GEREJA IDAMAN
“Sob, menurutmu, mengapa banyak orang eksodus dari Gereja yang lama?”Tanya seorang teman
“Hm..mungkin..karena belum mendapatkan Gereja Idaman!”jawabku sekenanya
Tanyanya lagi kepadaku,”Gereja idamanmu seperti apa, Sob?”
Aku tercenung, antara ingin menjawab jujur dan menjawab yang ideal agar telihat rohani. Disentuhnya punggung tanganku dan berkata,”Jujur saja, jangan takut”
Maka aku pun menjawab,”Gereja idaman bagiku adalah suatu tempat yang jika aku berkunjung ke sana aku merasa PULANG!”
Dia mengernyitkan dahi, aku pun melanjutkan opiniku.
Iya..merasa pulang!! Tegasku, merasa pulang berarti, aku mendapatkan sesuatu yang berbeda setelah berjibaku dengan dunia seminggu penuh. Merasa pulang berarti aku menjumpai hal-hal yang menyenangkan seperti ketika aku pulang dari bepergian jauh.
Merasa pulang berarti, ketika aku datang banyak orang yang menunjukkan betapa kedatanganku sangat diharapkan. Dan ketidakhadiranku adalah sepi dan memunculkan kerinduan.
Meja makan yang dipenuhi menu cinta kasih dengan aneka ragam rasa. Ramai kita saudara bersaudara berkumpul di sekelilingnya bersendagurau bertukar cerita dengan akrab tanpa malu. Menu wajib yang sangat aku rindukan adalah : menu yang menyegarkan, menu yang mengingatkan, menu yang menunjukkan arah, yang menyatakan kesalahan, menu yang memperbaiki kelakuan, juga menu yang membuatku menyukai hidup dalam kebenaran.
Menu-menu makan itu diracik dengan bumbu yang membumi, sehingga lidahku tak terasa asing. Menu-menu makan di atas disajikan dengan tangan-tangan manusiawi sehingga lidah dan lambungku tak menolak untuk diisi.
Jika aku kedapatan berbuat salah, layaknya dalam keluarga aku mau ditegur dan diarahkan dengan kasih, tanpa membuatku merasa dipermalukan atau diperlakukan seperti orang bodoh sedunia. Jika aku masih belum bertobat, aku mau dipukul dengan tongkat supaya hilang bebalku, tapi please..dengan penjelasan yang bisa aku cerna
Jika aku sedang jatuh, layaknya saudara aku ingin ditolong, didukung, hingga aku bisa berdiri kembali untuk melakukan tugas-tugasku. Bukan digosipin, bukan dihakimi, juga bukan didiagnosa sedang menderita “dosa” apa.
Jika aku menghilang, ada yang mencariku dengan cinta J bukannya sibuk menganalisa penyebabnya lalu menjadikannya cerita di belakang punggungku. Cerita yang mencoreng aib bagi mukaku. Ahai…taukah kamu? Dinding dan bangku gereja itu bertelinga juga bermulut, hingga kabar buruk yang tersebar bisa kembali ke korban lho.
Aku lebih rela ditegur dengan nyata, daripada dicium dengan ciuman yang palsu. Dan lebih suka mengerjakan tugas-tugas dengan baik daripada duduk berdebat ratusan teori, lalu berakhir dengan hati yang pahit. Karena masing-masing ingin tampak pintar. (pepesan kosong kan tidak membuat kenyang? Heleh!)
Ku rasa kurang lebih seperti itu gereja idamanku.
“Apakah kau sudah menemukan Gereja yang seperti itu, Sob?”Tanya temanku.
Aku hanya mengerling ke arah Yesus, tos dengan-Nya..lalu meninggalkan temanku itu. Membiarkan dia menebak jawaban atas pertanyaannya itu. ***


nice fiction… I like it