Anak sulung biasanya dianggap istimewa, dianggap sebagai kekuatan dan permulaan kegagahan seorang bapa, juga yang terutama dalam keluhuran dan kesanggupan (Kej. 49:3). Itulah sebabnya anak sulung diberi hak yang lebih dari dari saudara-saudaranya yang lain (hak kesulungan). Anak sulung (bahkan binatang) juga disebut sebagai milik Allah yang juga harus ditebus oleh pemilik/orang tuanya (Kel. 13:12-13).
Itu sebabnya tidaklah mengherankan jika Israel menerima berkat-berkat yang luar biasa. Sebab bukankah mereka diakui Tuhan sebagai anak sulungNya? (Kel. 4:22). Begitupun Yesus disebut sebagai ‘yang sulung’ dari semua ciptaan dan yang bangkit dari kematian sehingga Dialah yang terutama (Kol. 1:15-18).
Dalam perumpamaan-perumpamaanNya, Tuhan Yesus pernah mengangkat kisah yang berhubungan dengan posisi anak sulung (yang memang merupakan alegori dari Israel). Baik kisah mengenai dua orang anak yang disuruh bapanya bekerja di kebun anggur (Mat. 21:28-32), maupun kisah yang menonjolkan bandelnya seorang anak bungsu yang hilang (Luk. 15:11-32).
Rupanya, walaupun dianggap sebagai ‘sesuatu’ yang luar biasa dan istimewa, tapi anak sulung seringkali menjadi analogi dari sesuatu yang tidak baik (khususnya jika dihubungkan dengan keberadaan Israel dan sikap/penolakan mereka terhadap Yesus).
Selama ini kita banyak mendengar bagaimana si bungsu selalu dibahas dalam kotbah-khotbah. Tetapi saya justru tertarik untuk mempelajari anak sulung dalam perumpamaan anak yang hilang ini. Sepintas lalu ia kelihatannya jauh lebih baik dibanding adiknya (si bungsu). Setidaknya ia tidak bersikap kurang ajar dengan meminta bagian harta warisan ketika sang bapa masih hidup. Ia juga tidak menghamburkan harta bapanya dengan hidup berfoya-foya. Sebaliknya, ia adalah anak yang rajin membantu bapanya.
Tetapi lihatlah juga sikapnya yang tidak mau masuk ke rumah ketika tahu bapanya mengadakan pesta besar untuk menyambut pulangnya sang adik, sehingga memaksa bapanya keluar untuk membujuknya.
Ternyata bukan hanya si bungsu, tetapi si sulung pun adalah gambaran nyata dari banyak orang percaya yang tidak suka melihat sesama orang percaya yang tadinya jatuh (tetapi yang kemudian sadar) disambut lagi dengan tangan terbuka tanpa mengungkit-ungkit kesalahannya. Menurut si sulung, tindakan bapanya telah mencederai rasa keadilannya. Harusnya si bungsu tidak diterima lagi di rumah, atau kalaupun diterima, jangan lagi sebagai anak! Mungkin dia lupa bahwa si bungsu juga adalah anak bapanya.
Hal yang paling ironis dari si sulung adalah alasan yang dikemukakannya ketika bapanya membujuk dia untuk masuk ke rumah dan ikut dalam pesta penyambutan adiknya. “…tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.” Padahal semua kepunyaan bapanya adalah kepunyaannya juga.
Tindakan yang bodoh? Jelas! Tapi, bukankah banyak juga anak Tuhan yang tidak pernah menikmati kekayaan Bapa sorgawi, semua kekayaan itu adalah bagian kita, disediakan bagi kita? KasihNya yang besar, kuasaNya yang dahsyat, kemuliaanNya yang ajaib, kerajaanNya dan kebenaranNya, semua adalah milik kita. Tapi, sudahkah kita menikmati ‘seekor anak kambing’ dari kekayaan Bapa kita?
Si bungsu terhilang tetapi kemudian kembali pulang ke rumah. Si sulung tetap tinggal di rumah bapa, setia melayani bapanya tetapi tidak pernah menikmati kekayaan bapanya. Tipe yang manakah kita?” (stand’s)
Sunday May 20th 2012
