(1) Kata Grika “Dokimazo” berarti “membuktikan suatu hal apakah itu layak diterima atau tidak, mengetes (harfiah atau hiasan), implikasinya, menyetujui, mengijinkan, melihat perbedaan, menguji, membuktikan, mencoba”. (Lukas 14:10; Roma 2:18, 12:22; 1 Korintus 3:13, 11:28; Galatia 6:4; Ibrani 3:9; Yakobus 1:12; 1 Petrus 1:17; 1 Yohanes 4:1). Ini digunakan dalam cara berikut di Perjanjian Baru. Orang menguji api, orang percaya menguji apa kehendak dari Allah; orang percaya merelakan agar iman mereka dicobai dan diakui. Allah mencobai orang kudusNya. Semua orang percaya diuji dan dicobai oleh lingkungan hidupnya, oleh kelemahan dan kekurangan kodrat manusia. Maksud dari tipe pencobaan ini untuk membuktikan dan menyetujui. Ini adalah pencobaan untuk membuktikan dan menyetujui. Ini adalah pencobaan yang mengharapkan hasil positif. Dalam cara ini, Allah “mencobai” Abraham (Ibrani 11:17 dengan Kejadian 22:1). Kata ini digunakan sekitar 25 kali dalam Perjanjian Baru dan tak pernah digunakan untuk iblis mencoba untuk membuktikan seseorang.
(2) Kata Grika “Peirazo” yang diterjemahkan “mencobai” berarti “menempatkan pada percobaan” dengan percobaan (yang baik), pengalaman (yang jahat), permintaan, disiplin atau provokasi, implikasinya kemalangan. Kata ini digunakan sekitar 40 kali di Perjanjian Baru, dan membawa ide mengetes dan mengadakan percobaan pada seseorang. Ini digunakan dalam cara berikut.
(a) Manusia Mencobai Allah.
Yang dimaksudkan manusia menempatkan Allah untuk dicobai untuk mendapatkan apakah Ia akan melakukan yang baik atau yang jahat kepada mereka. Jadi Israel “mencobai Allah” di padang gurun (Ibrani 3:9). Guru-guru hukum Taurat “mencobai Allah” dengan keinginan meletakkan kuk pada tengkuk orang kafir (Kisah 15:10). Ananias dan Sapira “mencobai Roh Kudus” dalam tindakan mereka menipu (Kisah 5:9). Manusia diingatkan untuk tidak mencobai (mengetes) Tuhan Allah (Matius 4:7).
(b) Manusia Dicobai Allah.
Allah pada waktunya mengetes atau mencobai manusia yaitu tak pernah untuk yang jahat tetapi dengan pandangan untuk membuktikan apa yang di dalam manusia dan menyingkapkan kepada manusia kebutuhannya di dalam (Yakobus 1:2, 12). Tetapi Allah tak dapat dicobai dengan yang jahat, juga Ia tidak pernah mencobai seseorang supaya berdosa (Yakobus 1:13-14). Seperti yang dicatat, Abraham dicobai Allah dalam hal mengorbankan anak tunggalnya, Ishak (Ibrani 11:17) dengan (Kejadian 22:1) orang-orang suci Perjanjian Lama dicobai dan dicobai oleh penganiayaan, tantangan dan dengan demikian membuktikan bahwa mereka setia kepada Allah dalam segala sesuatu (Ibrani 11:37; Galatia 4:13-14; 1 Korintus 10:13; Yohanes 6:6; Matius 6:13.
(c) Manusia Dicobai Iblis.
Iblis juga mencobai dan mengetes manusia. Tetapi pencobaan ini selalu sebagai umpan supaya berdosa, tarikan untuk melakukan yang jahat. Pencobaan ini tidak datang dari Allah (Yakobus 1:13-14). Ini datang dari iblis atau dari kodrat berdosa dari manusia. Jadi iblis mencobai malaikat, mencobai Adam dan mencobai Yesus. Ia juga mencobai orang berdosa yang lahir dari ras Adam (Kejadian 3:1-6; Matius 4:1).
d. Sifat dari Pencobaan Kristus.
(1) Yesus dicobai oleh Allah BapaNya.
Percobaan ini yang pertama meliputi penderitaan yang Yesus pikul dalam kemanusiaanNya tanpa dosa dengan mempunyai kelemahan tanpa dosa. Ia dicobai oleh pertentangan, penganiayaan, keletihan, perbantahan orang berdosa, lingkungan yang bertentangan, orang Yahudi, saudara-saudaraNya, pemimpin-pemimpin agama dan murid-muridNya. Dalam semua hal ini Ia dicobai dan diuji namun diperkenalkan dalam segala hal oleh Bapa. Inilah bagian dari “pencobaan-pencobaan Kristus” (Lukas 22:28).
(2) Yesus dicobai oleh Iblis.
Yesus dicobai untuk melakukan yang jahat oleh Iblis, yaitu untuk melakukan kehendakNya dan bukan kehendak BapaNya. Iblis berusaha mencari kesempatan agar Bapa punya alasan untuk tidak berkenan kepada Yesus. Ini terjadi dalam keseluruhan hidupNya. Cerita tentang pencobaan empat puluh hari hanya contoh masa khusus pencobaan yang dialami Yesus. Kitab Suci mengatakan bahwa iblis meninggalkan Yesus untuk satu waktu sesudah kemenanganNya yang terkenal dalam ketiga pencobaan utama (Markus 1:13).
(3) Yesus tidak dicobai oleh kodrat yang berdosa.
Yesus tidak dicobai oleh kodrat yang berdosa atau daging di dalam. Inilah perbedaan yang kekal di antara pencobaan Yesus dengan pencobaan manusia yang lahir dari ras Adam, baik orang percaya maupun orang tidak percaya. Yesus tidak mempunyai kodrat berdosa atau yang daging di dalam sehingga Ia tidak menderitakan pencobaan dari dalam agar berdosa, sebagaimana dialami semua orang yang telah jatuh. Tak ada yang dapat mengganti atau mengubah perbedaan fakta ini. Bila dikatakan bahwa Yesus “telah dicobai dalam semua segi, seperti kita, tetapi tanpa dosa (AV)” (Ibrani 5:15), secara harfiah berarti “terpisah dari dosa”. Yaitu dapat dikatakan, Ia dicobai untuk berdosa, dari luar, tetapi tidak dicobai oleh dosa dari dalam, karena tidak ada yang jahat di dalam Dia. Ia tidak mempunyai kodrat manusia berdosa, tak ada keinginan berdosa didalam Dia. Tidak ada konflik batin seperti yang dijelaskan di Roma 7:14-18 di dalam kehidupanNya (Yakobus 1:14). Karena itu Ia dicobai dalam semua segi, seperti kita, namun tanpa keinginan di dalam (Ibrani 2:18; 4:15, Yohanes 8:46, 14:30).
(4) Yesus dicobai dalam KemanusiaanNya, bukan dalam Ke-AllahanNya.
Yesus adalah Allah yang berinkarnasi dan Allah tidak dapat dicobai dengan kejahatan (Yakobus 1:13-14). Iblis menyerang kemanusiaan Kristus. Yesus menderitakan pencobaan dalam kemanusiaanNya, bukan dalam ke-AllahanNya. Jadi Yesus “dicobai dalam semua segi seperti kita”, terpisah dari dosa. Segi-segi dimana Yesus dicobai adalah dalam :
(a) Roh – dicobai untuk menyembah Setan.
(b) Jiwa – dicobai untuk meragukan kuasa pemeliharaan Allah.
(c) Tubuh – dicobai untuk memuaskan nafsu badani manusia yang normal dengan menggunakan kuasa mujizat (Matius 4:1-11 dengan 1 Yohanes 2:16-17). Setiap pencobaan ini datang dari luar, tidak dari dalam. Sebagai manusialah waktu Ia mengalahkan dengan kuasa Firman, dengan mengatakan “ada tertulis”. Sebagai manusia, Yesus tidak mengundang prerogatif IlahiNya untuk menghancurkan Iblis. Ia dicobai untuk menghindari salib seperti yang dikatakan Petrus berdasarkan pikiran yang iblis berikan kepadaNya (Matius 16:21-24). Ia dicobai di Getsemani untuk menghindari penderitaan cawan Kalvari, namun Ia menyerahkan kehendakNya kepada kehendak Bapa dan dikuatkan oleh malaikat. KemanusiaanNya yang kudus secara alami menyembunyikan diri dari cobaan berat karena dijadikan dosa. Namun ini bukan perasaan berdosa sama sekali. Ia juga dicobai di salib waktu orang-orang Yahudi beragama menantang Dia untuk turun dari salib dan menyelamatkan diriNya sendiri (Lukas 23:35-37).
Ini adalah pencobaan yang riil pada kemanusiaanNya dan sudah tentu kodrat manusiaNya menderita, takut akan penderitaan di salib, baik secara fisik maupun rohani. Dijadikan dosa dan ditinggalkan Bapa merupakan kesengsaraan terbesar dan menyebabkan penderitaan yang tak terkatakan atas kemanusiaanNya yang kudus dan tanpa dosa. Ia tidak perlu sanggup berdosa untuk mengesahkan penderitaan dari pencobaan ini. Penderitaan pencobaan ini akan lebih kuat pada kemanusiaanNya yang tanpa dosa dari pada apa yang dapat dipahami kemanusiaan yang berdosa. Menderitakan kehadiran dosa lebih hebat rasanya pada Seorang yang tidak dapat berdosa dan yang tidak berdosa dari pada mahluk hidup berdosa. Juga harus diingat bahwa pencobaan bukan dosa, tetapi menyerah pada pencobaan itulah dosa.
Pengajaran bahwa Allah Bapa dan malaikat di Sorga berada dalam keterangan selama kehidupan Kristus di bumi, ketakutan jangan-jangan Anak Manusia jatuh dan berdosa, mengecilkan nasihat dan maksud penebusan oleh Allah. Ini mengecilkan watak Allah dalam atribut esensialNya dan moralNya. Rencana keselamatan sudah dihasilkan dalam musyawarah ke-Allahan yang kekal dan tidak ada kemungkinan untuk gagal di pihak Anak Allah (1 Petrus 1:19-20; Mazmur 40:5-8; Ibrani 12:1-4. 13-20).
e. Alasan-alasan Yesus Menderitakan Pencobaan.
Kami sekarang akan menjawab keberatan-keberatan mengenai maksud Yesus menderitakan pencobaan bila Ia tak mungkin dapat berdosa. Yesus memang menderitakan pencobaan dan oleh sebab itu Ia dapat menguatkan dan menghiburkan semua orang percaya yang dicobai.
(1) Ia menderitakan pencobaan demi perkembangan kemanusiaan yang penuh dan komplit. Waktu kemanusiaan Yesus bertumbuh dalam hikmat dan semakin besar dan makin berkenan kepada Allah dan manusia (Lukas 2:52), Ia belajar dengar-dengaran pada hal-hal yang Ia deritakan (Ibrani 5:8). Ia berkembang secara rohani, mental dan fisik. Ia menderitakan kelemahan tanpa dosa, Ia menderitakan pencobaan dalam kodratNya manusia dan membuktikan DiriNya sempurna. Apa yang Ia deritakan dalam kodrat kemanusiaanNya, di dalam pengalamanNya menambahkan kelengkapan pada kodrat Ilahi, karena Pencipta itu satu dengan ciptaan, yang Ilahi satu dengan yang manusia.
(2) Ia menderitakan pencobaan supaya diperkenankan Allah BapaNya. Yesus dari Nazaret adalah Manusia yang diperkenankan Allah. Jadi Bapa berbicara dari Sorga dan menempatkan perkenanNya atas AnakNya yang dikasihiNya. Anak tidak menggunakan prerogatif IlahiNya terpisah dari kehendak Bapa, tetapi tunduk dan patuh kepada BapaNya, oleh Roh, untuk semua keberadaanNya, semua yang dikatakanNya dan yang dilakukanNya.
(3) Ia menderitakan pencobaan untuk mempertunjukkan kepada rombongan iblis akan kemanusiaan yang sempurna. Iblis menaklukan Adam, manusia pertama, melalui pencobaan, dan dengan cara yang sama telah menaklukkan semua manusia sejak itu. Yesus adalah permulaan “ciptaan baru” dari Allah (Wahyu 3:14). Iblis menggunakan yang terkuat dari pencobaannya untuk membujuk Yesus agar berdosa. Iblis beserta semua kekuatan iblisnya gagal oleh ciptaan ini yaitu Manusia-Allah. Ia adalah ciptaan dimana tidak ada respons pada dosa. Ini adalah wahyu kekalahan dosa yang akan datang, atas penulisannya dan atas keseluruhan kerajaan yaitu di salib (Kolose 2:14-17). Allah sangat disenangkan dengan ManusiaNya yang sempurna, karena Ia merupakan contoh dari banyak anak yang akan datang (Roma 8:20-28).
(4) Ia menderitakan pencobaan supaya menjadi Imam Besar yang berkemurahan. Karena imam diambil dari antara manusia dan dirupai untuk manusia, ia harus seorang yang disentuh dengan perasaan kelemahan manusia yang ia layani. Yesus Kristus diambil dari kalangan manusia untuk maksud yang sama (Ibrani 4:14-16). Ungkapan “turut merasakan kelemahan-kelemahan kita” berarti bahwa Kristus dapat bersimpati dengan kita dalam pencobaan dan percobaan kita. Kristus, sebagai Manusia-Allah, beridentifikasi dengan manusia dalam hakekat manusiaNya, dengan ketidak-berdosaan dalam kelemahan. Apakah Kristus dapat atau tidak dapat berdosa, faktanya adalah Ia tidak berdosa. Sekiranya Ia beridentifikasi dengan kita dalam dosa, Ia tidak akan pernah dapat menjadi Juruselamat kita. Inilah perbedaan yang kekal diantara Kristus dan kita. Inilah identifikasi terbatas Manusia-Allah dengan kita, sebagaimana hubungan diantara Pencipta dan ciptaan dan diantara Juruselamat dan orang berdosa ada hubungan perbedaan dan keterbatasan. Ia selamanya Manusia-Allah dan kita selamanya manusia yang ditebus. Satu-satunya jalan Ia beridentifikasi dengan kita dalam dosa kita adalah waktu Ia menanggungkan kita kepada DiriNya di salib. Dalam hal Yesus menderitakan pencobaan, percobaan dan ujian, Ia sanggup menjadi Imam Besar yang berkemurahan dan yang bersimpati dengan kita. Harus diingat bahwa Ia bersimpati dengan kita di dalam pencobaan kita, bukan di dalam keberdosaan kita.
Pertanyaan yang dapat ditanyakan:
“Haruskan dokter sendiri menderita penyakit yang hebat yang sama sebelum ia dapat bersimpati dan menolong seorang yang sakit ?”
“Apakah seorang harus menjadi pecandu alkohol atau pelacur sebelum ia dapat menolong dan bersimpati dengan mereka yang terbelenggu sedemikian ?”
Apakah seorang hakim harus dipersalahkan dalam kriminalitas yang sama sebelum ia menghakimi secara benar orang lain?”
Atau “Apakah Yesus harus berdosa atau dapat berdosa sebelum Ia dapat menolong dan bersimpati dengan orang berdosa?”
Mengatakan bahwa oknum-oknum ini akan menjadi lebih bersimpati bila kasus mereka sama, sama dengan mengatakan bahwa Yesus akan lebih bersimpati kepada kita sekiranya Ia telah berdosa. Yesus memang menderitakan pencobaan dan percobaan, dan karena itu Ia dapat menguatkan dan menghibur serta bersimpati kepada kita dalam percobaan dan pencobaan kita.
(5) Ia menderitakan pencobaan agar supaya dapat memberikan pertolongan kepada orang percaya yang dicobai. Karena Ia menderitakan pencobaan, Ia tahu apa yang kita jalani dan dapat memberi kekuatan, kasih karunia dan kemurahan untuk menolong kita waktu kita membutuhkannya. Ia telah berjanji bahwa Ia tidak akan membiarkan kita dicobai lebih dari apa yang dapat kita sanggup pikul tetapi dengan pencobaan itu Ia akan mengadakan jalan keluar supaya dapat menanggungnya (Ibrani 2:18; 4:14-16; 1 Korintus 10:13).
(6) Ia sekarang telah berada dibalik semua pencobaan dan demikian nanti semua orang percaya. Sejak kebangkitanNya dan pemuliaan dari KemanusianNya yang tidak berdosa dan tak dapat rusak, Kristus telah ada di balik semua pencobaan. Tubuh kemuliaanNya tidak lagi tunduk pada kekurangan tanpa dosa dan kelemahan kodrat manusia. Ia tak pernah tidur atau tertidur. Ia tak pernah letih. Ia tak perlu makan atau minum. Ia hidup dalam kuasa dari kehidupan tak berakhir. Tubuhnya adalah contoh dari apa yang akan terjadi pada tubuh orang percaya pada kedatangan Kristus (Filipi 3:20-21; 1 Tesalonika 4:15; 15-18; 1 Korintus 15:51-57).
f. Ke-Allahan dan Kemanusiaan Kristus.
Faktor utama lainnya yang harus dipertimbangkan adalah fakta persatuan ke Allahan dan kemanusiaan Kristus. Seperti yang dicatat sebelumnya, pembedaan diantara Adam dan Yesus dan semua manusia lain tak dapat dilupakan. Adam sebagai anak Allah yang diciptakan adalah manusia, dan dengan demikian dicobai dari luar Yesus sebagai Anak Allah yang diperanakkan, adalah Manusia Allah, yang juga dicobai dari luar. Tetapi Yesus adalah Allah yang berinkarnasi, dan di dalam menjadi manusia Ia tidak pernah berhenti menjadi Anak. Keseimbangan yang indah di antara ke AllahanNya dan kemanusiaanNya harus dipertahankan.
Dalam hal ke-AllahanNya, “Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun” (Yakobus 1:13-14). Sebagai Allah yang berinkarnasi, Ia tidak ada dosa dan tak dapat berdosa. Dalam hal kemanusiaanNya, Yesus dicobai dalam segala segi bagaimana kita (Ibrani 2:18; 4:15). Sebagai manusia, Ia dapat dicobai dan terbuka pada semua jenis pencobaan luar. Tetapi karena siapa Yesus, yaitu Allah yang menjadi daging, Ia adalah kodrat Ilahi yang bersatu dengan kodrat manusia yang membawa kodrat manusia melalui pencobaan secara berkemenangan.
Memang teori bahwa Yesus dapat berdosa dalam kodrat manusiaNya, tetapi yang tak dapat berdosa dalam hal meruntuhkan rencana penebusan dari Allah. Kedua kodrat ini, walaupun dapat dibedakan, bersatu secara tak dapat dibagi di dalam satu oknum Kristus. Mempunyai kemanusiaan yang berdosa atau berpotensi untuk berdosa dan ke Allahan tanpa dosa dalam satu oknum Kristus, Allah yang memanifestasi di dalam daging, adalah suatu kemustahilan. Mengatakan bahwa Yesus dapat saja berdosa, adalah sama dengan mengatakan bahwa Allah dapat berdosa karena Ia memakaikan kemanusiaan. Ini akan membatasi kuasa Allah Yang Maha Kudus.
3. Kesaksian dari ketidak-berdosaan Kristus.
Kitab Suci membuktikan fakta tentang ketidak-berdosaan Kristus. Orang percaya ortodoks semuanya menyetujui bahwa Kristus dapat berdosa atau tidak tetapi Ia tidak berdosa. Ada banyak kesempatan bagi seorang dalam waktunya untuk menghukum Dia karena dosa tetapi tak seorangpun yang dapat melakukan sedemikian. Bukti-bukti beriktu memberi kesaksian atas kebenaran ketidak-berdosaan Yesus Kristus.
a. Kesaksian Gabriel. Gabriel mengatakan tentang Yesus sebagai “Yang Kudus” (Lukas 1:35). Ini tidak pernah dikatakan pada anak manapun yang lahir dari ras Adam.
b. Kesaksian iblis. Roh jahat mengenal Yesus sebagai “Yang Kudus” (Markus 1:24); Lukas 4:34; Matius 8:28-29). Mereka tak pernah mengatakan hal ini kepada seorang manusiapun, bahkan tidak kepada orang suci yang paling kuduspun.
c. Kesaksian Manusia.
(1) Ia dikatakan sebagai Anak Yang Kudus (Kisah 4:27,30).
(2) Pilatus tidak menemukan suatu kesalahanpun padaNya (Yohanes 18:38).
(3) Isteri Pilatus bersaksi bahwa Ia adalah “orang benar” (Matius 27:19).
(4) Pencuri yang hampir mati mengenal Yesus sebagai tidak layak untuk mati (Lukas 23:4).
(5) Kepala pasukan mengakui Yesus sebagai “Orang Benar” (Lukas 23:47).
(6) Herodes juga mengatakan bahwa Ia tidak berlayak untuk mati (Lukas 23:15).
(7) Yudas mengetahui bahwa ia telah menjual “darah yang tidak bersalah” (Matius 27:4).
d. Kesaksian Allah. Bapa juga bersaksi dari Sorga akan perkenanNya atas AnakNya yang diperanakkan. Tak ada orang lain yang pernah mendapat persetujuan Ilahi dan Sorgawi seperti itu (Matius 3:15-17; 17:1-5).
e. Kesaksian Kristus.
(1) Yesus menantang setiap orang untuk menyatakan dosaNya (Yohanes 8:46).
(2) Yesus juga mengatakan bahwa penguasa duni ini sedang datang dan ia tidak berkuasa atasNya, tak ada persamaan denganNya, bahwa tak ada sesuatupun di dalam Dia yang menjadi milik iblis (Yohanes 14:30 Amplified). (Baca juga Yohanes 8:29; 15:10; 17:4). Ini berarti bahwa kesaksian ini benar atau Yesus yang berdusta atau menipu diri. Tak seorangpun yang pernah sanggup membuat klaim sedemikian.
f. Kesaksian Rasul-Rasul.
(1) Paulus mengatakan “Dia tidak mengenal dosa” (2 Korintus 5:21).
(2) Petrus mengatakan “Ia tidak berdosa” ( 1 Petrus 2:21-22).
(3) Yohanes mengatakan “Di dalam Dia tak ada dosa” (1 Yohanes 3:5).
(4) Ibrani mengatakan bahwa Ia dicobai dalam semua segi, seperti kita, “tetapi tanda dosa” (AV) atau “terpisah dari dosa” (Ibrani 4:15).
(5) Dia adalah suci (1 Yohanes 3:3).
(6) Ia yang lahir dari Allah tak dapat berdosa sebab benih dari Allah tinggal di dalam Dia (1 Yohanes 3:9). Bila ini demikian pada orang percaya, lebih lagi adalah benar terhadap Dia, Anak Allah.
(7) Yesus adalah “saleh, tanpa salah, tanpa noda, terpisah dari orang-orang berdosa” (Ibrani 7:26-27).
(8) Ia adalah persembahan “yang tak bercacat” waktu dikorbankan dalam persembahan (Ibrani 9:14; 1 Petrus 1:19-20).
g. Kesaksian dari Hukum Taurat. Korban-korban karena dosa dalam Perjanjian Lama membayangkan korban Kristus untuk dosa. Ketidak-berdosaan Kristus dinyatakan dengan tegas dalam pemikiran-pemikiran berikut.
(1) Allah mengambil binatang yang tak bersalah dan tak berdosa untuk mati bagi manusia yang bersalah dan berdosa. Tak ada binatang yang pernah berdosa, atau dapat berdosa.
(2) Semua korban harus “yang sempurna agar dapat diterima (AV)” (Imamat 22:21). Kata “sempurna” berarti “tanpa cacat, lengkap, penuh, tulus”.
(3) Korban-korban harus “tanpa cela” untuk dipersembahkan kepada Allah (Bilangan 19:2, 28:3, 9,11 dengan Ibrani 9:14; 1 Petrus 1:19-20).
(4) Korban-korban harus “tidak bercacat” (Keluaran 12:5; 29:1, Imamat 4:3, 23, 28:32).
(5) Malahan di dalam “Persembahan karena dosa”. Allah menekankan bahwa persembahan karena dosa itu harus “persembahan maha kudus” (Imamat 4; 7:1; Lukas 1:35).
Tetapi kodrat hewan tidak dapat mendamaikan kodrat manusia. Hewan hanya dapat digunakan sebagai korban pengganti sampai kodrat manusia yang sempurna tanpa dosa dari Yesus dapat dipersembahkan dalam karya pendamaian di salib. Sistem korban hukum Taurat menjadi tipe Yesus yang walaupun sebagai persembahan karena dosa, namun harus tak berdosa.
h. Kesaksian Mazmur. Mazmur Mesianik berbicara mengenai Kristus sebagai yang benar dan yang kudus. Mazmur-mazmur ini menubuatkan kedatangan Kristus yang akan menjadi Juruselamat Israel dan dunia yang tak berdosa. Mazmur-mazmur ini juga menubuatkan bagaimana Ia akan dipersembahn sebagai persembahan untuk keselamatan kita (Mazmur 40:6-10; 16:8-11; 22:1-31).
i. Kesaksian Nabi-Nabi. Nabi-Nabi menubuatkan kedatangan Penebus, yang akan menjadi “Tunas Yang Adil” Kerajaan Daud yang akan menjadi jiwaNya yang tak berdosa sebagai “korban untuk dosa”, dan oleh sebab itu menjadikan “Tuhan Kebenaran Kita”. Ini menubuatkan mengenai ketidak-berdosaan Kristus. Nubuat-nubuat ini mengungkapkan pengetahuan sebelumnya dari Allah Yang Maha Kuasa mengenai inkarnasi dan ketidak-berdosaan Kristus. (Yeremia 23:5-6; Yesaya 53:10; Zakharia 3:8-9; 6:12-13).
j. Argumentasi dari Kristologi.
(1) Kristus adalah Allah yang berinkarnasi, Allah yang memanifestasi di dalam daging, Allah yang memakaikan kepada DiriNya kemanusiaan.
(2) Waktu menjadi manusia Ia tidak mengesampingkan atribut esensial atau moralNya, tetapi menundukkan DiriNya kepada kehendak Bapa untuk semua keadaanNya, semua yang dikatakanNya dan semua yang dilakukanNya.
(3) Persatuan kodrat Ilahi dan yang manusiawi dalam satu oknum Kristus memungkinkan ketidak-berdosaan Kristus, walaupun dicobai dalam semua segi seperti kita.
Kesaksian Kitab Suci adalah lengkap. Walaupun lahir dari perawan Maria, dimana ia sendiri orang berdosa dan perlu penebusan, namun Yesus tidak mewarisi kemanusiaan yang berdosa. Allah menghasilkan “sesuatu yang bersih” dari perempuan itu (Ayub14:4; 15:14; 25:4). Ketidak-berdosaan kemanusiaan Yesus adalah hasil mujizat.
Dr. Charles A. Ratz dalam \The Person of Christ\” mengutip inskripsi Latin kuno yang dipahatkan di marmer, yang ditemukan di Asia mengenai iman akan Tuhan Yesus Kristus, kekristenan abad pertama. Tulisan itu berbunyi :
Aku ada (sekarang) apa yang aku ada (dulu) – Allah.
Aku ada (dulu) bukan yang Aku ada (sekarang) – manusia.
Aku ada sekarang keduanya disebut, Allah dan Manusia.
Kristus yang sebenarnya sebagai Manusia-Allah adalah \”Mediator yang lebih baik\” dari \”Perjanjian yang lebih baik.\”
[END] @2003-2004.(Dari buku yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Majelis Pusat GPdI dan diperbanyak oleh Departemen Literatur dan Media Massa).”
