Sebagai daerah jajahan Roma, pemungut cukai di masa itu mendapat perlindungan hukum dari kerajaan Roma. Namun, pemungut cukai disejajarkan dengan orang berdosa atau pencuri. Itulah “gelar” yang harus disandang Matius sebagai pemungut cukai. Dan heran, ketika Yesus memanggilnya, Matius segera berdiri dan mengikut Yesus!
Matius atau Lewi?
Matius adalah kata yang diangkat dari bahasa Yunani yang berarti “yang diberikan Allah”. Kita bisa menarik kesimpulan, bahwa “Matius” adalah nama yang diberikan Tuhan Yesus setelah ia mengikut Dia. Lalu siapa nama aslinya?
Lukas 5:27 (Luke 5:27) mencatat, nama si pemungut cukai itu adalah Lewi. Lewi adalah salah satu suku bangsa Israel yang mendapat tugas bekerja di rumah/Bait Allah. Jadi, Lewi ini seharusnya berada dan bekerja di Bait Allah – bukan di rumah cukai!
Dari Markus 2:14, kita mendapat informasi tambahan, bahwa Lewi ini adalah anak Alfeus. Dalam bahasa Semantik, Alfeus = Kleopas berarti “the whole glory” = “kemuliaan yang utuh/total”. Alfeus berarti “the chief of thousand” = “pemimpin seribu”. Jadi rupanya ayah Lewi adalah pemimpin di kalangan orang Yahudi; seorang kaya dan terhormat.
Orang Sakit Memerlukan Tabib
Dalam bahasa Yunani, kata “sakit” di sini ialah “ejokakos” = mengenakan/memakai nilai-nilai keburukan – bukan “sakit” secara fisik.
Meski berasal dari keluarga terpandang dan memiliki materi yang berlimpah, Lewi memiliki satu kegelisahan dan kekosongan dalam jiwa. Masyarakat mencemooh, tidak menghormati dan menghargainya. Maka tidak heran, ketika Yesus memanggilnya, ia dengan mudah dan spontan mengambil keputusan untuk meninggalkan segalanya dan mengikut Dia!
Belas Kasihan
Tuhan Yesus berkata, “yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan…” Belas kasihan ialah “mercy” = rahmat. Berbeda dengan anugerah = “grace” = kasih karunia, yang adalah pemberian Allah berkenaan dengan pengampunan dosa, tanpa syarat apapun. Jika seorang percaya dan beriman kepada Tuhan Yesus, dosanya diampuni – inilah anugerah/kasih karunia Allah.
Belas kasihan/rahmat = “eleos” berarti penghargaan Allah. Dengan menerima undangan Matius, Yesus bukan sekedar menunjukkan, Ia mau datang dan makan di rumah Matius, tetapi juga menunjukkan penghargaan Allah atas keberanian Matius mengambil keputusan untuk menyerahkan hidupnya dan mengikut Yesus.
Jadi untuk mendapat belas kasihan/penghargaan Allah, seseorang harus berani mengambil resiko sebagai akibat dari keputusannya menjadi murid Yesus. Mendengar panggilan Yesus, Matius segera meninggalkan semua, termasuk “uang dosa” yang selama ini ia nikmati. Itu sebabnya Allah sangat menghargai dia. Bisnis bila dikaitkan dengan Kekristenan, berarti TIDAK ADA kompromi. Matius meninggalkan praktek bisnis yang tidak sesuai dengan Firman Allah!
Beberapa ayat lain tentang belas kasihan/rahmat:
1. 2 Timotius 1:18 – “Kiranya Tuhan menunjukkan rahmat-Nya kepadanya pada hari-Nya…” Rasul Paulus mendoakan kiranya Tuhan memberikan rahmatNya kepada keluarga Onesiforus (ayat 16) yang telah: (i) menyegarkan jiwa Paulus; (ii) tidak malu mengunjungi Paulus ketika ia ada dalam penjara, dan (iii) melakukan banyak pelayanan di Efesus. Ketika jemaat Tuhan rela terlibat dalam pelayanan, Allah akan menunjukkan rahmat/belas kasihanNya pada hariNya, yaitu pada hari kedatangan Tuhan kembali.
2. Ibrani 4:16 – “Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” Takhta kasih karunia berbicara tentang pelayanan Yesus sebagai Imam Besar Agung (ayat 14-15). Ketika kita menghargai karya Yesus di kayu salib, dan hidup dalam kekudusan, Allah akan melepaskan rahmat/belas kasihan/penghargaanNya. Di dalamnya ada jaminan, saudara dan saya akan mendapat pertolongan tepat pada waktunya.
Ibrani 13:5B – “… Karena Allah telah berfirman: \Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Inilah janji Allah bagi setiap orang yang berani mengambil keputusan seperti Matius. Dia adalah Penolong, Penyelamat, Penghindar kita dari kesulitan! Tepat pada waktunya Ia akan melepaskan dan mengangkat kita keluar dari persoalan yang berkepanjangan.
Yesaya 65:24 – “Maka sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawab-nya; ketika mereka sedang berbicara, Aku sudah mendengarkannya.”
Yeremia 33:3 – “Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui.”
Kita mempunyai Seorang Imam Besar Agung yang berbeda dari semua imam besar yang pernah ada. Yesus adalah Imam Besar yang dapat turut merasakan segala kelemahan/keterbatasan kita, sebab Ia sendiri pernah mengalami semuanya.
Dan kepada mereka yang menghargai pekerjaan Yesus di kayu salib, Allah menunjukkan belas kasihanNya. Ia tidak akan berdiam diri melihat anak-anakNya hidup dalam pencobaan, kelemahan dan keterbatasan. Tepat pada waktunya, tepat pada saat yang dibutuhkan, jika kita berseru kepadaNya, pertolongan Tuhan akan datang – datang dari hati Yesus yang penuh dengan belas kasihan. Tuhan Yesus memberkati saudara.
“
