2:5. Apabila ada diantara kita semua saling menanggap secara emosional, menyudutkan denominasi, mengumpat, apalagi sudah melakukan kontak fisik, sadarlah bahwa tinggal sejengkal lagi kita akan masuk perangkap iblis. Debat antara pro dan kontra itu wajar. Tetapi yang tidak wajar adalah jika kita sudah masuk diarena menyabung emosi apalagi kontak fisik. Apabila anda sudah menjurus ke situ bertobatlah.
4. Bagi yang kontra, peristiwa ini merupakan cambuk atas kita semua agar meningkatkan pergumulannya dalam doa dan puasa supaya mujizat yang sesungguhnya benar-benar terjadi di Sulteng.
5. Kini saatnya gereja Tuhan dengan hati tulus melihat dengan jeli dan semakin bergairah meneliti Alkitab sebagai tolok ukur dalam gelombang kegerakan rohani. Fenomena Penyembuhan di Meko semakin menghentakkan dan menggairahkan kita untuk melakukan diagnosa pertumbuhan gereja. Kita juga disentuh untuk meningkatkan doa dan puasa agar kita semua melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, (Filp.1:9-11).
Kedua, Beberapa pertanyaan dan indikasi yang terjadi.
Dalam proses investigasi, saya melihat beberapa indikasi yang perlu kita cermati:
1. Mengapa proses penyembuhannya tidak boleh mengambil gambar maupun video? Saya sebut dengan hormat, Bpk.Dr.Tertius Lantigimo telah menyentil dalam tulisannya: FENOMENA MUJIZAT KESEMBUHAN ILAHI DI MEKO. Beliau menyiratkan bahwa itulah “keistimewaannya”, dengan berkomentar: “Secara Teologis, Tuhan memakai anak tersebut untuk kemuliaan nama-Nya, dan bukan untuk kemuliaan golongan atau pribadi tertentu”. Saya sudah memahami apa yang dimaksudkannya. Namun dalam proses investigasi yang saya lakukan sepertinya pelarangan foto dan video merupakan “aturan” yang tak dapat diganggu gugat dalam proses penyembuhan itu. Seolah-olah pengambilan gambar dan video merupakan salah satu kendala untuk terjadinya proses penyembuhan. Hal ini tidak sesuai dengan mujizat yang pernah terjadi pada zaman Alkitab. Lebih kurang 40 penulis Alkitab meliput peristiwa demi peristiwa. Bahkan jika zaman itu sudah mengenal kamera dan video, maka pastilah mereka akan membuat film dokumenternya.
2. Mengapa pelaksanaan ritual penyembuhan harus dimulai tepat pada jam 12? Saya sangat sependapat dengan statement yang dikemukakan oleh Bpk.Dr.Tertius Lantigimo, bahwa “Tuhan memiliki hak prerogatif yang tidak dapat diganggu gugat.” Itu berarti bahwa Allah biasa melakukan praktek penyembuhan kapan saja ia mau, tanpa dibatasi oleh patokan waktu. Kemudian dikatakannya: “Kita harus camkan bahwa cara Allah menyembuhkan manusia tidak dibatasi oleh metode tertentu.” Namun dalam proses penyembuhan yang saya amati dilapangan ceritanya jadi lain. Kelihatannya disini terdapat suatu pesan mistik-ritualistik. Ketetapan itu dianggap dan dikramatkan sebagai signal kuat untuk penyembuhan itu datang. Kiranya kita semua harus terus meneliti lebih lanjut ada apa sebenarnya di balik jam 12 itu?
3. Mengapa harus Doa Bapa Kami, bukan di Dalam Nama Yesus bagi umat Kristiani, Sholat bagi umat muslim dan sembahyang menurut agama dan kepercayaan masing-masing? Saya sangat menjunjung tinggi prinsip-prinsip dari semua agama. Karena agama manapun di muka bumi ini menuntun manusia pada prinsip-prinsip “kebaikan”. Itu sebabnya di Negara kesatuan RI dicanangkan Forum Komunikasi Antar Umat Beragama. Disini kita merajut kasih, membagi rasa satu dengan yang lain. Karena secara terminologinya saja mengatakan bahwa agama itu berarti “tidak kacau”. Prinsip inilah yang kita harus junjung tinggi sebagai “tunggal ikanya” masyarakat Indonesia. Nah, sekarang dimana letak “bhinekanya”. Jawabannya kita temukan pada “Pandangan Teologisnya”. Pandangan Teologis inilah yang mengisaratkan kita untuk menganut dan memeluk kepercayaan masing-masing. Kita harus memahami bahwa prinsip kesembuhan ilahi kristiani berdasar pada pandangan teologis yang Alkitabiah. Apa itu? Di dalam nama TUHAN YESUS KRISTUS. Nama inilah yang digunakan oleh rasul-rasul gereja mula-mula dan hamba-hamba Tuhan yang diurapi sampai saat ini. Pada retreat terakhir Tuhan Yesus dan murid-muridnya di Kaisarea Filipi, Yesus pernah bertanya: “Kata orang siapakah Anak Manusia itu?” Murid-murid Yesus memberikan komentar bahwa Yesus diidentikkan sebagai salah seorang dari nabi sukses baik dalam PL maupun PB. Tapi iman kristiani sepakat menyebut Yesus seperti pengakuan Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Beberapa pandangan yang diutarakan diatas, merupakan indikator dari konsep teologi agama-agama Timur Tengah, bahwa Yesus hanya sebatas nabi. Itu sebabnya Yesus Kristus Tuhan kita digiring ke Golgota dengan dakwaan dari Mahkama Agama Yahudi bahwa Yesus telah melampaui kewenangan ilahi. Mereka mendakwa Dia dengan tuduhan menyebut diri-Nya sebagai TUHAN. Iblis telah menyulut api amarah di Mahkama Agama Yahudi. Iblis kalah dalam mengatur strategi. Justru karena itulah misi pengorbanan Yesus tergenapi. Ia membawa darah-Nya sendiri agar kelemahan dan penyakit manusia ditanggungnya. Mujizat penyembuhan selalu diakhiri dengan reaksi mulut dan hati yang mengaku bahwa Yesus Kristus itu TUHAN, Filp.2:8-11. Jadi Doa Bapa Kami adalah pengajaran Yesus yang mengarah kepada Doa Umum. Sedangkan mengusir kuasa setan, penyakit, kelemahan manusia, dan sebagainya harus di dalam Nama Yesus! Saya sebut dengan hormat, Dr.Henokh F.Saerang dalam tulisannya yang berjudul “Mujizat Meko” berkomentar: “Tuhan Yesus menegaskan bahwa dalam hal mengusir setan dan atau berdoa bagi yang sakit dan demi penyataan mujizat Allah kita harus berdoa dalam nama-Nya.” Seperti yang dituturkan oleh sdr.Arman Baturu, ketika membawa pasien dari Bada. Saat proses penyembuhan dari pasien lumpuh yang dibawanya, doa Bapa Kami dipanjatkan. Mama Sil melipat dan meluruskan kaki pasien tersebut, yang telah mengalami kelumpuhan. Pasien lumpuh itu meringis kesakitan. Arman tidak tega melihatnya. Naluri hamba Tuhannya muncul secara spontanitas dan mendukung dalam doa, seraya berseru: “Dalam Nama Yesus, Darah Yesus Berkuasa.” Sang mama Sil langsung menegurnya, “Jangan berdoa begitu! Sebut saja doa Bapa Kami. Arman dan pasien yang dibawanya pulang dengan kelumpuhannya.
4. Penggunaan nama Yesus sudah mulai diberlakukan, dengan beberapa lagu seperti “Bilurnya – bilurnya” dan lain – lain.
5. Telah terjadi “Gerakan Penyembuhan Berkelompok”. Suatu gerakan penyembuhan yang berbeda dari sebelumnya.
6. Pernyataan mama Sil di altar bahwa karunia kesembuhan hanya diberikan pada mereka. Orang yang tidak di bawa control mama Sil tidak berhak menumpangkan tangan atas orang sakit.
KESIMPULAN.
Gerakan Penyembuhan Berkelompok merupakan indikasi yang perlu kita cermati selanjutnya. Apakah ini suatu kebangunan rohani yang sebenarnya atau merupakan interval dari suatu kegerakan selanjutnya yang penuh misteri. Oleh karena itu proses investigasi selanjutnya secara terus-menerus merupakan sebuah solusi untuk menemukan titik kebenarannya. Sampai kapan? Sampai ditemukan titik hitam dan putih. Tentu saja dalam hal ini teleskopnya bukan sebuah praduga atau tafsiran, melainkan ALKITAB ADALAH FIRMAN ALLAH. Untuk mengakses semua keterangan baik yang pro maupun kontra dalam rangka proses penulisan buku : “FENOMENA PENYEMBUHAN DI MEKO ANTARA PRO DAN KONTRA”, maka saya tetap membuka ruang interaktif yang dinamakan “MEKO WATCH”. Layangkan opini, pertanyaan dan keterangan saksi mata atau info terkini sehubungan dengan peristiwa Meko ke alamat email : samuel_marhaba@yahoo.com atau melalui Short Massage Service (SMS) ke nomor : 085280114999. Partisipasi anda sekalian akan menambah khasanah berpikir dan menghasilkan pertimbangan yang sehat, untuk melebarkan Kerajaan Allah di muka bumi ini. Kiranya Tuhan Yesus Kristus Kepala Gereja melimpahkan berkat-Nya atas kita semua. Amin.
SARAN – SARAN
1. Fenomena Penyembuhan di Meko adalah moment yang perlu membutuhkan perhatian khusus dari pihak pimpinan gereja dari berbagai denominasi untuk melakukan investigasi sampai kita semua menemukan titik terangnya. Upaya ini akan membantu warga jemaat yang berada pada sisi pro dan kontra.
2. Apabila terjadi “gap” antara pro dan kontra yang kemudian memicu kearah “praduga” berlebihan antar denominasi, maka diperlukan para pelayan dari luar sulawesi untuk melakukan investigasi dan ikut melibatkan diri pada proses penyembuhan itu.
3. Perlu adanya “back up” dan “follow up” atas orang-orang yang kembali dari kunjungan Meko agar mereka semua diarahkan ke “Biblical Understanding”.
4. Semua hal itu tidaklah mudah. Kita butuh hati yang rendah plus menjunjung tinggi Kebenaran Alkitabiah sebagai “Wasil Tertinggi”.
“Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita. Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya”.MAZMUR 92 : 13 – 16.(GPdI Moutong, Sharron Ministry, Sulawesi Tengah).
INFO : Dapatkan VCD : “FENOMENA PENYEMBUHAN DI MEKO ANTARA PRO DAN KONTRA.” Berisi Wawancara antara tokoh – tokoh gereja Sulteng yang pro maupun kontra.
