Ayat Pokok: Keluaran 20:15
Iblis adalah pencuri nomor satu. Ia datang untuk mencuri, membunuh, dan membinasakan. Pintu adalah jalan orang untuk masuk dan keluar. Tuhan Yesus berkata, yang tidak masuk melalui pintu adalah pencuri – Yohanes 10:9-10.
Mencuri adalah tindakan mengambil barang milik orang lain secara tidak sah. Hukum ini juga memiliki keterkaitan dengan hukum yang lainnya, misalnya:
- Hukum I : Ada allah lain = Mencuri kemuliaan Allah.
- Hukum II : Membuat patung = Mencuri posisi Tuhan sebagai Allah.
- Hukum III : Menyebut Nama Tuhan dengan sembarangan = Mencuri kuasa Allah (ada kuasa dalam nama).
- Hukum IV: Melanggar Sabat = Mencuri waktu yang seharusnya untuk Allah, dst.
”
Mengapa Mencuri?
Tindakan mencuri berasal dari dalam hati, dan disejajarkan dengan dosa percabulan, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, dan lain-lain. Semua hal jahat ini timbul dari dalam hati dan menajiskan orang – Markus 7:21-22. Tuhan mengetahui kecenderungan hati manusia untuk, antara lain, mencuri. Itu sebabnya Ia memberikan perintah: “Jangan Mencuri!” Dan perintah ini disampaikan kepada orang Israel yang adalah orang-orang yang percaya kepada Tuhan, dan perjalanannya dipimpin oleh Tuhan sendiri!
Hukum Taurat diberikan kepada umat Allah supaya mereka mengetahui dan mengenal tentang dosa – Roma 3:20. Hukum Taurat tidak bisa mengubah sifat/karakter dasar manusia yang suka mencuri.
Alasan lain sesorang melakukan pencurian adalah karena ia tidak puas dengan apa yang ada padanya.
Bagaimana Supaya Tidak Mencuri?
1. Perbuatlah apa yang baik – Matius 7:12
Alkitab mengajarkan supaya kita tidak berbuat sesuatu yang jahat, jika tidak mau orang melakukan hal yang sama kepada kita. – “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”
Paulus memberitahu jemaat di Korintus tentang dosa yang ada di dalam jemaat, antara lain ada percabulan yang bahkan tidak ditemukan di antara bangsa-bangsa kafir, yaitu ada orang hidup dengan isteri ayahnya (=ibunya) – 1 Korintus 5:1. Dalam Markus 7 tadi, dosa pencurian disejajarkan dengan percabulan.
Tubuh kita adalah Bait Allah, yaitu tempat di mana Allah berkenan tinggal dalamnya. Itu sebabnya Ia menghendaki agar tempat tinggalNya bersih dan suci dari segala kenajisan, termasuk dosa mencuri. Karena cinta yang begitu besar, Yesus rela menyerahkan nyawa dan mengucurkan darahNya yang mulia bagi kita!
2. Menjadi Manusia Baru
Memberi tahu tentang adanya dosa tidak cukup bagi manusia, tidak memberi jalan keluar. Harus terjadi pertobatan: dari suka mencuri, berhenti dan tidak lagi mencuri; dan perubahan: dari mencuri, menjadi rajin bekerja keras supaya dapat memberi kepada orang lain yang membutuhkan! – Efesus 4:28.
Sekedar mengenal/mengetahui bahwa mencuri adalah dosa, tidak akan menyelamatkan orang; kecuali ia menjadi manusia baru! Barangsiapa percaya kepada Tuhan, ia menjadi manusia baru – yang lama lenyap, yang baru telah terbit. Sifat dasar manusia yang suka mencuri diangkat, dan sesuatu yang baru diberikan kepadanya.
Jadi untuk berubah dari orang yang suka mencuri menjadi tidak suka mencuri, orang harus terlebih dulu menjadi manusia baru. Perubahan harus terjadi! Keselamatan jiwa kita mencakup: pembaharuan dari manusia lama menjadi manusia baru – bukan sekedar pengetahuan tentang dosa. Dan pembaharuan itu hanya bisa dikerjakan oleh Roh Kudus.
3. Merasa Puas Dengan Apa Yang Ada
Agur pernah berdoa kepada Tuhan demikian: “Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni: Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku” – Amsal 30:7-9.
Sikap terbaik ialah puas dengan apapun yang Tuhan berikan kepada kita. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah (1 Timotius 6:6-12). Haleluya! Orang yang tidak pernah merasa cukup tidak akan pernah merasa puas dan bersyukur kepada Tuhan.
4. Menyadari Bahwa Tuhan Sanggup Memelihara Kita.
Dalam Wahyu 7:1-3 tertulis bahwa Tuhan memeteraikan orang-orang pilihanNya sebelum pemusnahan terjadi. Inilah bukti pemeliharaan Tuhan bagi orang-orang yang percaya kepadaNya. Saudara pasti ingat kisah Elia di sungai Kerit dan janda di Sarfat; bagaimana pemeliharaan Tuhan kepada mereka. Tuhan juga sanggup memelihara kita sekarang!
Tuhan Yesus memberkati saudara!
“
