Pesan Profetik Awal Tahun 2011.
Oleh : Pdt. Dr. Sonny Eli Zaluchu, M.Th
Secara khusus, Tuhan telah menaruh visi bahwa tahun 2011 adalah tahun kemurahan Tuhan. Lepas dari berbagai analisis kritis tentang keadaan sosial ekonomi dan politik, anak-anak Tuhan di negeri ini, justru hidup dibedakan dengan yang lain karena mereka berada di dalam masa kemurahan. Kemanapun anak-anak Tuhan pergi dan apa yang mereka kerjakan, akan berhasil karena ‘kemurahan Tuhan’ selalu berada di atas kepala mereka.
Tahun kemurahan atau juga dikenal dengan tahun rahmat identik dengan sebuah tradisi dalam bangsa Israel kuno yang dikenal dengan istilah tahun sabat. Dalam aturan keimamatan tertulis seperti berikut ini.
Enam tahun lamanya engkau harus menaburi ladangmu, dan enam tahun lamanya engkau harus merantingi kebun anggurmu dan mengumpulkan hasil tanah itu, tetapi pada tahun yang ketujuh haruslah ada bagi tanah itu suatu sabat, masa perhentian penuh, suatu sabat bagi TUHAN. Ladangmu janganlah kautaburi dan kebun anggurmu janganlah kaurantingi. (Imamat 25:3-4)
Setelah bangsa Israel bekerja mengolah tanah selama 6 tahun, maka mereka harus berhenti pada tahun yang ketujuh dan mengistirahatkan tahan itu. Selanjutnya di dalam perikop itu, mereka diperintahkan untuk menghitung tujuh kali tahun sabat dan diperoleh 49 tahun (7 x 7 tahun sabat). Tahun ke-50 setelah 7 tahun sabat itulah yang disebut sebagai tahun Yobel atau tahun pembebasan. Memasuki tahun ke-50, para Imam melepaskan berkat kepada seluruh umat Israel dan sangkakala ditiup di seantero negeri sebagai tanda memasuki tahun penuh kemurahan. Mengapa demikian? Karena di tahun Yobel dan atau di setiap tahun Sabat akan terjadi hal-hal sebagai berikut:
(a) budak-budak dibebaskan dan mereka menjadi orang merdeka, bebas menentukan nasib sendiri. Ingat, seorang budak tidak punya hak bahkan atas dirinya sendiri. Tetapi di tahun tersebut, terjadi pemulihan kedudukan dan harkat orang-orang yang selama ini terikat dengan status budaknya (Im 25:41)
(b) tanah-tanah yang selama ini digadaikan, dijual dan tidak dapat ditebus oleh pemiliknya karena tidak mampu membayarnya, dikembalikan kepada pemiliknya semula (Im 25:28)
(c) Israel menerima berkat triple portion karena mereka baru diperkenankan menabur di tahun yang ke delapan. Jadi ada semacam berkat khusus di tahun keenam yang dapat mereka nikmati selama tiga masa sehingga mereka tetap hidup dan bertahan. Hasil taburan di tahun keenam diberkati sedemikian rupa sehingga berlipat kali ganda dan mencukupi kebutuhan untuk tiga tahun ke depan (Im 25:21-22)
(d) utang-utang dihapuskan dan piutang ditiadakan. Orang-orang dibebaskan dari jerat hutang dan kewajiban melunasinya (Ul 15:1)
(e) orang-orang miskin menjadi prioritas karena diperintahkan untuk memperhatikan mereka (Ul 15:8)
Melihat sejumlah hal yang terjadi di atas, maka kita tentu berpikir, bahwa tahun sabat dan juga setiap kali Yobel berlangsung, adalah tahun yang dinanti-nantikan banyak orang Israel karena itulah kesempatan pemulihan dan berkat yang besar di dalam hidup mereka secara utuh. Tidak ada yang tidak menantikan tahun tersebut. Seandainya kita hidup di masa Israel kuno, maka kitapun pasti dengan penuh harapan menantikan untuk memasuki tahun itu untuk menerima berkat-berkatnya.
Ribuan tahun kemudian, di dalam sebuah rumah ibadat Yahudi (sinagoge), Yesus mengingatkan orang Yahudi tentang makna sejati dari tahun Yobel. Lukas menuliskannya sebagai berikut:
Selanjutnya di http://sonnyelizaluchu.blogspot.com/2010/12/2011-year-of-gods-favour.html
