PERBANDINGAN
Dalam Amsal 14:1 kepada kita diperhadapakan suatu perbandingan antara dua orang perempuan, yang pertama perempuan yang bijak” dan yang lain “perempuan yang bodoh”, bila kita kaitkan dengan maksud Firman Tuhan bahwa perempuan adalah gambaran Gereja, kira-kira kita termasuk kedalam golongan perempuan yang mana? Kalau tidak masuk kedalam bagian dari perempuan yang bijak, sudah barang tentu akan masuk kedalam bagian dari perempuan yang bodoh. Sebab dalam sebuah pilihan, tidak pernah ada tempat bagi mereka yang netral. Dalam Firman Allah, beberapa kali Yesus menampilkan suatu perbandingan antara yang bijak dan yang bodoh. Hendaknya ini membangkitkan kesadaran kepada kita sebagai Gereja Tuhan agar menjadi bijak atau tidak menjadi bodoh.
MENDIRIKAN DAN MEROBOHKAN RUMAH
Perbedaan antara perempuan yang bijak dan yang bodoh terlihat secara nyata dari sikap dan prilaku mereka terhadap rumah. Yang bijaksana mendirikan rumahnya, tapi yang bodoh, meruntuhkannya, bahkan meruntuhkan dengan tangannya sendiri.
Apakah yang dimaksud dengan mendirikan dan meruntuhkan rumah? Mari kita perhatikan sebuah ilustrasi yang disampaikan oleh Yesus sendiri dalam Matius 7:24-27. Sikap dan pandangan seorang anak Tuhan terhadap Firman Allah akan menentukan, apakah ia termasuk kelompok pengikut Yesus yang bijaksana, yaitu Gereja yang sempurna atau sebaliknya kelompok pengikut Yesus yang bodoh, Gereja yang tidak sempurna.
Mudah bagi seorang anak Tuhan untuk hadir di Gereja, persekutuan dan berbagai kegiatan rohani lainnya, dimana Firman Allah diperdengarkan. Namun, aktif mendengar Firman Allah tanpa menerapkan Firman Allah tersebut dalam kekristenan, bukan hanya ia tidak mendapat hasil apa-apa dalam pengiringannya, tetapi akan mengalami akibat fatal yaitu kehancuran total/kerusakan yang menyebabkan tidak ada sedikitpun sisa yang bisa diselamatkan. Inilah yang dimaksud Yesus dengan istilah “hebatlah kerusakannya” yaitu kerusakan secara menyeluruh/tuntas. Diilustrasikan sebagai berikut: Kalau ada rumah yang diterpa badai, dan menyisakan puing-puing. Namun kalau dari puing-puing tersebut orang masih bisa memanfaatkannya untuk membuat perkakas atau alat tertentu, berarti rumah tersebut masih berguna buat orang lain. Yang dimaksud Yesus “hebatlah kerusakannya” mengandung arti untuk membuat sebatang korek apipun, puing itu tidak lagi berguna. Inilah akhir hidup anak Tuhan yang bodoh, yang merobohkan rumahnya sendiri. Semoga ini menjadi bahan renungan bagi kita semua. Amin.(dari Pelayan no:96).
