Warning: include(/hermes/bosoraweb178/b1745/ipw.gpdiworl/public_html/v7/wp-content/plugins/wp-super-cache/wp-cache-base.php) [function.include]: failed to open stream: No such file or directory in /hermes/bosnaweb08a/b1745/ipw.gpdiworl/public_html/v7/wp-content/plugins/wp-super-cache/wp-cache.php on line 53

Warning: include() [function.include]: Failed opening '/hermes/bosoraweb178/b1745/ipw.gpdiworl/public_html/v7/wp-content/plugins/wp-super-cache/wp-cache-base.php' for inclusion (include_path='.:/usr/local/lib/php-5.2.17/lib/php') in /hermes/bosnaweb08a/b1745/ipw.gpdiworl/public_html/v7/wp-content/plugins/wp-super-cache/wp-cache.php on line 53

Warning: include_once(/hermes/bosoraweb178/b1745/ipw.gpdiworl/public_html/v7/wp-content/plugins/wp-super-cache/ossdl-cdn.php) [function.include-once]: failed to open stream: No such file or directory in /hermes/bosnaweb08a/b1745/ipw.gpdiworl/public_html/v7/wp-content/plugins/wp-super-cache/wp-cache.php on line 70

Warning: include_once() [function.include]: Failed opening '/hermes/bosoraweb178/b1745/ipw.gpdiworl/public_html/v7/wp-content/plugins/wp-super-cache/ossdl-cdn.php' for inclusion (include_path='.:/usr/local/lib/php-5.2.17/lib/php') in /hermes/bosnaweb08a/b1745/ipw.gpdiworl/public_html/v7/wp-content/plugins/wp-super-cache/wp-cache.php on line 70
Doktrin Tentang Allah – Theology (2) | GPdIWorld
Friday October 31st 2014

Doktrin Tentang Allah – Theology (2)

Author : | This author have 260 posts

Alkitab menggambarkan keadaan dasar Allah sebagai berikut :

3.1 Allah itu adalah Roh adanya, Yohanes 4:19-24. Alkitab mengajarkan bahwa substansi manusia adalah rohnya, yakni ‘nafas hidup – neshamah’ yang datang dari Allah, Kejadian 2:7; Yohanes 6:63; Yakobus 2:26. Alkitab juga mengajarkan bahwa ada mahluk-mahluk roh yang diciptakan surga dan dunia roh, Kolose 1:16; Ibrani 1:7; Mazmur 104:4. Tetapi semua itu adalah roh-roh (mahluk roh) ciptaan. Allah adalah Roh; Ialah ‘ADA’ yang mencipta dari yang tidak ada menjadi ada. Dengan kata lain, Allah itu adalah Roh yang mencipta segala sesuatu, termasuk roh-roh ciptaan itu. Tentunya Roh Allah itu berbeda dengan roh-roh ciptaan lainnya.
Itulah sebabnya Westminster Cathecism mendefinisikan Allah sebagai berikut: “Suatu Roh, tak terbatas, keadaan yang tak dapat berubah, hikmat, kuasa, kesucian, keadilan, kebaikan dan kebenaran”.

Perlulah diberi gambaran umum dari wujud Roh itu. Sehingga dengan menyebut ‘Allah itu Roh adanya’, dapatlah digambarkan idea rohani tentang Roh itu. Gambaran umum dari ujud Roh itu yakni:
a. Roh itu tidak dapat dilihat manusia. Roh memang tidak terlihat oleh manusia biasa, tetapi bukan tidak mungkin terlihat. Malaikat-malaikat dapat sewaktu-waktu terlihat, roh-roh jahat pun demikian, Wahyu 13:1; 11:1; 17:8. Tetapi Allah yang adalah Roh adanya tidak dapat dilihat oleh seorang manusiapun, kecuali Yesus Kristus Putra-Nya yang tunggal itu, Ulangan 4:12; Yohanes 1:18; 6:46.
b. Roh itu tidak kelihatan karena tidak terhampiri. Roh-roh lain dalam dimensi alam roh itu dapat terlihat. Tetapi Allah bukan sekedar ‘mahluk’ rohani yang tak terlihat oleh mata jasmani, Yohanes 3:6-8, melainkan tak terlihat karena tak terhampiri. 1 Timotius 6:16 (lihat penjelasan lebih lanjut dalam: Allah itu Api…).
c. Roh itu ada dimana-mana – Maha Ada. Melebihi konsep manusia tentang ruang, Kejadian 1:2; Mazmur 139:7cf; Wahyu 1:4.
d. Roh itu tahu segala sesuatu – Maha Tahu. Karena Ia ADA, maka Ia pasti tahu segala sesuatu, 1 Korintus 2:10-11.
e. Roh itu Maha Benar. Ialah Roh Kebenaran itu, 1 Yohanes 5:9.
f. Roh itu supra dinamika, Zakaria 4:6; Kisah Para Rasul 1:8; Ayub 42:2.
Selain mencipta, Allah yang Roh adanya menembusi alam rohani dan alam jasmani; mengatur harmoni alam rohani oleh hukum rohani dan harmoni alam jasmani oleh hukum alam; mengatur harmoni antara alam rohani dan alam jasmani.
g. Roh itu sumber kehidupan, Kejadian 2:7; Ayub 34:14-15; Roma 8:10-11.

3.2 Allah itu sempurna, Ulangan 32:4; 2 Samuel 22:31; Mazmur 18:31; 19:8; Matius 5:48. Suatu ungkapan prinsipil tentang pribadi Allah adalah kata ‘sempurna’. Ketika Lucifer diciptakan, dikatakan: “Gambar dari kesempurnaan engkau, . . .” Yehezkiel 28:12. Bahkan ditambahkan: “engkau tak bercela ditengah kelakuanmu”, Yehezkiel 28:15. Tetapi kata sempurna itu menjadi nisbi. Juga oleh nilai yang ada diantara manusia sejak ia diciptakan, maka kata sempurna itupun menjadi nisbi. Jadi kata ‘sempurna’ yang dipakai untuk malaikat dan manusia itu menjadi nisbi dan tidak dapat dipakai untuk memberi gambaran kesempurnaan pribadi Allah itu (simak baik-baik rangkaian kata dari ayat -ayat referensi diatas tadi).
Hampir tidak ada kata yang cocok untuk menerangkan keadaan dasar kesempurnaan pribadi Allah itu. Ada satu frasa yang dapat dipakai, yakni: “Maha sempurna”. Kata ‘Maha sempurna’ itu hanya dapat digambarkan orang bila ia dapat membuat gambaran dari gabungan sifat-sifat moral Allah. Kesempurnaan Allah ini sedemikian rupa sehingga tidak ada kesempatan atau celah bagi seorang theolog untuk mencari alasan bahwa dosa itu berasal dari Allah.

3.3 Allah itu Api Yang Menghanguskan – Terang – Tak terhampiri. Salah satu keadaan dasar pribadi Allah yakni: ‘Allah itu tak terhampiri’, 1 Tesalonika 6:16. Sebenarnya ‘tak terhampiri itu’ karena Allah bersemayam dalam terang. Jadi Allah itu adalah ‘terang yang tak terhampiri’. Sedangkan terang itu datang dari sumbernya, yaitu api. Makin besar api itu, makin tak terhampiri ia, karena sifatnya yang menghanguskan, Daniel 3:23. ‘Api’ itu menunjuk pada ‘kekudusan’ Allah, karena kekudusan Allah itu mutlak, maka Ia itu bagaikan ‘api yang menghanguskan’, Ibrani 12:29; Keluaran 24:17; 33:20cf; Yesaya 10:17. Api itu menghasilkan terang – Allah itu disebut ‘Bapa segala terang’, Yakobus 1:17. Dimana ada terang disana tak ada kegelapan dan segala sesuatu menjadi kelihatan. Tetapi justru sumber terang itulah yang menyilaukan. Sedemikian terangnya atau menyilaukannya Allah itu sehingga ‘tak kelihatan’ oleh mata manusia.
Kekudusan Allah itu membinasakan manusia berdosa, Keluaran 3:2-5; 33:20; 1 Samuel 6:19-20; 2 Samuel 6:6-7; Yesaya 6:3-5. Tepatlah ungkapan itu bahwa Allah itu ‘Api yang menghanguskan, Terang yang tak terhampiri’

4. Sifat-sifat (attributes) Allah. Sifat itu berarti: peri keadaan yang menurut kodratnya ada pada sesuatu; atau dasar watak; tabiat. Jelas sekali, sebagai pribadi manusia itu mempunyai sifat-sifat, yakni peri keadaan yang menurut kodratnya ada pada manusia. Demikian pula Allah. Untuk mengenal pribadi Allah, perlu bagi orang percaya mengenai sifat-sifat Allah.
Karena banyaknya sifat-sifat Allah, maka sepanjang zaman pergumulan theologia, para theolog pada umumnya membagi sifat-sifat Allah itu dalam dua bagian besar. Tetapi pembagian kedalam dua bagian besar itupun berbeda-beda menurut sudut pandang masing-masing penafsir. Lihat dibawah ini diberi gambaran perbedaan sudut pandang tersebut :

Atribut natural dan atribut moral. Atribut natural itu bersifat ada pada diri sendiri (self existence), seperti ketidak-terbatasan, kesederhanaan, dan seterusnya. Atribut moral itu erat kaitannya dengan kehendak Allah, seperti kebaikan, belas kasih, keadilan dan seterusnya.
Atribut absolut dan atribut relatif. Atribut absolut dimiliki oleh esensi ke-Allahan yang mutlak. Sedangkan atribut relatif dimiliki oleh esensi ke-Tuhanan yang dalam hubungannya dengan manusia ciptaanNya.

Atribut yang incommunicable dan atribut yang communicable. Atribut yang incommunicable adalah atribut yang tidak ada pada mahluk ciptaan. Sedangkan atribut yang communicable adalah atribut yang ada pada mahluk ciptaanNya.
Masih ada lagi pembagian dalam nuansa yang berbeda. Tetapi yang tiga tadi sudah cukup memberi gambaran bagaimana usaha para penafsir Alkitab untuk memahami sifat-sifat Allah.

Dalam theologia sistimatika GPdI yang asli, yang dikenal dengan istilah ‘Pelajaran Alasan’, sifat-sifat Allah itu tidak dibagi secara kelompok seperti diatas. Sifat-sifat Allah itu dideskripsikan satu demi satu secara singkat satu demi satu sesuai pokoknya, lalu diberi ayat-ayat referensi. Tetapi justru setelah sifat-sifat itu diuraikan, nampaklah bahwa sifat-sifat Allah itu erat kaitannya dengan keselamatan manusia. Dari sifat-sifat (atribut) Allah itu, nampaklah rencana, methode dan maksud dari usaha Allah menyelamatkan manusia. Jadi, penguraian sifat-sifat Allah itu mengikuti pola yang ada dalam ‘Pelajaran Alasan’ tersebut. Sifat-sifat Allah itu yakni:

4.1 Allah itu kekal. Pengertian kekal disini erat kaitannya dengan waktu. Sedangkan pemahaman waktu pada manusia itu ada karena dosa. Oleh dosalah maka manusia menjadi fana. Oleh dosalah maka manusia mengenal masa lalu dan masa yang akan datang. Memang sebelum ada dosa di bumi ini, Alkitab telah memakai istilah-istilah waktu ‘hari pertama’, Kejadian 1:3-5; ‘hari kedua’, Kejadian 1:6-8; dan seterusnya. Tetapi istilah waktu itu sebenarnya hanya menunjuk pada pentahapan penciptaan Allah. Sebab sebelum pentahapan penciptaan itu , Kejadian 1:1-2 Allah memang sudah melakukan penciptaan itu. Itulah kekekalan masa lalu itu (The eternal past).
Allah itu kekal. Allah itu sudah ada sebelum kekekalan masa lalu itu. Allah sudah ada sebelum adanya konsep tentang waktu, Kejadian 1:1; Yohanes 1:1; Mazmur 93:2.

Masih ada satu aspek waktu, yakni masa yang akan datang. Ukuran waktu inipun dilihat dari sudut pandang kefanaan manusia akibat dosa. Karena manusia tidak dapat mengukur waktu yang akan datang itu, maka ia disebut ‘kekal’. Jadi waktu kekal yang akan datang itu disebut ‘kekekalan masa yang akan datang’ – ‘eternal future’; atau ‘everlasting’ – tak berkesudahan.
Allah itu kekal, masa lalu maupun masa yang akan datang, Kejadian 21:33; Ulangan 33:27; Mazmur 9:8; 29:10; 45:7; 90:2; Yesaya 40:8; Yeremia 10:10; Roma 16:26; 1 Timotius 1:7; 6:16; 1 Petrus 5:10; Yesaya 44:6; 48:12; Wahyu 1:17; 10:6; 15:7; 22:13. Kekekalan masa lalu itu milik Allah. Tetapi kekekalan masa yang akan datang, dalam bentuk hidup yang kekal itu diwariskan kepada orang-orang percaya yang takut dan setia kepadaNya, Matius 19:29; Lukas 18:30; Yohanes 3:16. Tetapi orang yang tidak percaya kepadaNya akan dihukum dengan hukuman yang kekal, Daniel 12:2; Matius 18:8; 25:41, 46.

4.2 Allah itu tidak berubah. Selain kekal, Allah itu tidak berubah. Ada sebuah ungkapan tentang Allah, yakni; Allah itu ‘Gunung Batu’, Mazmur 18:3; 31:4; 40:3; 42:10; 71:3; 78:16, dengan berbagai tambahan, misalnya: Tempat Berlindung, Perisai; Tanduk Keselamatan; Kota Bentengku! Maksudnya, sebagaimana Gunung Batu itu tidak berubah oleh perubahan cuaca dan pengaruh eksternal lainnya, sehingga dapat diandalkan, analogi berjenjang itu ditujukan kepada Allah yang tidak dapat diubah oleh apapun juga, Maleakhi 3:6; Ibrani 13:8; Yakobus 1:17.
Catatan sebagai bahan study Alkitab; Sebenarnya kata ‘Gunung Batu’ itu ditulis dengan kata ‘sela’ (Ibrani), yang sama dengan kata ‘petra’ (Grika) – ‘rock’ (Inggris) – batu (dalam arti batu yang besar sekali). Ada juga kata Grika lainnya yang berarti batu, yakni ‘lithos’, yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan ‘stone’. Kata ‘petra’ itu sendiri berarti batu yang besar sekali, sedangkan ‘lithos’ adalah batu yang kecil, yang lebih besar dari kerikil.

Karena perbendaharaan kata bahasa Indonesia yang agak miskin, maka kata ‘sela’ dan ‘petra’ ini diterjemahkan dengan kata ‘gunung batu’, Mazmur 18:3 atau ‘bukit batu’ Matius 27:60; Markus 15:46. Sayang sekali, terjemahan seperti ini bukanlah terjemahan literal, melainkan terjemahan yang sudah berisi penafsiran. Hal itu berdampak pada bagian lain dari terjemahan kata ‘petra’ ini yang diterjemahkan dengan kata ‘batu karang’, Matius 16:18; 1 Korintus 10:4, sehingga nampak sekali keganjilannya. Kalau dalam kitab Mazmur , Allah digambarkan sebagai ‘Gunung Batu’, maka dalam 1 Korintus 10:4, Yesus digambarkan sebagai ‘Batu Karang’.

Ternyata bahwa dari keterangan para ahli bahasa, bahwa penerjemahan kata ‘petra’ menjadi ‘batu karang’ – ‘cliff’ (Inggris), diambil dari latar belakang Yunani sekular yang tidak ada kaitannya secara langsung dengan Alkitab. Banyak bagian dalam Alkitab yang diterjemahkan seperti ini, yakni dalam Alkitab terjemahan baru. Akibatnya, sering terjadi banyak salah penafsiran terhadap Alkitab itu sendiri. Seterusnya, terjadi banyak kesesatan. Hal ini merupakan peringatan kepada mereka yang ingin belajar Alkitab !

Pembuktian bahwa Allah itu tidak berubah, bukanlah pada penampakannya (Theopany). Yesuspun demikian walaupun Ia disebut tidak berubah, Ibrani 13:8, yang dalam penampakan-penampakanNya (Khristophani) sering berubah. Ketidak-berubahan Allah itu sangat sulit dipahami bila membicarakan sifat-sifat Allah yang mutlak itu. Nampaknya untuk memudahkan pemahaman, maka ketidak-berubahan Allah itu dilihat secara berjenjang: Ketidak-berubahan hukum Allah, Mazmur 93:5.

Hukum Allah itu tidak berubah. Sebab bila hukum Allah itu berubah, maka hukum itu tidak dapat menjadi patokan hidup. Bukti-bukti bahwa hukum Allah itu tidak berubah, yakni: dalam pertobatan orang Niniwe (kitab Yunus). Walaupun Allah sudah menentukan pembinasaan terhadap kota itu, tetapi ketika raja dan penduduknya bertobat, Allahpun mengampuni mereka, Yunus 3:10; 4:2. Hukum keselamatan itu tidak berubah: ‘Pendosa yang menjadi percaya dan bertobat itu diampuni’, Yehezkiel 18:3; 21-23; Markus 16:16; Kisah 2:37-38. Isteri Lot yang menjadi tiang garam, Kejadian 19:26; Lukas 17:32. Inipun merupakan bukti ketidak berubahan hukum keselamatan Allah, yakni ‘Orang benar yang berpaling dari Allah, kehilangan keselamatannya’, Yehezkiel 18:24, 26; Ibrani 6:3-6; 10:26-31. Hukum keselamatan Allah itu tidak berubah dan berpusat kepada Kristus, Ibrani 9:22; Yohanes 14:6; Matius 26:27-28.

Ketidak berubahan Firman Allah, Yesaya 40:6-8; Matius 5:18; 24:35; Lukas 21:33; 1 Petrus 1:24-25. Firman Allah itu dikatakan sebagai ‘kebenaran’ – aletheia (Grika), Yohanes 17:17. Artinya bahwa Firman Alah itu tidak berubah, permanen, tetap, kekal, sehingga dapat dijadikan ukuran. Itulah sebabnya ada hukuman bagi mereka yang menambah-kurang Firman Allah, Ulangan 4:2; 12:32; Amsal 30:6; Matius 5:19; Wahyu 22:18-19.
Ketidak-berubahan Yesus Kristus, Ibrani 13:8. Yesus Kristus adalah Allah yang menjadi manusia, Yohanes 1:1, 14. Yesus Kristus yang dimaksud ini adalah Ia yang dalam lembaga ke-Allahan. Ia yang memang tidak berubah, Ialah ADA kekal yang tidak berubah itu. FirmanNya menyaksikan hal itu.
Makna utama ketidak-berubahan Allah itu, yakni: kepada manusia diberi suatu jaminan, bahwa Allah itu dapat dipercaya, menjadi sumber pengharapan, Mazmur 102:26-29.

4.3 Allah itu Maha Kuasa – Omnipotent. Pemahaman ke-Maha Kuasaan Allah itu datang dari kata ELOHIM – Allah itu sendiri. Di dalam ke-Maha Kuasaan itu terkandung ‘kedaulatan mutlak’. Tidak ada yang lebih berkuasa lagi selain Dia. Alkitab memberi kesaksian penting tentang hal ini: Kejadian 1:1; 14:19; Keluaran 18:11; Ulangan 10:14, 17; 1 Tawarikh 29:11-12; 2 Tawarikh 20:6; Nehemiah 9:6; Ayub 38; 42:2; Mazmur 22:28; 47:2-3,7-8; 50:10-12; 95:3-5; 115:3; 135:5-6; 145:11-13; Yeremia 27:5; 32:17; Matius 28:18; Lukas 1:53; Kisah 17:24-26; Kolose 1 :16-17; Wahyu 1:8; 4:8; 11:17; 19:6; 21:22.

Didalam melaksanakan ke-Maha KuasaanNya, terkandung pikiran, perasaan dan keinginan pribadi Allah yang mutlak. Tetapi ke-Maha Kuasaan Allah itu tidaklah bersifat sewenang-wenang atau diktator. Hal itu terjadi karena sifat ke-Maha Kuasaan Allah itu tidak bertentangan dengan sifat-sifat Allah yang lain, 2 Timotius 2:13. Sifat-sifat Allah itu sinkron satu dengan yang lain, seperti: kasih, kekudusan, kebenaran, keadilan, kesetiaan Allah itu sendiri.

Ada tiga bagian besar yang diperbuat Allah dalam ke-Maha KuasaanNya (lihat bab V), yakni: Allah mencipta segala sesuatu; Allah memberi hukum; Allah menentukan dan mengatur takdir manusia.
Dalam mencipta segala sesuatu, nampak jelas ke-Maha KuasaanNya, sehingga Ia disebut ‘Khalik’. Allah mencipta dunia rohani, sekaligus dengan mahluk-mahluk roh. Allah juga mencipta dunia jasmani (universe) dan mahluk-mahluk jasmani. Ada tumbuh-tumbuhan, ada binatang atau hewan, ada manusia. Ternyata dosa itu bukan ciptaan Allah. Dosa adalah suatu kondisi yang merupakan akibat perbuatan malaikat dan manusia melawan hukum Allah.

Selain mencipta segala sesuatu, dalam ke-Maha KuasaanNya itu, Allah memberikan hukum-hukumNya. Maksud pemberian hukum itu ialah supaya keserba-aneka-ciptaan itu tidak menjadi kacau balau. Allah memberikan hukum rohani dan mahluk-mahluk rohani. Allah juga memberi hukum alam untuk dunia dan mahluk-mahluk alami. Seringkali untuk membuktikan adanya Allah Yang Maha Kuasa, Allah mengizinkan terjadi mujizat. Mujizat artinya perbuatan atau kejadian yang melangkahi hukum alam. Sedangkan khusus bagi manusia, Allah dalam ke-Maha KuasaanNya memberi hukum untuk manusia, supaya ada pertangung-jawaban dari manusia (human responsibility) itu.

Bagi manusia, Allah memberi beberapa hukum, yakni:

Pertama, hukum untuk Adam di Taman Eden. Maksudnya, supaya manusia menghargai Allah dalam keterbatasannya dan tidak berbuat dosa, karena adanya kehendak bebas (free will). Kedua, hukum suara hati – conscience law. Dengan suara hati, manusia memahami ukuran baik buruk atau etika. Maksudnya, supaya manusia bersikap baik, adil dan tidak sewenang-wenang. Ketiga, hukum keselamatan. Hukum ini tidak dilaksanakan Allah secara langsung, melainkan secara tidak langsung yakni dengan perantara (korban darah) yang menunjuk kepada Yesus Kristus.

Bagian ke-Maha Kuasaan Allah yang lain adalah Allah menentukan dan mengatur takdir manusia. Manusia memang hidup dalam takdirnya dan takdir manusia itu ditentukan oleh ke-Maha Kuasaan Allah yang berdaulat penuh. Beberapa hal yang menjadi takdir manusia, yakni: takdir menjadi pria atau wanita; takdir menjadi anggota keluarga dari ayah dan ibu; takdir menjadi anggota suku atau bangsa (ras); takdir lahir di suatu tempat. Takdir-takdir ini adalah ketentuan Allah secara langsung bagi umat manusia, dalam hal ini manusia tidak dapat memilih. Manusia harus menerima apa adanya. Manusia tidak berdosa karena menjadi laki-laki atau perempuan, tidak berdosa karena menjadi bangsa A atau B, tidak berdosa karena berkulit hitam atau putih dan seterusnya. Dihadapan Allah, semua manusia itu sama.

Ada satu takdir yang tidak dikerjakan secara langsung oleh Allah, yakni takdir keselamatan manusia. Takdir keselamatan menjadi satu dengan hukum keselamatan; takdir keselamatan diatur dalam hukum keselamatan, kedua hal itu hanya lewat Yesus Kristus sebagai Juruselamat manusia. Takdir dan hukum keselamatan itu menihilkan fatalisme (fatum=nasib – Latin). Bila hukum dan takdir keselamatan bagi manusia dikerjakan oleh ke-maha kuasaan ditambah ke-maha tahuan Allah secara langsung kepada manusia, maka itulah fatalisme, Calvinisme itu fatalisme. Bila keselamatan kekal atau kebinasaan kekal manusia ditentukan oleh ke-maha kuasaan dan ke-maha tahuan Allah, maka sifat Allah yang satu ini berubah menjadi ‘ke-maha sewenang-wenangan’, karena tidak dilatar belakangi oleh sifat-sifat moral Allah yang lain.

4.4 Allah itu Maha Ada – Omnipresent. Pemahaman ini menunjuk kepada Allah yang hadir di semua tempat pada waktu atau saat yang bersamaan – maha hadir. Setan itu tidak maha hadir, tidak maha kuasa, tidak maha tahu. Ada pendapat yang mengatakan bahwa Allah itu omnipresent tetapi tidak omnibody, artinya yakni Allah hanya hadir di satu tempat, tetapi hadiratNya secara rohani ada dan dapat terasa dimana-mana. Tetapi nampaknya pandangan itu kurang tepat, sebab pemahaman omnipresent itu sebenarnya menunjuk pada kehadiranNya secara pribadi dimanapun dalam waktu yang sama. KehadiranNya secara pribadi itu disebabkan karena : Allah itu Roh adanya; Ia tak terbatas; Ia adalah ADA yang Ilahi itu; Ia Maha Besar. Beberapa ayat penting tentang ke-maha hadiran Allah itu ialah: Ulangan 4:39; 1 Raja-raja 8:27; Mazmur 139:7-10; Amsal 15:3; Yesaya 66:1; Yeremia 23:23-24; Matius 18:20; Matius 28:20; Kisah Para Rasul 17:24-28.

Dalam pergumulan theologis dari abad ke abad dipertanyakan, apakah Allah juga ada di neraka? Sebelum menjawab pertanyaan itu, perlu diingat bahwa Allah itu Immanuel yang selalu bersama-sama orang yang takut kepadaNya. Tetapi Roh Allah akan meninggalkan orang yang sengaja melawan Firman Allah dan hidup dalam dosa. Hakim-hakim 16:20; 1 Samuel 16:14; Mazmur 51:13. Walaupun demikian, Yesus pernah turun ke Hades – alam maut, tempat penampungan jiwa-jiwa orang yang mati di luar Tuhan. Turunnya Yesus ke Hades itu adalah untuk mengalahkan maut dan alam maut dan Yesus Kristus menjadi sulung kebangkitan itu.

Sedangkan neraka – gehenna, adalah tempat penghukuman kekal bagi orang-orang yang tidak percaya dan malaikat-malaikat yang berdosa. Mereka mengalami kematian kekal – eternal death, yakni terpisahnya roh manusia dari Roh Allah selama-lamanya. Karena neraka adalah tempat penghukuman dengan pemisahan hadirat Allah selama-lamanya, maka memang Allah tidak menghadirkan pribadiNya di tempat itu. Itulah penghukuman bagi semua mahluk, baik malaikat maupun manusia, yang berdosa melawan Allah. Ingat, Allah itu sumber kehidupan; jadi jelas bahwa neraka adalah tempat penghukuman bagi mahluk yang mati kekal.

4.5 Allah itu Maha Tahu – Omniscient. Pokok ini adalah salah satu bagian yang paling menarik untuk dipelajari, sebab amat erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Manusia adalah mahluk ciptaan Allah yang termulia di bumi. Manusia memiliki akal budi yang dengannya ia mengetahui sesuatu. Manusia menjadi tahu karena pengamatan, pengalaman dan informasi dari pihak lain, Matius 13:11; Markus 13:28-29; Yohanes 7:26; 10:38; 13:12; 2 Korintus 8:9; Ibrani 10:34; 1 Yohanes 2:5; 4:2. Tetapi pengetahuan manusia itu makin bertambah, Daniel 12:4, sehingga manusia sering tergoda untuk ingin menembus keterbatasan pengetahuannya itu ke ‘alam maha tahu’.

Sebenarnya manusia itu tidak tahu persis apa yang bakal terjadi, Matius 24:36cf; Yohanes 13:9-12; 1 Korintus 13:9, 12; 1 Yohanes 3:2, sebab pengetahuan manusia itu terbatas. Manusia hanya mampu menilai zaman atau dengan kata lain memprediksi atau memperkirakan, Lukas 12:54-56. Tetapi justru pengetahuan tentang masa depan itu merupakan satu bagian dari ke-maha tahuan Allah yang sangat ingin dipahami oleh manusia. Banyak sekali manusia yang akhirnya tergoda mencari tahu nasib masa depan mereka kepada roh-roh peramal, Imamat 19:31; Ulangan 18:11-12, 14, 20; 1 Samuel 28; Kisah 16:16.

Ke-maha tahuan (omniscience) nya Allah itu didasarkan pada pengetahuan Allah yang mutlak, pengetahuan Ilahi, Matius 6:8, 32; Yohanes 6:6, 64; 8:14; 11:42; 13:11; 18:4; 2 Korintus 11:31; 2 Petrus 2:9. Ia Maha Tahu karena Ia Maha Ada. Alkitab mencatat bahwa Ia Maha Tahu, Ayub 37:16; Mazmur 139:17-18; Roma 11:33-35; Ibrani 4:13; 1 Yohanes 3:20. Pengetahuan Allah yang sempurna itu terdiri dari beberapa aspek :
Allah mengetahui segala sesuatu di masa lalu.

Allah mengetahui hal-hal yang tersembunyi, Mazmur 139:1-5, 16. Allah mengetahui rahasia-rahasia alam, Ayub 38-39. Allah mengetahui pikiran dan isi hati manusia, 1 Samuel 16:7; 1 Tawarikh 28:9; Mazmur 7:10; 17:3; 44:22; 94:11; 139:23; Amsal 17:3; Yeremia 11:20; 17:9-10; Lukas 16:15; Yohanes 2:25; Roma 8:27; Wahyu 2:23. Allah mengetahui masa depan. Dalam bagian ini adalah dua hal penting, yakni : ‘Mengetahui lebih dahulu’, Kisah 2:23; 15:18; Roma 8:29; Efesus 2:7; 3:10-11; 1 Petrus 1:2, 20; dan ‘menetapkan lebih dahulu – predestinasi’, Kisah 4:28; Roma 8:29-30, 1 Korintus 2:7; Efesus 1:5, 11.

Bagian yang paling terakhir ini, atau bagian dimana Allah mampu mengetahui dan menetapkan sesuatu pada masa yang akan datang, merupakan salah satu bagian yang amat ramai diperbincangkan dalam dunia theologia. Secara lebih khusus yakni: keselamatan manusia pada masa yang akan datang. Justru hal itu sering menjadi kontroversi bila tidak dilihat dari sudut pandang yang tepat dan benar. Alkitab memberi kesaksian bahwa, dalam menentukan keselamatan manusia dimasa yang akan datang, Allah memberi hukum dan takdir keselamatan bagi manusia. Hukum dan takdir keselamatan manusia ada di dalam Yesus Kristus.

Semua konteks ayat yang bicara tentang predestinasi itu intinya adalah Yesus Kristus. Kisah 4:27-28; inti predestinasi adalah ‘di dalam Yesus Kristus’. Roma 8:28-30; inti predestinasi itu adalah ‘Yesus Kristus’. 1 Korintus 2:6-8; inti predestinasi itu adalah ‘Yesus yang disalibkan’. Efesus 1:3-14, yang di dalamnya ada ayat 5 dan 11, tercatat 4 kali ‘di dalam Yesus Kristus’; 6 kali ‘di dalam Dia’; 1 kali ‘di dalam kasih’.

‘Di dalam Yesus Kristus’ lah keselamatan manusia ditentukan, Kisah 4:12. Alkitab mencatat bahwa Yesus Kristus itu menjadi ‘Batu Penjuru’, Mazmur 118:22-23; Yesaya 28:16; Matius 21:42; Markus 12:10-11; Kisah 4:11-12; Efesus 2:20. Batu penjuru artinya: ukuran, patokan, standar. Tetapi batu penjuru itu mempunyai fungsi ganda. Bila orang tidak mau hidup dengan patokan, ukuran atau standar keselamatan itu, ‘batu penjuru’ itu pada sisi lain menjadi ‘batu sandungan’, Yesaya 8:13, 15; Lukas 20:17-18; Roma 9:32-33; 1 Petrus 2:6-8. ‘Batu sandungan’ itu juga adalah ‘batu kebinasaan’, Lukas 20:18. Yudas Iskariot adalah ‘anak kebinasaan – son of perdition’, Yohanes 17:12; Efesus 2:2; Kolose 3:6, karena ia murtad dan berbalik menyerahkan Yesus, Yohanes 13:18; 6:70-71. Binasanya Yudas Iskariot itu bukan ditentukan oleh Allah, melainkan pilihannya sendiri, ia tersandung pada ‘batu sandungan’ itu.

Bila penentuan selamat atau binasanya manusia dilakukan oleh Allah secara langsung kepada manusia, maka hal itu sama persis dengan fatalisme – percaya kepada takdir. Ya, Calvinisme itu sama dengan fatalisme. Tetapi yang benar yakni: Alkitab bersaksi dari Kejadian sampai Wahyu, bahwa hukum dan takdir keselamatan manusia itu dilakukan Allah melalui Yesus Kristus. Di dalam Yesus Kristuslah hukum dan takdir (predestinasi) keselamatan itu ada, 1 Petrus 1:20cf: 2 Timotius 1:9-10; Titus 1:2-3; Wahyu 13:8. Disinilah terbukti bahwa Allah itu bukan hanya Maha Kuasa dan Maha Tahu, tetapi juga sekaligus Maha Kasih, Maha Kudus, Maha Benar dan Maha Adil.

4.6 Allah itu Maha Benar. Menarik sekali membahas kata ‘benar’ dalam bahasa Indonesia dalam kaitannya dengan sifat-sifat Allah. Dalam bahasa Indonesia kata ‘benar’ untuk istilah theologi mempunyai dua arti penting yang saling berkaitan. Pertama: ‘Benar’ dalam arti, tidak salah, Amsal 24:24; righteous (Inggris) – tsaddiq (Ibrani) – dikaios (Grika). Kedua: ‘Benar’ dalam arti, tetap, tidak berubah, kekal; – true (Inggris) – emeth (Ibrani) – alethinos (Grika). Kedua kata dalam bahasa aslinya itu berbeda dengan pengertiannya. Tetapi saling mengisi dan melengkapi dalam penerapannya.[BERSAMBUNG...]

Be Sociable, Share!

More from category

Akhir Zaman – Eskatologi* (1)
Akhir Zaman – Eskatologi* (1)

I.Pentingnya Pelajaran Kedatangan Yesus Kedua Kali. Para malaikat berkata kepada murid-murid Tuhan ketika menyaksikan [Read More]

Kolose (21-30)
Kolose (21-30)

COLOSSIANS  21 There can be no statement of more importance to the church than that which the Apostle made concerning [Read More]

Doktrin Tentang Malaikat – Angelogy (1)
Doktrin Tentang Malaikat – Angelogy (1)

BAB I: KEBERADAAN MALAIKAT. Memang harus diakui bahwa ayat-ayat referensi tentang malaikat dalam Alkitab hanya sedikit. [Read More]

Kolose (1-10)
Kolose (1-10)

Greetings in the lovely name of our Lord Jesus Christ. It is a joy to once again be able to send you a daily study. My [Read More]

Love (111-125 – Selesai)
Love (111-125 – Selesai)

ALLAH ADALAH KASIH. #111 Besarnya ukuran satu kata sederhana BEGITU tidak dapat, ataupun tidak pernah akan terukur, [Read More]

Insider

Archives