Ayat Pokok: Yohanes 19:25-37 Ada pemandangan yang luarbiasa di sekitar salib Yesus. Tiga orang wanita berdiri tegak dekat dengan salib Yesus. Pasti sangat dekat karena mereka dapat mendegar suara lirih Yesus yang sedang menderita di atas kayu salib. Menjadi sesuatu yang luarbiasa bahwa di tengah-tengah suasana yang penuh dengan kebencian kepada Yesus ada orang-orang yang penuh dengan keberanian menunjukkan sikap yang berbeda, justru mendekat ke salib. Mereka tidak gentar sedikitpun padahal murid-murid Yesus yang lain telah lari berhamburan meninggalkan Dia dan bersikap seolah-olah tak mengenaliNya. Bahkan ada yang menyangkal Dia. Keberanian menunjukan sikap berbeda dengan orang-orang sekeliling itu ada karena ada rasa cinta dan kasih yang sangat mendalam kepada Yesus. Berita yang mengganggu Salah satu dari ke-3 wanita tadi adalah Maria, ibu Yesus. Tak ada sepatah katapun terucap dari mulut. Maria dan mereka semua saat melihat Yesus dengan tubuh yang hancur tergantung di atas kayu salib. Apa yang ada dalam pikiran mereka terutama Maria?
Meski tak berkata-kata tapi itu adalah saat di mana Maria berada pada puncak kesakitan dan kesusahan yang ia tanggung sejak malaikat Gabriel datang membawa kabar bahwa dia akan mengandung dan melahirkan Yesus (Luk. 1:28-29). Ketika itu Maria terkejut mendengar berita Gabriel. Dalam terjemahan bahasa Inggris untuk kata “terkejut” digunakan kata “troubled, disturbed” yang artinya lebih kepada merasa terganggu. Sejak saat itu kehidupan Maria terganggu. Hati dan pikirannya selalu bertanya-tanya apa yang akan terjadi. Hati dan pikiran Maria terganggu sekaligus cemas ketika harus melahirkan anak, yang katanya adalah Anak Allah, di dalam kandang binatang. Hati dan pikiran Maria cemas dan berduka (Ingg: sorrowful) karena untuk beberapa hari ia kehilangan Yesus yang ternyata “tertinggal’ di Bait Allah (Luk. 2: 42-48). Hati dan pikirannya terganggu ketika Simeon mengatakan bahwa Yesus akan menjadi seperti pedang yang menusuk jiwanya (Luk. 2;25-35). Demikianlah Maria selalu terganggu dengan banyak kecemasan dan pertanyaan tentang apa yang akan jadi atas diri Anaknya dan atas dirinya sendiri. Belas kasih Yesus Meski tidak berkata-kata tapi tatapan Maria kepada Yesus penuh dengan cinta meski hati dan jiwanya terasa sakit seperti ditusuk oleh pedang. Dari atas kayu salib Yesus mampu melihat kedalaman hati Maria, ibuNya. Dan Ia mengerti arti kasih dari ibuNya kepadaNya meski mengalami kesusahan hati yang berat. Dia juga melihat keberanian ibuNya untuk datang dekat ke salib sementara orang lain berusaha menjauhi salib itu. Dari atas kayu salib Yesus memperhatikan Maria dan karena itu timbul belas kasihNya kepada Maria, ibuNya. Meski diriNya sendiri juga sedang sangat menderita, namun Yesus memberi penghiburan kepada Maria. Ia kemudian berkata, dan ini merupakan ucapanNya yang ke-3 saat ada di atas kayu salib: “Ibu, inilah anakmu!” dan “Inilah ibumu!” Yesus memperhatikan, Yesus menghibur Di masa-masa mendatang kita juga mengalami seperti yang Maria alami. Akan ada banyak kesusahan yang berat yang membuat kita seperti ditusuk oleh pedang. Apa yang harus kita lakukan? Jadilah seperti Maria. Meski sangat susah dan sakit baik hati maupun jiwanya, meski dikelilingi orang-orang yang membenci Yesus, namun hal itu tidak menghalangi dia untuk mendekat ke salib Yesus untuk menyatakn cinta dan kasihnya kepada Yesus. Saat menghadapi kesusahan datanglah kepada Yesus. Tetaplah berdiri tegak dan kokoh didekatNya. Cinta kepada Yesus akan mengusir segala ketakutan dan mengokohkan iman kita. Sebaliknya, Yesus pun dengan penuh kasih memperhatikan kita. Ia juga siap memberi penghiburan kepada kita. Dari atas kayu salib ada perhatian, belas kasih dan penghiburan bagi orang-orang yang mengasihi Dia.
