“Maaf, pintu gerbang gereja sudah ditutup karena ibadah sudah dimulai beberapa menit yang lalu.” Kata petugas keamanan gereja yang megah itu dengan tegas. Di gereja ini tidak boleh datang terlambat, konon pernah seorang konglomerat yang datang terlambat pun ditolak untuk masuk sebab gereja merupakan tempat ibadah yang sakral jadi umat harus menghormati Tuhan, jika ingin sungguh-sungguh beribadah yah jangan datang terlambat. Kalau kita mau bertemu dengan pejabat tinggi, kita tidak akan datang terlambat terlebih lagi kepada Tuhan. Begitulah salah satu alasan yang dikemukakan oleh pendeta dan pengurus di gereja itu. Baik sekali alasannya, memang sepatutnyalah umat Tuhan menghargai waktu beribadah dengan tertib dan sakral.
Mendengar cerita di atas, saya teringat suatu kesaksian yang diceritakan seorang ibu. Beberapa tahun yang lalu ibu ini seorang yang belum mengenal Yesus sedang mengalami masalah yang baginya sangat berat, sehingga ia sempat kepikiran ingin mengakhiri hidupnya. Dengan mengendarai mobil tanpa tujuan dan arah ibu ini tiba disuatu jalan yang macet, meski heran kenapa hari libur koq macet, ia perhatikan ternyata jalanan macet karena banyak mobil yang parkir di tepi jalan. O…ada gereja di depan sana begitulah kata ibu ini dalam hati, ketika ia tiba di depan gereja tersebut ia merasa ada dorongan yang sangat kuat untuk berhenti dan pergi ke gereja itu. Akhirnya ibu ini mengambil keputusan untuk berhenti memarkir mobilnya, tetapi sampai di depan gereja ia sempat ragu karena pintu masuk sudah ditutup. Tapi ibu ini dihampiri oleh seorang pemerhati gereja yang dengan ramah menyapa dan mengantarnya masuk ke dalam dan mencarikan tempat duduk. Setelah duduk ia perhatikan ruangan gereja yang penuh dan sang pendeta yang baru saja naik ke mimbar. Dengan penuh perhatian ia melihat pendeta tersebut, wah pendeta ini biar kecil dan sudah putih semua rambutnya tapi suaranya lantang dan jelas bicaranya begitu ia berkata dalam hati. Selama Firman Tuhan diberitakan ia merasa seolah-olah pendeta itu berbicara khusus kepadanya karena isi khotbahnya tentang pengharapan di dalam Yesus. Mulailah ada pergumulan dihatinya. Puncaknya ketika diakhir khotbah ada altar call di mana pendeta itu mengundang siapa yang memiliki beban berat boleh datang ke muka. Ia melihat orang-orang berdatangan ke muka dan ia ingin sekali maju ke depan tapi ia merasa takut dan ragu. Kemudian sesuatu yang heran terjadi, pendeta itu berkata,”ibu yang baru pertama kali datang ke tempat ini, ibu datang ke sini bukan suatu kebetulan tetapi karena Yesus mengasihi ibu. Meski beban yang ibu tanggung sangat berat jangan berpikir untuk bunuh diri ada Yesus yang mampu menolong, Ia berkuasa untuk menolong ibu, mari datanglah ke muka sini jangan takut kami akan berdoa untuk ibu.” Pada saat itu gemetarlah seluruh tubuh ibu ini dan tanpa terasa ia maju melangkah ke depan sambil menangis. Luar biasa pada saat itu ia diselamatkan dan ia tahu bahwa Tuhan itu ada dan namaNya Tuhan Yesus Kristus.
Saya percaya gereja merupakan tempat Ibadah yang sakral tetapi gereja juga seharusnya menjadi tempat untuk menampung dan menolong jiwa-jiwa yang tersesat. Saya tidak tahu bagaimana dengan Tuhan yang disembah di gereja megah yang disebut di atas, tetapi saya bersyukur kalau Tuhan Yesus yang saya sembah memiliki kasih yang begitu besar sehingga Ia mau menolong ibu ini. Meski ibu ini datang terlambat tetapi Tuhan Yesus tetap menerimanya. Haleluyah! (LW, GPdI Ketapang)
