Ini bukan kalimat jargon. Bukan pula deklarasi sektarian. Tapi itu adalah kehidupan. Dimana-mana, kehidupan adalah kesaksian terbaik dari kuasa dan mujizat. Mengapa? Kalimat ‘pantekosta heranlah’ adalah sebuah manifes iman yang menjadi kenyataan di dalam segala aspek kehidupan anak-anak Tuhan di denominasi GPdI, dimanapun berada, bahkan sampai dengan saat ini. Keheranan terjadi karena ambang batas kemampuan dan keterbatasan manusia telah dilampauhi melalui kekuatan supernatural ilahi. Inilah yang menjadi kesaksian itu: GPdI selalu diintervensi oleh sesuatu yang ilahi dan supernatural, sebagai bukti dari campur tangan dan penyertaan Tuhan yang luar biasa.
Sebetulnya, kita semua tertantang. pantekosta heranlah adalah sebuah spirit yang diwariskan ke dalam diri dan pelayanan kita dewasa ini di lingkup GPdI manapun. Kita memang tidak ingin mengulang masa lalu atau bernostalgia. Seperti dua belas batu yang didirikan sebagai tugu oleh sebuah angkatan/generasi Israel kuno saat menyeberangi sungai Yordan.
Tugu itu tetap akan menjadi batu peringatan yang hanya akan dikenang sebagai sebuah sejarah belaka ketika generasi berikutnya, tidak mampu menghadirkan dinamika yang sama. Pantekosta heranlah, hanya akan menjadi peringatan masa lalu dan tugu 12 belas batu, jika spirit ini tidak menjadi bagian dan tanggung-jawab kita bersama.
Di setiap generasi, Allah selalu bergerak dan punya cara-cara baru yang mungkin atau jelas berbeda dengan generasi sebelumnya. Kepekaan terhadap kegerakan ini yang harus kita miliki agar bukan hanya satu tugu yang kita dirikan melainkan banyak tugu peringatan tentang kegerakan Allah digenerasi kita. Tugu itu bukan hanya bukti monumental, tetapi kesaksian bahwa, pantekosta heranlah, masih ada dan menjadi sebuah spirit di dalam diri hamba-hamba Tuhan GPdI. Bukan cuma heran karena mampu merintis di daerah terpencil. Bukan juga cuma heran karena masa lalu yang dahsyat. Tetapi heran yang lebih heran dari masa lalu. Heran yang lebih heran karena kuasa Allah yang nyata semakin dicurahkan di atas diri pelayan-pelayan.
Kita menciptakan masa lalu berdasarkan apa yang kita lakukan saat ini. Jika yang terjadi saat ini benar-benar tidak ‘connect’ dengan masa lalu yang heran itu, maka kita wajib bertanya-tanya, sejarah macam apa yang hendak kita wariskan kepada generasi di depan kita. Inilah hal-hal yang jauh lebih penting daripada sekedar bangunan gereja yang bagus, berkat yang melimpah, metode pertumbuhan gereja, jabatan, nama, klan, suku, hegemoni kekuasaan, kebenaran teologis, dsb. ‘Heranlah’ adalah bagaimana di segala situasi pelayanan, campur tangan Tuhan selalu nyata!
Saya pikir kita semua patut merenungkan ini. Kita mungkin bisa mempelajari ‘keheranan’ itu melalui kehidupan dan pelayanan para hamba-hamba Tuhan GPdI di desa dan pelosok-pelosok. ‘Pantekosta heranlah’ sebagai sebuah slogan, dapat dengan mudah kita jumpai di gereja-gereja kota yang sudah bagus. Tapi ‘pantekosta heranlah’ sebagai sebuah kehidupan, hanya dapat kita jumpai di dalam diri pelayan-pelayan Tuhan di pelosok-pelosok desa terpencil. Tantangan kita adalah menjadikan slogan itu berubah menjadi sebuah kehidupan!
