Roma 8:15 – “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi…”
Survey yang diadakan oleh sebuah lembaga survey di Amerika menempatkan Abraham Lincoln, presiden Amerika Serikat ke-16 sebagai Presiden Amerika Yang Terbaik. Di masa pemerintahannya, perbudakan dihapuskan dan sekitar 3,5 juta budak belian dibebaskan. Lincoln juga berhasil mempertahankan kesatuan Amerika Serikat menghadapi usaha pemisahan diri negara-negara bagian di sebelah selatan Amerika.
Hal terbesar yang diingat banyak orang adalah sikap hidup sebagai seorang Kristen yang baik yang selalu ditunjukkannya. Lincoln mengalami serangan pribadi terhadap karakternya baik dari Union, Kongres, beberapa faksi dalam Partai Republik bahkan dari kabinetnya sendiri. Ia difitnah dan dicemarkan nama baiknya. Tidak peduli apapun yang dia lakukan, akan ada orang yang tidak senang yang akan mengkritiknya. Ia menangani itu semua dengan kesabaran, pengendalian diri dan ketetapan hati yang teguh.
Lincoln punya cara untuk merespon kritikan yang ditujukan kepadanya. Pertama, ia menganggapnya ‘remeh’ dan mengacuhkannya. Kedua, ia menjawab kalau dirasa penting dan akan membuat suatu perbedaan. Ketiga, ia akan duduk dan meluapkan amarah dan emosinya dengan menulis surat-surat panjang, kemudian merobek semua surat itu dan tidak pernah mengirimkannya. Keempat, ia memandang ke sisi kehidupan yang lebih baik.
Ketika Absalom mencuri hati rakyat melalui muslihat dan bujukan, kemudian memimpin pemberontakan untuk menggulingkannya, Daud pergi dari Yerusalem bersama orang-orangnya yang setia. Sementara berjalan, seorang musuh yang menjengkelkan bernama Simei tiba-tiba muncul meneriakkan kutukan kepada Daud, bahkan kemudian melempari Daud dengan batu sambil berteriak, “Enyahlah, enyahlah, engkau penumpah darah, orang dursila.” (2 Samuel 16:5-7).
Seorang pengawal Daud bernama Abisai memberikan respon yang mungkin juga akan dilakukan oleh sebagian besar kita. Ia meminta Daud untuk mengizinkannya memenggal kepala Simei. Tetapi respon Daud terhadap permintaan itu ternyata berbeda dengan respon sebagian besar kita seandainya kita adalah Daud. Ia menanggapi dengan kasih:
“Sedangkan anak kandungku ingin mencabut nyawaku, terlebih lagi sekarang orang Benyamin ini! Biarkanlah dia dan biarlah ia mengutuk, sebab TUHAN yang telah berfirman kepadanya demikian. Mungkin TUHAN akan memperhatikan kesengsaraanku ini dan TUHAN membalas yang baik kepadaku sebagai ganti kutuk orang itu pada hari ini.” (2 Samuel 16:11-12).
Tuhan memang banyak kali mengizinkan kita mengalami kritikan atau kecaman – yang mungkin melukai kita – karena itu semua adalah bagian dari proses untuk membuat kita menjadi makin serupa dengan-Nya. Kita kehilangan rasa takut akan kehilangan; Kita belajar untuk menerima perlakuan kejam tanpa membalasnya, menerima teguran tanpa membela diri dan menjawab dengan lemah lembut apabila dimarahi. Hal itu membuat kita tenang dan kuat.
