Ada jenis perkataan yang dapat menyebabkan perpecahan di antara banyak orang yaitu, gosip dan fitnah.
Gosip
“Siapa mengumpat, membuka rahasia, sebab itu janganlah engkau bergaul dengan orang yang bocor mulut.” (Amsal 20:19). ‘Gosip’ dalam bahasa Yunani ditulis dengan ‘psithos’, yang setidaknya memberikan kepada kita suatu petunjuk tentang artinya. Coba katakan ‘psithos’ dengan keras beberapa kali maka anda akan segera mengerti arti kata ini. P-s-s-s-s-t. gossip melibatkan komunikasi rahasia.
Pembukaan pembicaraan seperti “Aku tahu sebenarnya aku tak boleh menceritakan ini kepadamu, tetapi…” atau “Berjanjilah bahwa anda tidak akan menceritakan perkataan saya ini…” adalah ciri dari gosip. Gosip terasa menyenangkan hanya jika dilakukan di bawah selubung.Setidaknya ada dua masalah yang disebabkan oleh gosip. Pertama, gosip itu merampas waktu anda yang berharga. Gosip merampas waktu dari usaha-usaha yang produktif. Tuhan telah memberikan kepada kita masing-masing begitu banyak waktu di bumi ini. Jika kita hanya membuangnya untuk hal yang tidak bermanfaat, berarti kita sedang menghancurkan kehidupan kita.Masalah kedua yang disebabkan oleh gosip adalah gosip selalu terbalas lagi. Sebagian besar orang sangat menyukai berita-berita yang ‘menarik’ untuk kemudian ditanggapi dengan memberikan keterangan-keterang an yang sama menariknya. Jika anda tidak memenuhi bagian anda dalam tawar-menawar itu, hubungan tersebut akan rusak. Jadi dengan melawan hati nurani anda, anda membagikan beberapa informasi rahasia. Dan, inilah bahayanya. Jika gosip itu mau melanggar kepercayaan orang lain terhadap anda, apakah yang membuat anda mengira bahwa orang tersebut akan menghormati kepercayaan anda? Ambillah keputusan bahwa anda tidak akan pernah mempercayai sebuah gosip.
Fitnah
Fitnah, di lain pihak adalah sepupu dari gosip. Jika gosip melibatkan komunikasi rahasia, fitnah melibatkan pembunuhan karakter. Kata ‘fitnah’ berarti ‘berbicara palsu’. Jika gosip paling tidak berusaha menyembunyikan kata-katanya, seorang pemfitnah tidak malu-malu membagi-bagikan informasi yang merusak dengan siapapun dan setiap orang yang mau mendengarkan. Mengapa? Seorang pemfitnah telah mengangkat dirinya sendiri menjadi hakim dan pelaksana hukuman atas reputasi pihak lain. Si pemfitnah telah merampas sebuah peranan yang disediakan Allah hanya bagi diri-Nya sendiri – sebuah tindakan yang tentunya bukan merupakan suatu pelanggaran ringan di mata Tuhan. “Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya; dan jika engkau menghakimi hukum, maka engkau bukanlah penurut hukum, tetapi hakimnya. Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?” (Yakobus 4:11-12).
Setidaknya ada empat hak azasi manusia yang diuraikan dalam Sepuluh Perintah Allah; hak untuk kehidupan, hak untuk kesetiaan dalam pernikahan, hak untuk harta milik dan hak untuk reputasi. Banyak orang menganggap remeh dan tidak memasukkan fitnah sebagai pembunuhan. Hal itu disebabkan karena kurangnya perenungan mengenai akibat-akibat jangka panjang dari penghancuran nama baik orang lain. Seharusnya kita memandang fitnah sebagai sesuatu yang lebih serius lagi, karena memang begitulah Tuhan memandangnya!
Para tukang gosip dan pemfitnah sering membela diri dengan mengatakan bahwa apa yang mereka ucapkan adalah benar. Padahal tidak ada kebenaran sama sekali dalam gosip dan fitnah! Satu-satunya ‘kebenaran’ yang ada dalam gosip dan fitnah adalah bahwa semuanya dilakukan dengan tujuan untuk menyakiti orang lain!Anda termasuk orang yang suka terlibat dalam gosip dan fitnah? Apakah anda menyadari bahwa anda telah mengecam orang lain tanpa berpikir panjang? Ingatlah, anda telah membuang waktu yang sangat berharga; kita menanggung resiko kerusakan serius reputasi orang lain, demikian juga nama baik anda sendiri; dan yang paling penting, anda sedang mengundang penghakiman Allah atas hidupmu sendiri. (Standly Sampelan)
