“Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah.”
Sebelum naik ke Sorga, berulang-ulang Yesus menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Sorga selama empat puluh hari. Hal yang disampaikan secara berulang-ulang terlebih saat-saat mau berpisah adalah sesuatu yang sangat penting untuk diperhatikan, perlu disimak baik-baik.
Yesus Kristus menyampaikan pesan penting yaitu soal Kerajaan Sorga yang Rajanya adalah Yesus Kristus sendiri (Matius 28:18). Sebuah Kerajaan di mana kehendak Yesus Kristus sang Raja itu berlaku mutlak.
Dalam “Doa Bapa Kami” Yesus menghendaki agar ‘suasana’ Kerajaan Sorga itu terjadi di bumi. Jadi sementara kita masih berada di bumi, kehidupan Kerajaan dan prinsip-prinsip serta sistemnya sudah kita mulai di bumi.
Yesus menginginkan kita hidup berwawasan kerajaan. Sebelum kematian-Nya, Yesus pernah berkata: “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33). Kerajaan Allah haruslah prioritas kita dalam hidup ini. Gaya hidup kita haruslah merefleksikan gaya hidup kerajaan Sorga yang tentu sangat berbeda dengan gaya hidup duniawi. Rasul Paulus berkata agar kita jangan serupa dengan dunia ini.
“Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.” (Roma 14:17). Bukti bahwa seseorang sedang mengalami Kerajaan Allah ialah kehidupan yang penuh dengan : kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.”
Dalam wilayah Kerajaan itu ada hukum-hukum kebenaran yang harus kita patuhi. Hukum-hukum Kristus yang menjadi landasan perjalanan hidup kita. Hidup yang berkenan dan penuh pengabdian harus diperlihatkan kepada Raja itu sampai saatnya Ia akan berkata: “Hai hambaku yang baik dan setia…”
Raja Herodes berkenan memberikan apa saja bahkan setengah dari kerajaannya kepada Salome putrinya karena “menyukakan hatinya.” Dalam Lukas 11:13, Yesus berkata: “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya” Raja Sorga itu lebih dari bapa yang jahat yang tahu berbuat baik kepada anak-anaknya. Raja Sorga itu adalah Bapa kita juga yang akan memberi Roh Kudus sebagai pemberian terbaik kepada kita.
Sebelum kita ke Sorga, suasana Kerajaan itu harus kita hadirkan di bumi. Kita adalah warga Kerajaan Sorga yang untuk sementara ada di bumi (Filipi 3:20). Melalui kitalah dunia akan mengetahui soal Kerajaan itu dan mengenal Rajanya.
Hidup kita harus berwawasan Kerajaan Sorga. Dalam sebuah kerajaan, rakyatnya tunduk total kepada sang Raja. Kehendak Raja itu berlaku mutlak. Sebelum Raja itu pergi ke Sorga, ia menyampaikan sebuah pesan yang harus dilakukan dan diteruskan oleh murid-murid pertama kepada generasi selanjutnya sampai kepada generasi akhir yang akan bertemu kembali dengan Raja itu pada waktu kedatangan-Nya yang kedua kali yang merupakan kesudahan alam (kiamat).
Pertama : Pergi dan menjadikan semua bangsa murid Yesus. Sering kita berdoa begini : “Tuhan kirimlah jiwa-jiwa, agar jumlah kami semakin bertambah-tambah.” Ini dapat berarti kita menyuruh Tuhan yang bekerja dan kita pasif saja. Tuhan bermaksud agar kitalah yang bekerja, pergi memberitakan Injil, pergi menghasilkan buah. Untuk itulah kita dipilih (Yohanes 15:16). Dari 7 milyar orang penduduk planet bumi, kita termasuk orang-orang yang dipilih. Dan bukan tanpa maksud Allah memilih kita. Apakah saudara sudah pergi bersaksi, memberitakan Injil, menuntun orang kepada Yesus? Jika tidak, jangan-jangan saudara bukan termasuk orang pilihan. Sebab memang Yesus pernah berkata : “Banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih.” (Matius 22:14). Kepada kita diberi kunci Kerajaan Sorga. Kalau kita pegang kuncinya, Tuhan ingin supaya kita membawa orang-orang masuk ke dalamnya. Memang tidak mudah, tetapi ingat, kuncinya ada di tangan kita. Hiduplah sebagai anak-anak Kerajaan dalam ketaatan dan kesetiaan, hidup benar dan menyukakan hati Raja itu.
Kedua : Menghasilkan buah. Gaya hidup yang mempengaruhi dunia ini. Yesus berkata: “Kamulah garam dan terang dunia.” Garam dan terang mempunyai sifat “pengubah”. Saya, saudara, kitalah yang mengubah atau mempengaruhi dunia ini, bukan sebaliknya. Perhatikan saja akhlak dan mental masyarakat di sekitar kita. Tanpa kita sadari, kita pun jadi ikut-ikutan. Ini berarti kita belum dapat mempengaruhi dunia ini, tapi kita yang dipengaruhinya.
Dalam Kerajaan Allah berlaku prinsip “diberkati untuk menjadi berkat”. Firman Tuhan juga pernah berkata “lebih berkat memberi daripada menerima”. Orang-orang yang menjadi ahli waris Kerajaan itu akan terbiasa dengan prinsip ini, menjadi saluran berkat bagi orang lain, hidup saling memperhatikan dan hidup di dalam kasih. Mengasihi bukan hanya lips service saja tetapi dilakoni. Ingat bunda Teresa di Kalkuta? Sesungguhnya, Kristus selama pelayanan-Nya di dunia ini menghabiskan lebih banyak waktu-Nya untuk menangani orang-orang berdosa dan dalam kesusahan. Dia ingin agar kita mengikuti teladan-Nya, saling mengasihi seperti Dia mengasihi kita.
Yesus berkata bahwa kita adalah garam dan terang dunia. Garam sebagai pengawet. Dunia ini penuh dengan sampah, dan sedang terjadi pembusukan. Tetapi di dunia itu ada garam yang dapat menahan pembusukan tersebut. Dunia akan berbau busuk tanpa garam. Ia bekerja dengan diam tetapi mempunyai dampak dan pengaruh yang luas.
Garam membuat rasa haus orang untuk datang pada Yesus sumber air kehidupan. Hidup Kristen harus dapat merembes mempengaruhi hidup orang lain sehingga datang kepada Yesus. Kehadiran kita mengingatkan dunia bahaya dehidrasi rohani, mereka perlu Allah. Unsur-unsur garam sebenarnya adalah racun. Natrium dan Chlorida. Tetapi oleh suatu proses, jadi berguna. Hidup manusia penuh racun, tetapi oleh jamahan RK dan FA, hidup kita jadi berguna.
Jangan sampai kehilangan karakteristik, kehilangan pengaruh. Kita yang harus mempengaruhi bukannya dipengaruhi. “Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda tetapi jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” (1 Timotius 4:12)
Allah belum hukum dunia ini karena masih ada gereja yang menahan. Dunia alami kemerosotan (degenerasi) yang puncaknya pada munculnya seorang yang benar-benar jahat, antikris. Manusia akhir zaman mengalami peningkatan dalam pengetahuan, edukasi, medical, intelektual, teknologi tetapi mengalami kemerosotan secara moral batiniah, rohaniahnya. Itu sebabnya eksistensi kita sebagai garam harus semakin nyata. Orang Roma menempatkan garam pada rangking dua setelah matahari dalam kehidupannya.
Delapan karakter dalam khotbah Yesus di bukit mendahului garam dan terang dunia. Anak-anak Tuhan yang mempunyai dan mengalami karakter tersebut pasti menjadi pengaruh di dunia ini sebagai garam dan terang. Terang selalu menarik perhatian orang lain. Posisi rohani kita tinggi. Kita tidak bisa menutup diri, harus berfungsi di tengah masyarakat. Memang secara rohani kita terpisah, tetapi secara jasmani, kita harus masuk di tengah-tengah mereka.
Kita tidak bisa memenangkan dunia dengan gaya dunia tetapi harus dengan gaya hidup kristiani seperti yang Yesus ajarkan.
Sebuah nubuatan oleh nabi Mikha dan nabi Yesaya bahwa gereja di zaman akhir akan menjadi pusat perhatian dunia (Mikha 4 dan Yesaya 2). Di tengah dunia yang semakin bobrok, gereja menjadi model. Dunia akan berbondong-bondong datang ke gunung rumah Tuhan untuk mencari pengajaran dan Firman Tuhan. (22 Oktober 2010)

