Ibrani 11 : 24 – 30. “Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsaa dengan umat Allah daripada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. Ia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar daripada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah.”
Sebagai orang percaya Tuhan mengajar dalam perjalanan hidup kita, bukan karena pandangan mata jasmani tapi dengan pandangan mata rohani yaitu “IMAN”. Kita memerlukan iman yang hidup yaitu iman yang “melakukan dan mengalami”. Semua yang tertulis dalam Firman Allah dapat dialami/nyata terjadi dalam hidup kita asalkan dilakukan dengan iman/diimani. Segala masalah dapat dihadapai dengan iman.
Sebagai teladan bagi hidup kita adalah Musa. Dalam Ibrani 11 : 25, dikatakan bahwa setelah dewasa dia tidak mau disebut sebagai anak dari puteri Firaun di Mesir. Menjadi seorang anak raja/orang terkenal biasanya akan menjadi suatu kebanggaan tersendiri dan tentunya akan hidup senang karena segalanya melimpah, tapi Musa berbeda, dia menolak disebut sebagai anak Puteri Firaun karena Musa tahu dalam hidupnya mengalir benih bangsa Israel.
Mesir berarti hal-hal duniawi, yang bersifat dosa. Kita harus berani menolak/meninggalkan hal-hal yang Mesir punya. Dengan IMAN harus berani menolak hal-hal yang bersifat dosa sekalipun sepertinya dengan menolaknya kita akan kehilangan satu kesempatan hidup enak, tetapi Tuhan berkata kita tidak hilang kesempatan jika kita menolak Mesir, malahan kita akan dapat satu kesempatan yang lebih baik. Tuhan memang sering mengijinkan adanya kesempatan bagi kita untuk melakukan hal-hal yang tidak berkenan untuk melihat bagimana respon kita terhadap kesempatan itu, apakah kita menerima atau menolak.
Musa menolak kesempatan hidup sebagai anak raja di Mesir, dan pada akhirnya dia menjadi seorang pemimpin besar bagi bangsa Israel.
Contoh lain adalah Yusuf yang menolak kesempatan berbuat dosa dari godaan istri Potifar (Kejadian 39 : 8 – 9). Karena iman Yusuf menolak istri Potifar dan dia tetap menghormati Allah.
Dalam dunia banyak sekali kesempatan berdosa terbuka bagi kita, tetapi sebagai orang percaya kita belajar seperti Musa dan Yusuf yang mau menolak kesempatan berdosa.
Ketika mengiring Tuhan bukan secara otomatis kita tidak akan mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan bahkan di saat kita sudah setia. Jalan Tuhan bukan jalan kita. Hal tersebut adalah proses bagi kehidupan kita. Contohnya : Daud.
Mengikut Tuhan banyak salibnya, tantangan, ujian tapi janji Tuhan setia. Daud berkata ‘dulu aku muda dan sekarang aku tua, tetapi tidak pernah aku melihat orang benar dibiarkannya meminta-minta”.
Saat Musa menolak kesempatan tinggal di Mesir, bukan berarti setelah itu Musa bisa hidup enak. Alkitab mencatat Musa harus tinggal di padang gurun selama 40 tahun melewati perjalanan yang tidak mudah bahkan seringkali menerima sungut-sungut dari bangsa Israel. Musa tidak langsung menerima pahala / upahnya.
Dalam Ibrani 11 : 26, Musa menolak Mesir karena pandangannya dia arahkan pada upah/pahala yang Tuhan sudah sediakan bagi tiap orang percaya yaitu keselamatan/hidup kekal dan mahkota abadi yang tidak akan pernah rusk oleh apapun. Keselamatan tersedia bagi semua orang pecya tapi mahkota tiap orang percaya berbeda-beda tergantung pada perbuatan masing-masing orang selama di dunia.
I Korintus 15 : 58 – Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, janganlah goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.
Saat kita sudah tinggalkan kesenangan duniawi, dalam keadaaan apapun kalau kita tetap memandang Allah, kita tidak bersungut, dan kita tetap abersyukur, maka sukacita Allah akan tetap ada dalam hidup kita. Tuhan tetap pelihara sekalipun kita ada dalam lembah kekelaman maupun bukit kegirangan.
Habakuk 3 : 17 – 18. Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.
Hati-hati dalam kondisi yang kuat seringkali kita bisa jatuh, malah dalam kondisi lemah kita akan belajar untuk menjadi kuat. Di ujung cemeti ada emas, di ujung salib ada rahmat Allah bagi kita semua. Mazmur 126 : 1 – 6 –Pengharapan di tengah-tengah penderitaan.
(Kotbah Minggu, 22/07/07, GPdI Shekinah Tomang – Pdt. W.D. Saerang)
