Rom 12:1          .........supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati

" />
Sunday May 20th 2012

Ibadah Dan Pelayanan Yang Pantas: Motivasi Dalam Melayani

Author : Connecticut - USA | This author have 8 posts

Rom 12:1          ………supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati

Sebagaimana telah kita ketahui bersama, Ibadah adalah bagian yang tak terpisahkan dari dunia kehidupan kekeristenan. Dalam Alkitab kata ibadah mencakup pengertian yang cukup luas yaitu mulai dari: kesalehan (eusebia – lihat 1 Tim 3:16), sampai pada prosesi kebaktian pada Tuhan (liturgia – lihat Fil 2:17). Sementara dalam bacaan kita di atas, Ibadah diartikan sebagai pelayanan dan bakti kita kepada Tuhan (latreia).

Namun terlepas dari jenis dan pengertiannya, pernahkah kita peduli dan bertanya apakah ibadah atau pelayanan kita tersebut sudah berkenan dihadapan Tuhan??? Dan tahukah kita bahwa Tuhan memiliki suatu standar kualitas yang telah ditetapkanNya untuk mengukur kepantasan dari ibadah atau pelayanan kita?  

Roma 12:1 menulis tentang ibadah yang sejati, seperti telah disinggung terdahulu, kata ibadah ini berasal dari kata Yunani: latreia, yang berarti pelayanan atau service. Sementara kata “sejati” berasal dari katas Yunani: logika, yang dapat diartikan sebagai sesuatu yang masuk akal atau secara singkat seuatau yang “pantas” atau “patut”! Dengan demikian secara hurufiah pengertian dari Ibadah sejati disini adalah“pelayanan yang pantas”, atau pelayanan yang “memenuhi syarat atau standar”. Persoalannya sekarang adalah apakah yang menjadi standar yang harus dipenuhi?? 

Kalimat pertama dari nasehat dalam kitab Roma 12:1 ini menjelaskan bahwa hakekat dari pelayanan yang pantas adalah “mempersembahkan diri sebagai korban”. Inilah standar yang ditetapkan Allah bagi semua umat dan terlebih pelayan Tuhan. Artinya sangat jelas, yaitu tanpa mempersembahkan atau menjadikan diri sebagai korban, maka pelayanan atau ibadah kita akan menjadi sia-sia, tidak ada kuasanya, dan bahkan tidak berkenan pada Tuhan! Namun apakah artinya mempersembahkan diri sebagai korban? Jika kita telaah lebih mendalam, maka pada dasarnya hakekat dari kegiatan persembahan dan korban adalah memberi, dan memberi artinya adalah mengalihan atau memindahan hak milik dari si pemberi kepada si penerima. Berdasarkan pengertian ini, maka kualitas ibadah atau pelayanan kita akan tergantung dari kualitas korban kita yang berasal dari kualitas pemberian kita!. 

Untuk bisa memahami hal ini lebih jauh, marilah kita simak suatu contoh menarik dalam Firman Tuhan di kitab Kejadian 4:1-5, dan Injil Lukas 22:42. Dalam bagian Firman Tuhan di kitab Kejadian 4 akan kita dapati adanya 2 orang, yaitu Kain dan Habel, yang mempersembahkan korban kepada Tuhan, namun sebagaimana kita ketahui, hanya persembahan Habel yang diterima oleh Tuhan! Sementara di kitab Injil Lukas kita akan dapati kisah pergumulan dari Tuhan kita Yesus pada saat saat terakhir sebelum penyaliban. Pelajaran yang dapat kita tarik dari kisah Kain, Habel dan Tuhan Yesus adalah adanya 4 macam kualitas dan tingkatan serta motivasi pemberian, yang masing-masing adalah sebagai berikut: 

  1. MOTIVASI SEDEKAH: Persembahan Kain (Kejadian 4:3,5): Kain mempersembahkan korban dari hasil tanahnya dan Tuhan tidak mengindahkan korban tersebut. Hal pertama yang dapat dipelajari dari hal ini adalah kenyataan ditolaknya pemberian ini mengisyaratkan bahwa persembahan tersebut tidak sesuai dengan yang dikehendaki oleh Tuhan. Di sini kita bisa memahami bahwa Tuhan mempunyai syarat dan standar tertentu dalam menerima suatu pemberian, yaitu KEHENDAK-NYA, dan implikasi dari hal ini adalah, betapapun baiknya suatu persembahan, jika itu diluar kehendak Tuhan, tidak akan diindahkan atau diterimaNya. Karakteristik dari persembahan Kain ini adalah: Memberi apa yang kita mau, terlepas hal itu menyenangkan Tuhan atau tidak. Jadi di sini kehendak kitalah yang jadi standar untuk menentukan jenis, kualitas, dan kuantitas dari pemberian yang harus kita berikan. Jenis dan motiv pemberian yang seperti ini adalah sama dengan orang memberi SEDEKAH. Seseorang yang mendapati seorang peminta-minta di jalan, akan memberikan (jika ia mau) apa yang ia mau berikan (sesuai kemauannya), terlepas hal itu di disukai/ diharapkan oleh si peminta-minta atau tidak!. Celakanya masih banyak orang yang menyebut diri anak-anak Tuhan baik secara sadara atau tidak, memiliki kualitas dan motiv pemberian / pelayanan seperti ini  
  2. MOTIVASI BISNIS: Persembahan Kain (Kejadian 4:5-7): Masih mengenai persembahan Kain, dalam Kejadian 4:5 kita daapati bahwa Kain menjadi marah karena pemberiannya tidak di Indahkan Tuhan. Jika kita kembali pada pengertian pemberi yang dijelaskan terdahulu, yakni mengalihkan hak, maka reaksi kemarahan Kain ini menunjukkan adanya ketidak-murnian dalam pengalihan hak tersebut, atau dapat dikatakan pengalihan haknya adalah bersifat kondisional. Seseorang yang secara murni memberikan atau mengalihkan hak atas sesuatu benda kepada orang lain, maka orang tersebut tidak akan menerapkan suatu kondisi atau syarat apapun. Implikasinya secara ekstrim adalah bila misalnya di penerima berkeputusan untuk membuang barang tersebut, ia tidak akan berbuat apa-apa terhadap si penerima itu, karena ia sadar pada saat benda itu diberikan hak milik atasnya sudah beralih ke si penerima. Sehingga si penerima sudah secara sah menjadi pemilik barang tersebut dan berhak sepenuhnya untuk berbuat apa saja terhadapnya. Apa yag terjadi pada Kain adalah bahwa ia memberi karena ia mengharap sesuatu balasan. Jenis dan motiv pemberian adalah berdasarkan prinsip BISNIS. Dalam transaksi bisnis, seseorang memberikan sesuatu kepada orang lain untuk mendapatkan imbalan yang sepadan dari orang lain tersebut. Di sini pengalihan haknya terjadi dengan syarat adanya kelayakan imbalan tersebut: Ada uang ada barang. Bagaimana dengan kehidupan kita? Bukankah kita juga masih sering berbisnis dengan Tuhan? Bukankah tidak jarang kita dengar kalimat-kalimat seperti ini: “ Tuhan aku akan mulai melayani, jika Engkau kabulkan permohonanku……”     
  3. MOTIVASI PERSEMBAHAN: Persembahan Habel (Kejadian 4:4-5): Bersamaan dengan Kain, Habel juga mempersembahakan korban kepada Tuhan, namun persembahannya ini diterima dan diindahkan Tuhan. Apa yang menjadi perbedaan antara persembahan Kain dan persembahan Habel? Pertama-tama, Habel tidak asal memberi dari hasil pekerjaannya sebagai gembala domba. Apa yang ia berikan adalah domba-domba yang terpilih, yaitu yang sulung dan yang gemuk. Pemilihan domba sulung adalah merupakan penghormatan pada Tuhan yaitu anak domba yang lahir terdahulu diberikan kepada Tuhan. Namun diatas ini semua, kenyataan bahwa persembahan itu diindahkan Tuhan menunjukkan bahwa pemberian tersebut sesuai dengan kehendak Tuhan! Kesesuaian atau ketaatan pada kehendak Tuhan ini adalah kunci yang utama. Ingat Firman Tuhan dalam 1 Samuel 15:22, bahwa ketaatan itu lebih dari korban itu sendiri! Tidak dijelaskan dalam kisah ini dari mana Habel belajar mengetahui kehendak Allah, namun disini ditunjukkan bahwa ia mengerti dan melaksanakan kehendak Allah. Berlawanan dengan persembahan Kain, karakteristik pemberian Habel adalah memberi apa yang dimaui atau dikehendaki oleh si penerima (dalam hal ini Tuhan). Jadi di sini kehendak si penerima lah yang menjadi penentu jenis, kualitas dan kuantitas pemberian kita. Jenis dan motiv pemberian seperti ini disebut PERSEMBAHAN.  
  4. MOTIVASI KORBAN: Persembahan Yesus (Lukas 22:42): Hampir serupa dengan persembahan Habel. Pergumulan Yesus menunjukkan bahwa Penentu dari korbanNya adalah Kehendak Allah Bapa. Perbedaannya dari persembahan Habel adalah, bahwa baik Kain dan Habel memberi kepada Tuhan dari kelebihan mereka, atau mereka memberi pada Tuhan sebagian dari apa yang mereka punya. Sedang pemberian Yesus adalah memberi seluruhnya apa yang Ia punya, dan setelah itu Ia tidak memiliki lagi. Prinsip dan motiv pemberian seperti inilah yang disebut dengan KORBAN. Pemberian dengan motiv korban ini adalah pemberian yang paling berharga di mata Tuhan. Ingat pemberian si janda miskin di Sarfat (1 Raja-raja 17), ia diberkati karena merelakan makanan terakhirnya untuk nabi Elia. Juga Janda di Bait Allah (Markus 12:42-44) yang memberikan seluruh nafkahnya pada Tuhan. Jika kita simak maka dalam pemberian jenis ini semuanya berfokus pada dan untuk Tuhan saja, tidak sedikitpun pertimbangan diberikan untuk diri sendiri, artinya kita bahkan memberi bukan saja hasil perbuatan kita tapi termasuk diri kita sendiri, seperti yang dikatakan rasul Paulus dalam kitab Galatia 2:20: Hidupku bukan aku lagi…….  

Dari perbandingan ke empat jenis dan motiv pemberian ini, maka kita mengerti bahwa korban itu adalah pemberian yang bersifat 100 persen, dan juga korban itu memberikan tidak saja sebagian atau seluruh milik kita, namun MEMBERIKAN DIRI KITA sendiri pada Tuhan. Mempersembahkan diri sebagai korban artinya menyerah sepenuh kepada kehendak dan pimpinan Tuhan atau menjadi hamba (budak) dari Tuhan, tepat seperti nabi Yesaya di hadapan Allah berkata: “Inilah aku…utuslah aku” (Yes 6:8) Atau seperti kalimat Maria: \”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.\” (Lukas 1:38)  

Kembali ke pokok bahasan kita, Ibadah atau pelayanan yang pantas itu harus merupakan suatu KORBAN. Ini berarti ibadah atau pelayanan itu baru dapat diterima jika disertai oleh penyerahan diri sepenuh pada Kehendak Tuhan, dan bukan mengerjakan pekerjaan Tuhan dengan agenda sendiri. Semuanya harus berpusat pada Tuhan, dari Tuhan, dan sesuai kehendak dan pimpinan Tuhan. Dengan fokus tunggal kepada Tuhan ini, maka ibadah dan pelayanan kita menjadi suatu pelayanan yang KUDUS bagi Tuhan, yang artinya special bagi Tuhan saja, tidak bagi orang atau pihak lain! Dan dengan pelayanan yang berdasar kehendak Tuhan, maka pelayanan kita akan berkenan dan dapat diterima oleh Tuhan. Bagaimanakah kualitas ibadah atau pelayanan kita? Sudah pantaskah ibadah atau pelayanan kita di hadapan Tuhan????  

AMIN         

 

Leave a Comment

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

More from category

Dibawah Pohon Ara
Dibawah Pohon Ara

Di bawah Pohon Ara   Yesus menjawab, kata-Nya: “Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon [Read More]

E-SWORD DI MALANG
E-SWORD DI MALANG

Klik http://www.youtube.com/watch?v=FtDyI9itw3Q Klik http://www.youtube.com/watch?v=R_Ura39pwUI Puji Tuhan !! Pelatihan [Read More]

E-SWORD DI JAKARTA
E-SWORD DI JAKARTA

klik http://www.youtube.com/watch?v=FtDyI9itw3Q klik http://www.youtube.com/watch?v=R_Ura39pwUI Panitia sudah mulai [Read More]

KEMAJUAN TEKNOLOGI = KIAMAT SEMAKIN DEKAT
KEMAJUAN TEKNOLOGI = KIAMAT SEMAKIN DEKAT

Alkitab tidak menuliskan secara pasti tanggal hari kiamat. Namun demikian, Alkitab menuliskan beberapa tanda atau [Read More]

Setia Sampai Akhir
Setia Sampai Akhir

Akhir Juli 2009 Tak ada yang berubah dengan rumah yang sering disebut ibu Loji Pastoral itu. Masih tetap tertata rapi, [Read More]

Insider

Archives