Filipi 4:8 – “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”
Gelas yang berisi air setengah akan disebut “setengah kosong” oleh orang yang berpikiran negatif. Tetapi orang yang berpikiran positif akan berkata bahwa gelas tersebut “setengah penuh”. Firman Tuhan selalu mengajar kita untuk berpikiran positif. Benar hanya akan nyata jika ada hal yang tidak benar, mulia dan adil juga hanya akan kelihatan jika ada hal yang tidak mulia dan tidak adil. Hal yang suci hanya akan nyata jika ada hal yang najis. Manis pun hanya akan terasa jika ada yang pahit, dst. Sekalipun begitu, Firman Tuhan tidak menyuruh kita memikirkan hal yang tidak benar, tidak mulia, ketidakadilan, kenajisan, kepahitan dll. yang konotasinya negatif.
Orang yang berpikiran positif tidak akan terpaku pada masalah yang akan dihadapinya, tetapi ia akan menganggap bahwa jika kesulitan bertambah besar, berarti ada kesempatan untuk melihat kuasa Allah yang lebih besar lagi dinyatakan. Elia harus mengalami keringnya sungai Kerit (1 Raj. 17:7), tetapi itu berarti bahwa ia berkesempatan mengalami pemeliharaan Tuhan dengan cara yang lebih luar biasa melalui seorang janda yang minyak dan tepungnya tidak pernah habis.
Rasul Paulus pernah mengalami adanya ‘duri dalam daging’ yang sangat mengganggu kenyamanannya. Ia berdoa tiga kali kepada Tuhan supaya duri itu dicabut tetapi Tuhan tidak mengabulkannya. Paulus kemudian melihat hal itu sebagai kesempatan baginya untuk mengalami kuasa Tuhan yang sempurna (2 Kor. 12:7-10).
Abraham juga mengalami pengalaman yang secara manusia merupakan masalah yang sangat besar, yaitu ia harus mempersembahkan Ishak, anaknya yang tunggal yang dijanjikan Tuhan dan ditunggu sangat lama. Tetapi Abraham pun melihat hal itu sebagai kesempatan untuk melihat kuasa Tuhan yang luar biasa, membangkitkan orang mati – sesuatu yang belum pernah terjadi sampai zaman Abraham (Ibr. 11:19).
Berpikir positif adalah memandang sesuatu dari cara Tuhan memandang, dan hal itu akan membuat iman kita kepada-Nya semakin kuat. Iman adalah mempercayai sesuatu yang tidak terlihat, tetapi bukan tanpa pengetahuan. Maksudnya, imian adalah mempercayai sesuatu yang walaupun tidak kita lihat tapi kita kenal. Bukankah kita bisa percaya dan berharap penuh kepada Tuhan karena kita tahu dan mengenal siapa Tuhan dan apa yang dapat dilakukan-Nya? “…aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa…” (2 Tim. 1:12)
